Chapter 8 : Good Night

1357 Kata
“Serius ini nggak papa saya turunin kamu di sini?” tanya Melisa sekali lagi. Agatha tertawa ringan. “Nggak papa, Tante. Aku juga mau mampir ke minimarket yang di situ sebentar, habis ini aku juga harus kerja.” Melisa mengangguk, ia kemudian mengambil sebuah paper bag di kursi kemudi dan menyerahkannya pada Agatha. “Oh iya, saya punya bolu. Nanti kamu bawa pulang, sampein salam ke Ibu kamu ya.” “Wih, Makasih banyak, Tante.” Agatha tersenyum lebar ketika menerima pemberian Melisa. Ia segera melepaskan seatbelt untuk bersiap turun. “Aku pamit, ya. Tante hati-hati di jalan.” “Sip.” Agatha melambaikan tangannya ke arah mobil yang perlahan menjauh dari ruang pandangnya, ia kemudian berjalan beberapa meter untuk masuk ke sebuah minimarket di sisi jalan. Perempuan itu hanya mengambil sekotak s**u rasa pisang dan roti isi cokelat sebelum melangkah ke arah kasir yang terdiri dari dua baris antrian. Matanya berkedip dua kali saat menemukan seorang perempuan dengan busana kasual dan gaya yang cukup ia kenali. Sedang apa Marsha di sekitar sini? Apakah ia berencana pergi dengan Andra? Sebelum benaknya semakin menerka, Marsha sudah menatapnya lebih dulu, perempuan itu hanya memberi Agatha tatapan angkuh dan maju selangkah karena sudah gilirannya untuk membayar. Ia juga membeli beberapa bungkus rokok dan hal itu semakin membuat Agatha berpikir jauh. Setelah selesai membayar, Marsha langsung melengos pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pada Agatha. Agatha mengikuti kemana tubuh ramping itu berjalan dan ia semakin terkejut ketika Marsha naik ke atas boncengan sebuah motor hitam metalik yang keliatan mewah, seratus persen Agatha yakin bahwa wajah dibalik helm full-face itu juga bukan Andra. “Totalnya jadi enam belas ribu lima ratus, mbak.” Suara penjaga kasir itu membuyarkan lamunan Agatha, ia buru-buru mengeluarkan uang untuk membayar sebelum akhirnya membawa makanannya keluar. Sepanjang jalan melangkah di trotoar pikirannya dipenuhi oleh bagaimana reaksi Andra jika ia tahu bahwa Marsha pergi bersama orang lain. Entahlah, Agatha hanya merasa simpati dengan laki-laki itu. Langkahnya berhenti di sebuah taman sisi jalan, dengan kolam ikan yang sudah agak kumuh namun beberapa orang masih berdiam diri di sini untuk sekedar menumpang koneksi internet gratis. Agatha berjalan ke arah sebuah ayunan yang reyot, besinya sudah berkarat dan sudah ada tulisan peringatan dari pengelola bahwa ayunan ini sudah tidak bisa di pakai. Tapi untuk sekedar diduduki, Agatha rasa tidak akan masalah. “Dor,” Agatha menoleh ke sumber suara, menemukan Andra di sana dan duduk di sebelahnya. Hanya saja, ayunan yang Andra duduki masih bisa berfungsi dengan baik. Laki-laki itu memandangi Agatha yang sedang berusaha membuka bungkus roti isi. “Lo nggak kerja?” “Ntarlah, masih sejam-an lagi.” jawab Agatha sambil memakan gigitan pertamanya dan menoleh ke kiri. “Lo sendiri? Bukannya tadi mau main PS sama temen lo, ya?” “Males ah, untung gue liat lo di sini.” Agatha membulatkan matanya. “Lo di sini sejak kapan? Apa jangan-jangan tadi lo liat Marsha juga?” Dahi Andra berkerut. “Marsha? Enggak tuh. Lo liat