Bel tanda jam pelajaran berakhir berdering, seketika membuat seisi kelas gaduh karena sudah waktunya pulang. Andra melirik jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya. Pukul setengah lima sore, ia bahkan tidak percaya bahwa ia bisa berada di sekolah sampai jam pelajaran terakhir karena biasanya ia pulang lebih awal atau nongkrong di warung kopi. “Mau cabut ke warung Kang Ujang, kaga?” ajak Rendy. “Skip dulu, lah. Lo aja duluan,” jawab Andra sambil merapikan buku-buku miliknya. Rendy mengerutkan dahi. “Akhir-akhir ini lo kayak kesambet apaan tau,” “Kenapa emang?” “Jadi kerajinan. Diajak cabut nggak pernah mau, biasanya juga ngajak cabut duluan. Terus, sejak kapan lo jadi sering pulang sekolah tepat sesaat setelah bel berdering, anjay.” Andra berdecak sebelum akhirnya ia mengangk

