“Tadinya, tuh kemarin gue mau curhat sama lo." Andra memutar-mutar pulpen di atas buku tulisnya.
Agatha memalingkan wajah sekilas, "Curhat apa?" Lalu kembali fokus pada buku geografi di hadapannya.
"Tau, ah. Udah lupa gue."
"Dih, Nggak jelas." Agatha menggelengkan kepala acuh.
Andra melotot gemas, lalu memukul kepala perempuan itu dengan pulpen. Membuat Agatha mengaduh kesakitan dan hendak membalas tingkah laki-laki itu. Namun kedua tangannya langsung dikunci oleh Andra. “Et, gabisa.”
“Andra, ih. Lepas nggak.”
Andra menggeleng sambil menahan tawa. “Nggak mau.”
Agatha terus berontak, namun laki-laki itu terlalu usil mengunci tangannya. “Gue gigit, nih.”
“Nggak bisa.”
“Andra, ih.”
“Coba aja kalo bisa.”
Mereka bergurau di tengah-tengah sesi belajar, Agatha mengerahkan segala kekuatannya untuk melepaskan diri dari Andra. Namun laki-laki itu terlalu kuat hingga Agatha hilang kendali atas kursi kayu yang ia duduki. Tubuh Agatha hampir terhuyung ke belakang, namun Andra belum kalah cepat untuk menahan bahunya. Wajah Agatha seketika merah padam, ia shock, antara karena hampir jatuh ke belakang atau memandangi fitur wajah Andra dari jarak kurang dari dua puluh senti.
Untuk beberapa detik mereka saling bertukar pandang. Dari jarak sedekat ini, Agatha bisa melihat jelas bulu mata panjang milik laki-laki itu dan bola matanya yang hitam pekat. Agatha menelan ludah ketika sadar bahwa jarak mereka terlalu dekat dan langsung mendorong kepala Andra dengan pulpen ketika cengkraman ditangannya melonggar, mungkin Andra juga sama-sama terkejut tadi.
“Nggak lucu, Dra.” ujar Agatha dingin, lebih tepatnya ia salah tingkah. “Gue hampir aja celaka tadi.”
“Untung ada gue, iya nggak, Ta?”
“Basi.”
“Halooo, udah pada makan siang belum?” suara Melisa tiba-tiba menggema di kamar Andra. Wanita itu menyembulkan kepalanya disela-sela pintu yang terbuka. “Hari ini kita makan bareng di luar, yuk?”
Andra menatap Agatha sekali sebelum akhirnya mengangguk. “Skuy lah, Ma.”
***
Aroma seafood dan saus tiram melintas di sekitar hidung saat duduk ditengah restoran, mengguggah selera makan ketiganya. Menu telah di pesan, dan tinggal menunggu diantar. Andra bersandar pada kursi sambil tangannya mengoprek layar ponsel di atas meja. Antara Agatha dan Melisa masih sibuk mengobrol tentang perjalanan dinas beliau selama di Banten, dilanjutkan obrolan mengenai makanan favorit masing-masing. Ini bukan pertama kalinya, Melisa merasa memiliki kenyamanan dan kemistri mengobrol dengan perempuan satu ini.
"Andra!" teriakan samar-samar terdengar dari arah barat.
Tapi yang dipanggil tak kunjung mendengar karena terlalu fokus dengan ponselnya. Sedangkan diujung sana, dua orang laki-laki berdiri menggunakan hoodie abu gelap dan melambaikan tangan, berharap Andra melihat keberadaannya.
"Tuh, siapa yang manggil?" Melisa mencolek lengan Andra dan hanya mendapat lirikan acuh.
Andra mengerjap, lalu menolehkan kepala ke belakang. "Mana?"
"Tuh, di pojok." Agatha menunjuknya dengan gerakan dagu.
"Oi! Randy, Ibnu!" Andra melambaikan tangannya enerjik, lalu beringsut bangkit dari kursi meninggalkan mereka berdua. "Bentar, ya?"
Sejurus kemudian, Melisa dan Agatha memperhatikan Andra dan teman-temannya dari meja yang cukup jauh dari keberadaan sebelumnya. Setelah Andra pergi, entah kenapa Agatha mulai merasa tak nyaman. Padahal dulu, mereka bertemu berdua di suasana yang lebih canggung di tengah hujan. Mungkin memang karean sudah cukup lama mereka berdua tidak berbincang secara khusus seperti sekarang ini. Setelah beberapa detik terdiam dengan pikiran masing-masing, Melisa mulai mengangkat topik pembicaraan baru. “Kemarin kamu udah ketemu Marsha, kan?”
“Iya, tante. Kenapa?”
Melisa tersenyum. “Marsha itu calon menantu saya nanti. Saya udah punya planning masa depan buat Andra. Yah, mau gimana lagi? Andra nggak punya saudara kandung di sini, jadi saya harus pastiin kalau dia menikah dengan orang yang tepat.”
Agatha mengangguk, tidak terlalu paham arah atau tujuan Melisa berkata demikian. “Marsha orangnya baik, Tante. Dia cantik, pinter dan punya manner.” ucapnya, tidak sepenuhnya pencitraan karena itulah yang bisa ia pikirkan tentang Marsha.
“Andra juga udah kenal Marsha dari kecil. Saya pikir dengan begitu dia jadi nggak akan terlalu terbebani.”
“Rencananya, tante mau buat acara tunangannya dalam waktu dekat?”
“Hm,” Melisa mengangguk. “Sebelum Andra masuk kuliah nanti, dan mereka bakal menikah setelah Andra lulus kuliah.”
Mendengar itu Agatha hanya bisa terdiam dan tersenyum tipis. Yang Andra katakan pada malam itu saat mereka pergi berdua ternyata bukan hanya bualan belaka. Melisa memang sudah menentukan semuanya. Yang ia tahu, Andra adalah sosok yang sedikit pemberontak, tapi sepertinya untuk hal ini, laki-laki itu sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa.
Obrolan mereka terhenti ketika hidangan disajikan di meja dan Andra datang ke arah mereka dengan wajah polosnya. Dua temannya, Ibnu dan Randy rupanya tadi memesan makanan untuk dibawa pulang dan Andra bilang bahwa nanti ia akan mampir sebentar untuk ikut bermain PS di rumah Randy yang tidak jauh dari sini.
Selama menikmati makan siang, Andra beberapa kali mendapati Agatha menatap ke arahnya, membuatnya sedikit aneh tapi ia tidak mau ambil pusing karena kepalang lapar. Andra jadi mengira-ngira, topik macam apa yang Melisa dan Agatha bicarakan saat ia pergi tadi.