“Lo beneran nggak mau pulang?” tanya Agatha seraya melepas seatbelt.
Andra menggeleng. “Gue males nanti pasti Mama nanya macem-macem.”
Mereka sudah sampai di depan pintu utama pemukiman rumah susun yang ditinggali Agatha. Keduanya pulang naik bus transkota karena Andra tidak membawa mobil. Jam menunjukkan pukul setengah sebelas malam, sepulang dari rumah sakit tadi Andra mengikuti Agatha ke tempat kerja meskipun sudah terlambat satu jam, Andra berdiam diri seharian duduk di dalam restoran restoran cepat saji seperti yang pernah ia lakukan, selama itu pula Andra tidak meninggalkan Agatha dan benar-benar menunggu perempuan itu sampai pulang. Oh iya, ngomong-ngomong sekarang hari Sabtu, Andra tidak pergi ke sekolah, ia bimbel sesuai jadwal dari pagi hingga siang, sehingga dari siang sampai malam Agatha bisa lanjut bekerja.
“Terus lo mau tidur di mana?”
“Dimana aja kek, di mushola deket sini juga nggak masalah.” ujar Andra, asal.
“Ih apaan, sih sembarangan. Lo kan lagi luka.” omel Agatha. Ia menggigit ibu jarinya bingung sampai tiga detik kemudian ia bersuara. “Udah, deh. Kalo gitu lo ke rumah gue aja. Seenggaknya lebih aman daripada lo keluyuran diluar ngga jelas.”
“Lo ngomong gitu kayak gue anak abege labil deh, Ta.”
“Berisik, ah. Ya udah ayo naik.”
***
Sayangnya ketika Agatha membuka pintu, ruangan sudah berubah gelap. Ibu dan adiknya pasti sudah tidur, Andra menolak untuk tidur di dalam dan ia sudah memiliki rencana B untuk naik taksi ke rumah Ibnu atau Randy meskipun memiliki kemungkinan untuk diusir karena ia datang larut malam. Agatha tetap menahan Andra agar tidak pergi dan karena Andra kekeh tidak mau tidur di dalam takut menganggu atau membuat Ibu dan adik lelaki Agatha merasa tidak nyaman, perempuan itu membuat ide untuk memanfaatkan dipan kayu yang disimpan oleh penghuni di rooftop.
“Buat pertama kalinya gue ngelakuin hal gila sama lo, Dra. Cuma sama lo doang, serius.” Agatha tidak berhenti bergumam keras seraya menyimpan selimut tebal yang lumayan berat dan bantal diatas dipan.
Dipan kayu ini berupa sebuah bangku rendah berbentuk persegi yang cukup lebar, biasanya digunakan untuk penghuni sebagai tempat duduk-duduk atau bersantai sambil melipat jemuran yang sudah kering. Tapi untuk kali ini, Agatha akan memanfaatkannya untuk berbaring. Yah, anggap saja mereka sedang menyewa hotel outdoor dengan langit-langit kamar yang berupa langit sungguhan. Untung saja hari ini tidak mendung, Andra sudah cukup lama tidak melihat langit malam yang cerah dan berbintang seperti malam ini.
“Lo serius mau temenin gue tidur di sini?”
“Ya iyalah, gimana pun gue merasa bertanggung jawab atas apa yang terjadi sama lo hari ini.”
“Kalo gue, sih seneng-seneng aja bisa tidur bareng cewek.” ujar Andra dengan ekspresi jenaka, menggoda Agatha menjadi hobi barunya sekarang.
“Awas lo, macem-macem gue tendang.” Agatha kemudian membuka botol lotion anti nyamuk yang ia punya dan menyerahkannya pada Andra. “Nih, pake buruan.”
“Emang pake lotion gini ngaruh ya, Ta?”
“Nggak ngaruh buat yang jomblo. Nyamuk kan demen sama yang masih jomblo.”
Andra berdecak remeh. “Suka nggak ngaca kalo ngomong.”
Agatha tidak menggubris, ia hanya merapikan selimut-selimut tebal agar bisa digunakan mereka berbaring. Matanya tidak sengaja berhenti pada sebuah gitar tua yang sangat ia kenali. “Lo ngambil gitar gue dari kapan? Kok gue nggak tau?”
“Ooh ini,” Andra mengambil gitar tersebut dan memangkunya. “Tadi, kan udah bilang. Gue pinjem mau buat gitaran di atas.”
Agatha menghela napas, membiarkan Andra sesuka hati. Untuk kali ini saja. Mereka berdua duduk di atas dipan yang sudah dialasi oleh selimut tebal. Andra duduk bersila sambil memangku gitar, sementara Agatha memilih untuk membungkus tubuhnya dengan selimut dan memperhatikan Andra yang sedang mengatur senar gitar sambil sesekali memetik untuk memastikan gitarnya sudah enak untuk dimainkan.
“Mau nyanyi lagu apa?” tanya Andra, ia menatap Agatha lurus-lurus.
Agatha berkedip. “Terserah, lo bisanya lagunya siapa?”
“Bisa semua, lah.”
Agatha berdecak melihat tingkah Andra yang selalu percaya diri. “Coba kalo gitu mainin lagunya suami gue, yang judulnya Intention.”
“Siapa suami lo?”
Agatha menahan napas, gemas. “Justin Bieber, lah.”
“Muke gile.”
Andra tertawa kemudian menggerakkan jari-jari tangannya yang panjang untuk mulai bermain diantrara kunci A dan kunci D. Sementara Agatha, perempuan itu menelan ludah dan berdehem untuk menjernihkan tenggorokannya. Sebelum ia menatap Andra lamat-lamat dan bernyanyi. “Picture perfect you don’t need no filter…”
Georgeous, make em’ drop dead, you a killer…
Show you with all my atttention
Yeah, these are my only intentions
Stay in the kitchen cookin’ up create your own bread
Heart full of equity you’re an asset, make sure that you don’t need no mention…
Yeah, these are my only intentions
Already pass, you don’t need no approval
Good everywhere, don’t worry ‘bout refusal
Second to none, you got the upper hand now
Don’t need a sponsor, nope, you’re the brand now
You’re my rock, my Colorado
Got that ring, just like Toronto
Love you now, a little more tomorrow
That’s how I feel, act like you know that you are
Mereka kembali menyanyikan lirik pada bagian chorus, sampai dibagian akhir, Andra membiarkan Agatha mengakhiri lagu dengan suaranya yang kini ia akui memang merdu. “…only intentions… that’s all I plan to do.. uhuuuu… Anjir, apaan sih lo liatin gue gitu amat?!”
“Lah, kenapa sih lo, Ta?!” Andra mengerjapkan matanya, karena tidak menduga Agatha justru mencak-mencak sendiri tak karuan.
Agatha mengerutkan hidungnya, ia sebal dengan Andra ketika di bagian akhir lagu favoritnya ia hanya berusaha menghayati tapi Andra menatapnya begitu lama sehingga membuatnya berpikir bahwa laki-laki itu sedang menertawakannya dalam diam. “Iye tau suara gue jelek, besok-besok nggak usah nyanyi sama gue lagi.”
Andra tertawa, kemudian ia menyudahi permainan dan menyimpan gitarnya di sisi dipan. “Idih, bukan gue yang bilang ya.”
“Bodo ah, gue mau tidur.” Agatha menyimpan sebuah guling panjang yang ia ambil di kamarnya tadi menjadi sebuah benteng untuk membatasi tubuhnya dengan tubuh Andra. “Pokoknya guling ini nggak boleh gerak, se-di-kit-pun.”
“Semerdeka lo aja, Ta.” gumam Andra seraya memutar bola mata. Ia menoleh ke samping, Agatha sudah membungkus sebagian tubuhnya dengan selimut tebal sambil berbaring dengan posisi miring ke samping. Laki-laki itu akhirnya merebahkan tubuhnya dan menggunakan kedua lengannya sebagai penyangga kepala sambil menatap bintang-bintang yang mulai terlihat meskipun tidak ada bulan malam ini.
Andra menghirup napas dalam-dalam, kenapa berbaring dengan suasana seperti ini justru membuatnya lebih tenang, seperti lebih mengenali emosi dalam dirinya dan setelahnya ia jauh merasa lebih baik, “Ta, kenapa ya orang-orang bisa punya mimpi mau jadi apa, kok gue nggak punya.”
“Menurut lo gimana? Apa gue masih bisa hidup semau gue kalau gue lahir di keluarga yang lain?” ucap Andra, meskipun ia tidak tahu Agatha masih mendengarnya atau tidak. Tanpa menunggu jawaban, ia memilih untuk menjawab pertanyaan itu sendiri. “Kayanya, sih bisa. Cuma gue nggak mau. Gue nggak mau jadi laki-laki kedua yang ninggalin Mama dan nyerah sama keegoisannya.”
Agatha perlaha membuka mata, sedari tadi ia hanya mengaktifkan indera pendengarannya sampai kalimat terakhir yang diucap oleh laki-laki itu memenuhi pikirannya secara otomatis. Posisinya kini memunggungi Andra yang berbaring disebelahnya dengan posisi terlentang. Ia tidak mau berbalik, entah kenapa akhir-akhir ini memandang Andra menjadi salah satu hal yang menguras energi baginya.
“Udah tidur lo?!” mendengar itu, serta merta Agatha memejamkan matanya cepat, sambil sedikit mengeratkan selimut dan melengguh. Berharap Andra benar-benar mengiranya sudah tertidur. Andra memiringkan posisi tidurnya, persis menghadap punggung Agatha yang kurus, rambut hitam lurusnya terurai sampai ke guling yang menjadi benteng mereka dan laki-laki itu melarikan jarinya untuk merapikan rambut Agatha. “Istirahat, Ta. Capek banget pasti jadi lo.”
Setelah itu Andra memilih tertidur menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Nyamuk malam tidak terlalu agresif padanya karena ia telah memakai lotion anti-nyamuk sebanyak tiga kali. Andra bisa tertidur dengan wajah riang sekarang, persis seolah kembali ke masa kanak-kanak, tiba-tiba ia teringat momen saat ia membuat sebuah area kemah kecil di halaman belakang rumah bersama Papa. Memikirkannya membuat Andra perlahan memejamkan mata sampai gambaran itu memudar setelah ia masuk ke alam mimpi.
Jam menunjukkan pukul dua dini hari ketika Andra tidak sadar bahwa ia terbangun dalam sekejap, ia meraih ponsel Agatha yang ada di sisi kepala perempuan itu hanya untuk melihat lockscreen, tanpa sengaja ia juga melihat notifikasi ada sekitar enam panggilan tak terjawab dari kontak Melisa sejak setengah jam yang lalu. Untungnya, Andra sudah memblokir kontak Ibunya lebih dahulu dan mematikan ponselnya sehingga ia tidak akan terganggu.
Saat ia mengangkat kepalanya untuk kembali menyimpan ponsel Agatha, perempuan itu berbalik, memutar tubuhnya tanpa sadar hingga wajah mereka saling berhadapan muka. Andra menelan ludah, menyimpan ponsel Agatha ke sisi kepala yang lain dan menatap wajah mungil perempuan itu lamat-lamat.
“Dingin, Bu…” Agatha mengigau dengan suara lemah, memanggil Ibunya. Membuat Andra sadar bahwa perempuan itu benar-benar sudah tertidur meskipun tidak dalam posisi yang membuatnya nyenyak.
Andra kemudian berinisiatif untuk menarik selimut yang dikenakan Agatha dan merangkul tubuh perempuan itu agar berada dalam satu selimut dengannya juga supaya lebih hangat. Agatha harus tidur diluar karena Andra, maka dari itu ia merasa sangat bertanggung jawab. Tubuh mereka sekarang lebih merapat untuk saling menghangatkan, hanya dibatasi oleh guling benteng satu-satunya yang memberi jarak untuk tubuh mereka.
Laki-laki itu menyingkirkan anak rambut yang membingkai wajah Agatha dan mengusap dahinya yang berkeringat, mungkin Agatha sedang mimpi buruk. Tapi terlepas dari itu semua, Andra entah kenapa merasa betah memandang perempuan itu lama-lama, Andra baru sadar bagaimana bisa ada seseorang yang tertidur dengan wajah seperti malaikat?