Chapter 6 : SHE

1284 Kata
Malam berikutnya, keluarga Marsha mengundang Andra dan Melisa untuk makan malam di rumahnya. Andra datang dengan setelah kasual namun tetap terlihat rapi dan sopan. Laki-laki itu mengenakan blazer berwana krem untuk membalut setelan kaus abu-abunya, celana jeans hitam dan kakinya mengenakan sepatu kets putih. Begitu datang, Melisa langsung disambut oleh Tante Ajeng, wanita yang fitur wajahnya mirip dengan Marsha mempersilakan Andra untuk langsung duduk di meja makan, hidangan di sana sudah disiapkan dengan menu yang semuanya adalah favorit Andra. Daging panggang, seafood, salad buah, dan sup membuat mata laki-laki itu berbinar, tapi Andra yakin bahwa semua ini tidak mungkin dimasak langsung oleh Ajeng apalagi Marsha, mereka punya koki pribadi. Lima belas menit kemudian, kursi meja makan hampir diisi penuh oleh seluruh anggota keluarga kecil mereka. Om Adit, Tante Ajeng, Melisa dan Andra sudah mengisi empat kursi, tinggal satu kursi yang belum terisi, kursi milik Marsha. “Caca kemana?” “Tadi udah make up, kok. Sebentar aku panggil,” Ajeng menolehkan kepalanya ke kamar Marsha yang berada di lantai dua. “Ca? Udah selesai?” Tiga detik kemudian, Marsha keluar, perempuan itu tampak anggun mengenakan dress sabrina berwarna navy blue yang jatuh tepat dilututnya. Rambutnya terikat satu dengan anak rambut membingkai wajahnya yang tirus. “Maaf terlambat, Tante…” “Ya ampun cantik banget kamu, Ca.” puji Melisa. Ia melirik Andra yang tidak banyak berkomentar bahkan tidak bisa menatap Marsha langsung yang duduk di hadapannya. Mereka berdua masih canggung pasca insiden kemarin, Andra belum berbicara pada Marsha sama sekali semenjak itu, tapi Andra mengakui bahwa Marsha terlihat cantik hari ini. Makan malam keluarga itu berlangsung seperti biasa. Bukan pertama kalinya bagi dua keluarga ini untuk saling menjamu makan malam. Melisa dan Ajeng adalah teman semasa kuliah, mereka sudah mengenal satu sama lain dalam kurun waktu yang lama. Baik Andra maupun Marsha juga sangat paham betul bagaimana karakter masing-masing, selain itu mereka juga pernah satu SMP dan tumbuh bersama. Andra meminum air putih untuk melegakan tenggorokannya, padangannya tidak sengaja bertemu dengan Marsha, perempuan itu seolah mengisyaratkan bahwa ia ingin berbicara dengan Andra. “Om, Tante… izin keluar sebentar, ya.” ucap Andra pelan, ia langsung berdiri begitu mendapat izin, sementara Marsha mengekor dibelakangnya. Keduannya berhenti dipekarangan belakang rumah Marsha yang cukup luas. Andra menyilakan kedua tangannya, menunggu Marsha membuka percakapan. “Gue minta maaf soal kemarin,” Andra menghela napas, lalu mengangguk. “Lupain aja, Ca.” Marsha tersenyum tipis, merapatkan bibirnya menjadi satu garis tipis sebelum kembali menatap Andra. “Gue baru tau kalau cewek yang kemarin itu guru privat lo. Gue kira cewek lo.” “Bukan,” Andra tertawa kecut. “Gue nggak se-b******k lo, lah.” Marsha tertawa. “Haha, padahal gue fine aja, kok. Semisal lo mau punya cewek. Kan kita udah komitmen, buat bebas jalan sama siapa aja.” “Lo masih sama Juna?” Andra mengalihkan topik. “Masih. Sebulan ini dia udah beberapa kali main ke Malang, nemenin gue.” Entah mengapa, mendengarnya membuat hati Andra terasa sakit. Andra kira, Marsha sudah tidak berhubungan dengan laki-laki manapun setelah ia kuliah di luar kota. Selalu seperti itu, Andra hanya mengira. Andra selalu mendapatkan posisi nyaris memiliki Marsha tapi tidak sepenuhnya bisa. Bagaimanapun, perasaan itu masih ada. Kendati Andra menyukai Marsha sejak kecil dan sudah mendapat penolakan dari perempuan itu, Andra masih kesulitan untuk bisa mengalihkan kendali perasaanya. Semakin ia tumbuh dewasa, semakin ia sadar bahwa perasaannya masih juga belum pudar. Ia jengkel pada Marsha, tapi ia juga masih menyukainya. Dan hal yang paling membuat Andra benci adalah Marsha bisa baik-baik saja meskipun perempuan itu sadar bahwa ia sedang menyakiti perasaan Andra. “Gue mau pulang,” ucap Andra setelah hening beberapa menit. “Gue ikut.” Marsha menahan lengannya. Andra menatap Marsha seolah tidak tahu maksud perempuan itu. “Maksudnya, gue ikut pergi sama lo. Gue mau ketemu Juna.” Andra menghembuskan napas kasar. “Seriously, Ca?” “Cuma itu satu-satunya cara gue bisa ketemu Juna di sini. Mama sama Papa nggak akan ngebolehin gue pergi kecuali sama lo. Andra memegang lengan Marsha. “Ca, listen to me, gue ngasih tau ini sebagai temen deket lo dan temen Juna. Gue tau Juna kayak gimana, berapa kali gue bilang lo jangan sering-sering ketemu dia. Juna itu---” “Gue nggak pernah bilang apapun soal Agatha kan? Jadi lo juga