emang?” “Eng---Liat, sih.” “Oh.” “Oh doang?” “Terus gue harus bilang Waw gitu?” “Serius, Dra.” Agatha memukul pundak Andra. “Ya serius, Ta. Emang kenapa, sih?” Agatha menelan ludah. Ia bingung harus jujur atau tidak, ia tidak ingin menyakiti perasaan Andra. “Ngga jadi,” “Boong.” Andra mengerutkan hidungnya. “Jujur dulu, ngga? Ada apa?” “Nggak ada apa-apa.” “Boong lu.” “Iya.” “Gue bakal kecewa banget sama lo kalo tau lo bohongin gue.” ucap Andra dengan sedikit penekanan. Mendengarnya, Agatha menahan napas. “Gue tadi liat dia pergi sama cowok lain, naik motor.” Andra berdecak. “Yah, kirain apaan.” Agatha melotot. “Lo nggak kaget?!” “Kaga. Marsha kan emang punya pacar, paling-paling itu si Juna.” “Are you kidding me?” Agatha masih tidak percaya, ia bahkan hampir tidak bisa menelan hasil kunyahannya di mulut. “Terus lo nggak marah gitu, Marsha kan mau jadi---” “It was something that we’ve been deal.” terang Andra, santai. “Even when she knows that I like her, she doesn’t care at all.” “Lo suka sama dia? Masih?” Andra mengangkat kedua bahunya. “Nggak tau, tapi gue masih nyesek aja tiap liat dia jalan sama Juna. Dari kecil saingan gue cuma satu, cuma Juna.” “Terus kenapa lo setuju aja biarin Marsha punya pacar, padahal kalian…” Agatha menahan napas sekaligus kalimatnya, ia memutar bola mata dan menggelengkan kepala, benar-benar tidak habis pikir. “ugh, seriously… I have no idea.” “Kaget ya, Ta? Semua orang waktu tau kalo gue naksir Marsha beneran juga kaget dengernya.” ujar Andra, seraya tertawa getir. “Gue nggak pengen akhirnya hidup bareng dia bukan karena gue benci dia, tapi gue yakin karena hal itu nggak baik buat kita berdua. Semuanya terlalu toxic.” Agatha tidak merespon, ia larut dalam pemikirannya sendiri. Tidak habis pikir kenapa Andra masih menyukai Marsha yang jelas-jelas sudah menyakitinya. Agatha sedikit kesal, dan lebih kesal lagi ketika ia tidak tahu alasan kenapa ia harus kesal dengan segala sesuatu yang ia ketahui hari ini. Perempuan itu menggigit dengan buas roti isinya sampai habis dan mulai berayum sambil memejamkan mata, padahal ia tahu bahwa ia akan celaka tapi Agatha tidak peduli. Andra melihat ke atas, ke arah katrol ayunan yang ia rasa bermasalah, tapi ternyata itu bersumber dari ayunan yang digerakkan oleh Agatha. “Ta, ayunannya rusak. Lo b**o apa?” “Ta! Berhenti ih, ntar lo celaka. Astaga.” Satu, Dua, Tiga, Hitungan ke empat, saat Agatha berayun dari atas, salah satu katrol ayunan yang sudah berkarat itu lepas hingga tubuh Agatha tersungkur, tapi yang menjadi masalah adalah besi penyangga ayunan itu juga roboh, hampir mengenai kepala Agatha sampai Andra berdiri dan memeluk kepala perempuan itu. “ANDRA!” Trang. Suara besi yang saling berbenturan itu terdengar ke penjuru taman, mengalihkan atensi beberapa orang akan ayunan yang roboh. Agatha melihat darah mengalir di pipinya, tapi ia tidak merasa sakit sama sekali, atau mungkin belum? “Andra, Andra, gue berdarah…” ujar Agatha histeris ketika meraba cairan kental itu dengan jari dan ia hampir menangis melihatnya. Sementara itu, ia juga melihat wajah Andra yang seperti menahan sakit dengan matanya yang terpejam. “Bentar… ini bukan darah gue, Dra. Ini… darah lo?” Andra mengerjapkan matanya, meraba pelipis kanannya yang terasa perih. “Iya, nih. Gue berdarah, Ta. Yah, gimana dong?” “Andra, lo berdarah. Astaga.” “Aduh, sakit banget lagi, Ta.” Andra bergumam sambil berusaha memegangi pelipisnya yang terus mengeluarkan darah. “Ya ampun, Dra. Sorry… please, lo tahan bentar, gue pesen taksi online dulu, kita ke IGD sekarang. Oke?” Andra hanya mengangguk karena ia tidak bisa banyak berkomentar, kepalanya terasa pusing dan perih disaat yang bersamaan. Sekitar sepuluh menit taksi yang ia pesan via aplikasi datang menjemput, Agatha terus memegangi kepala Andra erat, ia bahkan gemetaran karena sapu tangan yang biasa ia bawa di dalam tas dan digunakan untuk menahan darah yang mengucur kini sudah hampir berubah merah. Andra bersandar pada pundaknya dan selama itu pula Agatah memeluk kepalanya. Ia benar-benar panik setengah mati, meskipun Agatha punya adik lelaki tapi adiknya juga tidak pernah mengalami luka separah ini. Andra terkekeh pelan dan meremas tangan Agatha yang berada dikepalanya. “Lebay banget, sih lo. Gue nggak akan mati juga.” “Andra diem. Jangan bawel, ini darahnya banyak.” seru Agatha dengan suaranya yang bergetar. “Ini udah biasa buat anak cowok. Gue pernah dapet luka lebih parah dari ini.” “Diem nggak lo? Ngomong mulu, deh.” Andra tertawa. “Iya bu guru…” Laki-laki itu hanya memejamkan mata sepanjang perjalanan. Ia bisa merasakan bagaimana paniknya Agatha sekarang dan entah kenapa Andra merasa hangat karenanya. Setelah menempuh perjalanan sekitar lima belas menit sampai di IGD, Andra langsung mendapatkan penanganan dari perawat yang bertugas. Beruntungnya Andra hanya mendapat dua jahitan kecil di pelipisnya. Sekitar empat puluh lima menit Agatha menunggu sampai Andra selesai diobati. Begitu laki-laki itu keluar, Agatha langsung meminta Andra mengganti pakaiannya yang kotor karena darah dengan kaus yang secara dadakan Agatha beli di depan rumah sakit. Kaus itu berwarna kuning dengan karakter kartun minion di bagian dadanya. “Harus minion banget apa, Ta?” “Ya maaf, nggak ada lagi soalnya.” ujar Agatha lesu, ia merapikan sedikit pakaian Andra dan sekali lagi memandang refleksi tubuh laki-laki itu di cermin ruang ganti. “Buat sementara dulu, nanti kalo udah sampe rumah lo buang aja bajunya.” “Kok dibuang?” “Paling juga nggak akan lo pake lagi, kan?” “Sok tau.” Agatha hanya menghela napas, enggan menanggapi lagi. Ia berdiri di hadapan Andra dan memandangi kepalanya yang kini dibalut kain kassa putih. Matanya menatap Andra lamat-lamat dan entah kenapa ia sangat merasa bersalah dengan Andra hari ini. “Kenapa?” Andra bertanya, membalas tatapan sendu Agatha. Perempuan itu tidak menjawab, ia hanya menggeleng dan langsung meraih leher Andra yang lebih tinggi untuk kemudian memeluknya. Agatha menenggelamkan wajahnya pada pundak laki-laki itu dan bergumam, “Sorry, Dra. Gara-gara gue…” “Santuy, Ta.” balas Andra dengan suara kaku. Ia tidak tahu juga kenapa ia mendadak bingung sendiri. Kedua tangannya masih menggantung diudara sampai beberapa detik salah satu tangannya menepuk punggung Agatha pelan.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN