Pukul empat dini hari, matahari belum naik ke atas. Udara masih terasa dingin dan pada saat itu Andra membangunkan Agatha untuk pamit pulang. Agatha membiarkan Andra pergi dan laki-laki itu tidak lupa untuk menyuruh Agatha pindah agar tidur di dalam kamarnya karena ia juga akan pergi. Mereka berpisah tanpa banyak bicara dan Andra memesan taksi online untuk bisa sampai rumah.
Andra tidak butuh waktu lama untuk menyelinap masuk ke kamar, karena ini bukan kali pertamanya pulang larut malam. Andra langsung mandi dan berganti pakaian dan sebelum lampu ruang dapur menyala satu jam kemudian, Andra sudah pergi lagi. Laki-laki itu mengeluarkan mobilnya dari garasi dan menyapa Pak Agus, satpam komplek yang sangat mengenal keluarganya, tapi juga salah satu orang yang cukup ia hindari karena Melisa akan melakukan segala cara untuk memantau Andra, tak terkecuali meminta pertolongan Pak Agus.
“Tumben udah berangkat subuh-subuh gini, Mas?” tanya pria itu sambil menaikkan pintu portal utama agar mobil Andra bisa lewat.
“Lagi ada acara OSIS, pak. Jadi harus berangkat lebih pagi.”
“Oalah, gitu ya Mas.”
Andra tersenyum tipis, mengucapkan terima kasih dan langsung menaikkan kaca mobilnya. Seiring dengan mobil yang menjauh, pria itu kemudian menempelkan kembali ponsel yang sudah terhubung dengan panggilan sejak dua menit yang lalu.
“Barusan Mas Andra bilang katanya ada acara OSIS, Bu. Tadi juga saya lihat kepalanya luka, tapi saya nggak tanya kenapa.”
“...”
“Iya, sama-sama, Bu.”
Sementara itu, Melisa menghela napas dan mengusap wajahnya. Wanita itu hampir tidak bisa tidur nyenyak karena memikirkan Andra. Ini memang bukanlah pertama kalinya Andra membuatnya kecewa, ada hal yang lebih membuat Melisa kecewa, dan itu adalah balasan pesan Agatha setengah jam lalu.
Andra tidur di rumah Ibnu, Bu. Saya barusan tanya dia. Maaf kemarin saya sudah tidur, Bu.
Sebaris pesan itu seketika membangkitkan amarah dan kecewa, mengetahui bahwa Agatha juga berbohong kepadanya. Kenapa Agatha harus berbohong? Apa yang anak perempuan itu ingin tutupi? Kalau mereka memang tidak memiliki kedekatan khusus, kenapa Agatha tidak berpihak kepadanya dan melindungi keberadaan Andra?
Melisa jelas tidak sebodoh itu untuk dikelabuhi oleh anak muda seusia Andra dan Agatha. Jelas-jelas titik GPS ponsel Andra berada di sekitar lokasi rumah susun tempat Agatha tinggal. Titik itu tidak bergerak sejak pukul dua belas malam hingga kurang lebih pukul tiga dini hari. Melisa memasang aplikasi pelacak untuk memantau posisi anak tunggalnya yang sering pulang larut malam, tapi ia tidak pernah mengira bahwa Andra akan bermalam dirumah Agatha. Andra boleh saja memblokir nomor ponselnya dan Agatha boleh saja tidak mengangkat panggilannya, tapi Melisa akan selalu punya cara untuk memantau keberadaan Andra dan apa saja yang anaknya lakukan. Ia tidak ingin kebobolan lagi.
***
Langit sudah cerah ketika Andra melajukan mobilnya masuk ke halaman parkir sekolah. Ia sedikit bangga karena untuk pertama kalinya Andra menjadi siswa yang pertama datang ke sekolah hari ini, sekaligus rekor terbaru dalam hidupnya. Laki-laki itu menyampirkan tas di pundak dan menyapa tukang kebun sekolah yang memang selalu ada di sekolah setiap pagi buta. Persetan dengan acara OSIS, nyatanya sekolahnya tidak mengadakan acara apapun.
“Brr.. dingin amat.” Andra bergidik, sepanjang jalan menyusuri koridor ia tidak menemukan siapa-siapa selain dirinya.
Laki-laki itu mendorong pintu kelas pelan meskipun ia tahu tidak ada satu orangpun di dalam sana. Bangku-bangku masih berada diatas meja dengan rapi, sisa tugas piket yang dilakukan sebelum pulang. Andra menurunkan miliknya, sekaligus milik Randy untuk berjaga-jaga kalau teman sebangkunya itu hadir.
Andra menguap, ia masih sangat mengantuk. Semalam tidak bisa tidur dan seketika menyesal karena tidak berdampingan dengan Agatha jauh membuat tidurnya sama sekali tidak nyenyak. Jantungnya terus berdegup dan ia merasa canggung hingga bingung untuk bergerak dan berposisi bebas seperti tidur di kamar sendiri.
Andra terpikir untuk melanjutkan kembali tidurnya. Lima detik sejak ia menelungkupkan kepalanya di meja, ponsel disakunya bergetar dan ia yakin itu bukan Melisa karena nomornya masih terblokir.
“Halo, Ta?”
“Dra, lo dimana? Udah di rumah belom?”
“Udah di sekolah, dong.”
“Hah? Serius? Terus lo ketemu Mama lo nggak hari ini?”
“Gue pergi sebelum Mama bangun.”
“Aduh,” Agatha terdengar mendesah diseberang sana.
Andra mengerutkan dahinya. “Kenapa, sih Ta? Heboh banget.”
“Mama lo tadi tanya gue lo dimana. Gue bilang lo nginep di rumah Ibnu. Gue takut salah jawab, tapi nggak mungkin juga gue jawab kalo semalem lo tidur di rumah gue.”
“Ya bagus kalo gitu.”
“Tapi sama aja gue bohong, Dra. Gue nggak enak banget rasanya.”
“Apaan, sih. Ya udah paling mantep lah lo jawab gitu, pokonya jangan jawab aneh-aneh.”
“Lo nggak mau bilang apa-apa gitu sama Mama lo?”
“Nggak ah males, udah deh nggak usah mikirin Mama.” Andra menurunkan ponselnya dari telinga dan mendekatkan mulutnya ke arah mic ponselnya. “Dah, ya. Gue tutup. Mau lanjut tidur keburu ada guru.”
***
“Di minum, Ta.” wanita itu mempersilakan Agatha untuk meminum teh yang sudah disuguhkan padanya sejak lima menit yang lalu. Sementara Agatha hanya mengangguk, jari-jari kakinya dibawah meja mengetuk-ngetuk lantai cemas. Kepalanya tidak bisa berhenti menerka kiranya apa yang menyebabkan Melisa mengundangnya ke kantor yayasan tempat wanita itu bekerja.
Melisa duduk di kursinya dan tersenyum ke arah Agatha, senyumnya masih sama menurut Agatha, tapi entah kenapa hal itu justru semakin membuatnya tidak bisa tenang. Agatha menelan ludah untuk membuka suara, “Ada apa, ya Bu?”
“Ada hal penting yang saya pengen obrolin sama kamu, Ta.”
Jantung Agatha semakin berdegup kencang, ia takut. Agatha takut bahwa Melisa tahu bahwa dua hari yang lalu ia berbohong mengenai Andra, Agatha takut Melisa akan kecewa dan kehilangan kepercayaan lagi pada dirinya. Agatha benar-benar akan merasa bersalah karena itu.
“Selama hampir tiga bulan ini, saya udah banyak lihat hal-hal positif di dalam diri Andra. Dia jadi lebih sering di rumah, lebih rajin ke sekolah, tugas-tugas sekolahnya juga terkontrol. Dan, saya sangat-sangat berterima kasih sama kamu, Agatha.” ujar Melisa dengan senyum yang tulus.
Agatha mengangguk pelan, ia tidak berniat menginterupsi karena tahu bahwa Melisa belum selesai bicara. “Diluar itu, saya juga senang kalo kamu bisa jadi teman sekaligus tutor buat Andra. Kalian beradaptasi dengan baik, dan saya bakalan anggap itu sebagai nilai positif.”
Mendengar itu Agatha berkedip dua kali, ia benar-benar takut Melisa akan salah paham. “Maaf bu, tapi saya beneran cuma anggap Andra sebagai temen saya… Kalau Ibu pikir saya sama Andra---”
“Saya tau, Agatha. Saya nggak pernah merasa salah paham dengan hubungan kalian sejauh ini, kok. Kamu jangan khawatir.”
Agatha kembali menunduk dan menganggukan kepalanya pelan. “Iya, Bu.”
“Alasan saya mengundang kamu ke sini juga bukan untuk ngobrolin hal itu. Kita buat semuanya lebih santai, oke? Saya cuma mau kasih kamu tawaran yang mungkin bakal kamu perluin buat masa depan kamu.”
Agatha diam, masih mendengarkan dengan perasaan gugup. “Jadi gini, Ta. Di sekolah yang dikelola oleh Yayasan kita, ada salah satu guru bahasa inggris yang udah ambil cuti melahirkan sekitar dua minggu yang lalu. Guru Bahasa Inggris di sekolah kita kebetulan memang nggak sebanyak guru mata pelajaran lain, kita udah buka recruitment untuk guru-guru honorer yang berminat, tapi tiba-tiba saya keinget kamu. Kira-kira kamu minat nggak untuk isi posisi sementara sampai guru bahasa inggris kita selesai cuti?”
Mendengar itu Agatha menahan napas, ia menatap mata Melisa dengan sorot kebingungan. Perempuan itu mengusap bagian belakang lehernya gugup. “Tapi, Bu. Ini menurut saya udah lebih dari cukup. Saya dikasih kesempatan untuk jadi guru les juga udah bersyukur banget, Bu.”
Melisa mengangguk. “Saya tau kamu bakal bilang begitu. Tapi Agatha, gimana pun terjun ke dunia yang benar-benar ada di ranah skill kamu itu lebih penting. Kamu bisa fokus di mata pelajaran Bahasa Inggris, sesuai dengan jurusan kuliah kamu. Oh iya, semester depan kamu bisa lanjut kuliah. Saya bakal daftarin nama kamu sebagai salah satu penerima beasiswa pendidikan dari yayasan kita. Kalau sekarang kamu jadi guru pengganti buat beberapa bulan di sekolah, nanti Semester 6 ketika kamu KKN pasti akan lebih mudah, Ta.”
Agatha masih diam, berusaha mencerna rentetan kalimat yang dilontarkan Melisa. Ia yakin tidak akan bisa memutuskannya detik ini juga, Melisa juga paham. “Saya masih punya waktu buat pertimbangin ini, kan, Bu?”
“Iya, dong. Kamu boleh datang kapan aja ketika kamu siap. Saya harap, sih kamu nggak menolak.” ujar Melisa dengan senyum lebar, sarat akan harapan.
Tanpa memberikan keputusan pasti, Agatha pamit untuk pulang. Sepanjang perjalanan ia memikirkan banyak hal. Cita-citanya, masa depan dan segala keinginan yang dulu pernah tertunda kini seolah ada di depan mata. Entah ia merasa bersyukur atau justru menyesalinya. Tapi akankah terkesan tidak tahu diri apabila Agatha merasa menyesal karena pernah diberi kesempatan meskipun lewat orang lain?
Agatha bimbang.
Benar-benar bingung dan banyak sekali hal yang memenuhi otaknya hari itu.