nggak ada hak buat bilang apapun soal Juna.” Andra menghela napas, ia mengusap wajahnya dan mengangkat kedua bahunya pasrah. “Terserah.” Malam itu Andra meminta izin pada Om Adit dan Tante Ajeng untuk membawa Marsha pergi. Andra membawa mobilnya setelah mendapat persetujuan Melisa. Andra akan menghubungi Pak Wahyu, sopir pribadi mereka untuk menjemput Melisa disini ketika wanita itu sudah selesai dengan urusannya. Para orang dewasa itu sedang membicarakan mengenai kesepakatan merging perusahaan yang akan dilakukan beberapa tahun kedepan. Selama di dalam mobil Andra dan Marsha juga tidak banyak bicara. Perempuan itu meminta Andra berhenti di sebuah kafe ditengah kota yang masih ramai. “Pulangnya gimana?” “Gampang,” Marsha tersenyum meyakinkan. “Juna nanti yang anter. Soal Mama sama Papa, gue yang atur.” “Oke,” Andra menaikkan kaca mobilnya sebelum akhirnya memutar arah mobilnya untuk lanjut mengemudi entah kemana. Iya, ia tidak tahu mau pergi kemana lagi. Di rumah pun percuma, ia bertemu Melisa dan berakhir dicecar oleh pertanyaan kemana ia membawa Marsha dan hal yang lain-lain. Bola mata hitam laki-laki itu melirik ke arah spion depan yang menyorot kursi penumpang. Ia ingat kalau tas Agatha ia simpan di sana. Hari ini jika Andra tidak salah perhitungam, perempuan itu hari ini kebagian shift siang dan pulang sekitar pukul sepuluh malam.   ***   Andra memesan minuman di counter ketika Agatha sedang berjaga, laki-laki itu menyebutkan pesanan sementara Agatha tidak menyadari bahwa yang memesan minuman di depannya adalah Andra karena perempuan itu fokus pada mesin monitor sembari memasukkan list pesanan. “Pesanan atas nama siapa?” “Andra,” “Baik, pesanan atas nama Andra, diulang ya---” Agatha yang menyadari bahwa nama itu familiar segera mengangkat kepalanya yang mengenakan topi, ia terkejut melihat Andra tersenyum sambil mengeluarkan uang dari dompet. “Heh? Lo ngapain di sini?” “Jajan lah, masa mau maling.” “Dih,” hidung Agatha berkerut sambil menyerahkan struk tanpa mengulang kembali pesanan customer seperti standar operasional prosedur. Ia menyiapkan pesanan Andra berupa dua minuman cola dengan float es krim dengan tambahan spagethi dan kentang goreng, meskipun ia sudah makan tadi. Hanya butuh sekitar sepuluh menit sampai perempuan itu menyajikan pesanan Andra di atas meja counter. “Nih, cepetan pergi.” bisiknya pelan. “Ye, galak amat. Gue buat keluhan, nih.” Andra hanya mengambil satu minuman dan mendorongnya ke arah Agatha. “Buat lo satu.” Laki-laki itu langsung melengos pergi sambil membawa nampan pesanan, ia melirik tempat duduk yang kosong dan menikmati makanannya di sana. Kurang lebih sekitar dua jam Andra menghabiskan waktunya di restoran cepat saji itu sampai hampir tutup. Semua sudah ia lakukan untuk membunuh waktu; main game, streaming youtube dan ia juga sudah memesan minuman sebanyak dua kali. Agatha menguap sekali sambil mengumpulkan bekas-bekas makanan, seorang temannya yang juga pekerja paruh waktu menepuk pundaknya. “Ta,” “Kenapa, Van?” “Itu bangunin customer yang di meja no. 11. Kayanya ketiduran, deh. Udah mau closing, nih.” ujar Vania. Agatha mengangguk, ia segera menghampiri meja no. 11 yang jauh dari counter pemesanan. Ia sedari tadi tidak menyadari kalau Andra menunggunya. Agatha pikir laki-laki itu langsung pergi setelah selesai makan, tapi hingga restoran akan tutup, laki-laki itu masih ada di sana, tertidur dengan earphone ditelingannya dan sebuah lagu rock bermain. Perempuan itu tertawa kecil. Bagaimana bisa seseorang terlelap ditemani musik rock? “Draaa.” Agatha menepuk pundaknya, ia menarik kabel earphone dari telinga Andra secara perlahan. “Bangun, Dra. Udah mau tutup…” Yang dipanggil langsung membuka matanya perlahan, mengerjapkan matanya untuk menjernihkan pandangan dan saat mengangkat kepalanya Andra tersenyum menemukan Agatha berdiri disebelahnya, masih dengan seragam lengkap. “Eh, udah mau balik, Ta?” “Belom, mau beres-beres dulu.” Andra menguap. “Ah, ya udah gue tidur lagi.” “Ih, pulang gih sanaaa. Udah malem, Dra. Mama lo ntar nyariin.” “Balik bareng aja, gue tungguin.” ucap Andra, sebelum ia kembali meluruskan lengan di meja dan meletakan kepala untuk melanjutkan tidur singkatnya. Agatha menghela napas. Ia kehabisan energi untuk menasehati Andra. Perempuan itu fokus mengelap meja-meja di sekitar Andra dan sekaligus membereskan meja Andra yang masih kotor. Saat mengumpulkan sisa makanan, seragamnya ditarik oleh sebuah tangan yang terulur dan membuat Agatha seketika langsung menatap pemiliknya. “Jangan kecapean, Ta.”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN