Semenjak Agatha mengambil pekerjaan paruh waktu menjadi pelayan salah satu restoran cepat saji, kegiatannya itu secara langsung mempengaruhi sesi belajar dirinya dengan Andra. Biasanya mereka melakukan pertemuan selama tiga kali dua jam dalam seminggu, sekarang Agatha paling tidak hanya sanggup melakukan tiga kali satu jam dalam seminggu, atau mungkin dua kali dua jam dalam seminggu. Agatha sudah berdiskusi dengan Melisa mengenai hal ini dan ia tidak keberatan jika honornya dipotong. Melisa juga tidak keberatan kalau Agatha memprioritaskan pekerjaan barunya yang lebih menjamin, ia sedikitnya sudah bisa merasakan perubahan dalam diri Andra sejauh ini.
Agatha menyambangi rumah Andra selepas shift paginya selesai. Meskipun masih sedikit lelah, ia tetap datang dan sudah membawa beberapa buku untuk membahas soal-soal SBMPTN tiga tahun kebelakang, setidaknya Agatha masih punya beberapa soal referensi untuk latihan miliknya dan sudah ia persiapkan beberapa hari yang lalu. Begitu sampai ia terkejut ketika ada seorang perempuan mungil di dapur sedang mengobrol sambil menghias kue bersama Melisa yang kebetulan sedang santai hari ini. Agatha tidak banyak bertanya, ia langsung saja naik ke atas begitu Melisa memintanya dengan ramah.
“Jadi, semisal nanti lo ketemu soal yang berbentuk cerita sehari-hari gini, lo bikin model matematikanya dulu. Bisa pake teknik persamaan aljabar yang dasar--”
“Andra…”
Kalimat Agatha terpotong ketika mendengar panggilan dengan intonasi imut bersamaan dengan suara pintu yang dibuka pelan.
“Kenapa, Ca?” yang dipanggil memutar kursinya dan menemukan perempuan berambut cokelat langsung melangkah menghampirinya sambil membawa mangkuk dengan beberapa potongan kue.
“Ini kue yang gue buat udah mateng, cobain.”
Andra menatap Marsha sekali sebelum mengambil satu potong dan memasukkannya ke dalam mulut. Marsha melihat Agatha dan menyodorkan mangkuk itu ke arahnya. “Eh iya, nih, cobain juga.”
Agatha sedikit tertegun dengan sikap Marsha yang tiba-tiba, padahal saat di dapur tadi perempuan itu menatap Agatha dengan tatapan judgement yang seketika membuat perempuan itu langsung tidak nyaman. Andra menatap Agatha dan Marsha bergantian kemudian berkedip dan meluruskan punggungnya di situasi yang entah mengapa berubah kaku. “Oh iya, Ta, ini Marsha. Yang kemarin gue bilang baru pulang dari Malang.”
Marsha tersenyum anggun seraya mengulurkan tangan, “Marsha. Panggil aja Caca.”
“Agatha.” yang menyebutkan nama tersenyum tipis.
“Gue denger dari tante barusan, lo masih kuliah juga, ya?”
Agatha mengangguk. “Iya, tapi sekarang cuti dulu.”
“Oh gitu, ambil jurusan apa? Siapa tau samaan, kan bisa sharing.”
“Pendidikan Bahasa Inggris,” jawab Agatha simpel.
“Oalah, gue ambil Hukum.”
Nggak nanya tuh, mbak. Agatha tersenyum tipis. Dalam hati ia sudah gemas ingin pulang saja rasanya, malas bercengkrama dengan tipikal orang seperti Marsha yang sok asik ini. Agatha kemudian menatap Andra, “Mau lanjut sekarang atau besok lagi?”
“Sekarang, lah. Lo kan baru disini setengah jam, enak aja mau pulang.”
Agatha menghela napas, Marsha tidak kunjung pergi dan justru menyimpan mangkuk dengan potongan kue itu disisi meja belajar. Tubuhnya berdiri disebelah Andra penasaran seolah ingin ikut belajar juga tanpa peduli bahwa tidak ada satupun orang dalam ruangan itu yang mengiginkan presensinya. Agatha mau tak mau tetap harus melanjutkan ditengah atmosfer yang tidak ia sukai. Perempuan itu kembali menerangkan mengenai teknik membuat model matematika dengan persamaan aljabar.
“Nah, misal sekarang kita mau pake metode persamaan subtitusi. Tinggal lo tandain aja, item A anggap aja ini nilai x, dan item B itu nilai y.”
“Terus?” Andra menyelipkan pensilnya ke telinga. Ia sedikit kebingungan di soal matematika dasar dan payahnya lagi matematika menjadi mata pelajaran yang diuji di ujian masuk perguruan tinggi nanti. “Gue masih nggak paham persamaan aljabar---”
“Hah? Serius, Dra? Ya ampun ini kan gampang banget, pelajaran SMP kali.” celetuk Marsha tiba-tiba.
Andra menatap Marsha dengan tatapan jengkel. Namun Marsha seperti tidak menyadari bahwa Andra sudah kesal bahkan sejak perempuan itu masuk ke kamarnya dan singgah di sana. Marsha tetap melanjutkan, ia kemudian mengambil sebuah pensil dari kotak pensil Andra dan membuat contoh penyelesaian. “Nih, ya. Gue ajarin. Ini kan biasa kita pake di soal persamaan linear dua variabel. Lo tinggal ganti aja variabelnya. Misal tadi kan item A itu dianggap nilai x, nah item B kita anggap nilai---”
“Apaan, sih, Ca?” tegur Andra.
Marsha menaikkan kedua alisnya. “Ya gue mau ajarin lo. Ini gue tau cara cepatnya dari guru bimbel gue waktu SMP.”
“Keluar, Ca.”
Dahi Marsha berkerut. “Lah. kok marah? Gue kan niat mau kasih tau---”
“Lo nggak mau keluar? Ya udah gue yang keluar.” Andra mendorong kursinya kebelakang dan berdiri. Tanpa menunggu Marsha bersuara lagi, laki-laki itu hendak berjalan pergi, dua langkah kemudian ia berbalik dan menarik juga lengan Agatha. “Lo juga ikut.”
“Andra,” panggil Marsha. “Gue nggak maksud buat---Andra, mau kemana?!”
Agatha kebingungan ia hanya mengikuti tarikan Andra pada lengannya. Entah mengapa Andra begitu marah. Ia mungkin terlalu sensitif, tapi Andra tidak peduli jika semua orang menganggapnya begitu. Andra tahu Marsha pintar, tapi apakah harus menunjukkan kemampuannya secara terang-terangan di depan Agatha seperti tadi. Andra benci memiliki perasaan iri seperti itu. Laki-laki itu mengambil kunci mobil yang masih teronggok di meja ruang tamu dan berjalan pergi. Agatha menyentuh lengannya begitu sampai di pekarangan rumah ketika mendengar Melisa meneriaki namanya.
“Andra, Mama lo manggil.”
“Bodo.”
“Kita mau kemana?”
Andra tidak menjawab. Ia membukakan pintu untuk Agatha dan naik ke kursi kemudi. Begitu mesin menyala ia langsung menginjak pedal hingga mobil melaju keluar dari pekarangan rumah. Andra hanya ingin lenyap, kemana saja asal jangan di rumah.
***
Jam menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Langit petang dan gelap karena awan mendung menyelimuti pemandangan diatas kota. Dan kini, disinilah mereka berdua sekarang, duduk menatap kosong ke arah luar mobil yang diguyur hujan deras. Agatha mendesah keras, harusnya tadi ia tidak usah ikut Andra, lebih baik pulang saja, tidur di rumah atau minum teh di saat hujan mengguyur malam hari sudah jadi yang paling nikmat untuk Agatha. Setidaknya itu lebih baik daripada situasinya dengan Andra sekarang, mereka terjebak hujan dan tidak tahu harus kemana.
Mobil yang Andra kemudikan berhenti di sebuah mini-market sisi jalan, tadinya Andra berniat membawa Agatha untuk makan ayam goreng di restoran cepat saji dekat mall. Tapi karena emosi, Andra tidak berpikir panjang, ia hanya mengenakan celana pendek, sendal dan pollo shirt. Tapi bukan itu yang menjadi masalah, melainkan dompetnya yang tertinggal beserta dengan kartu ATM dan surat-surat kendaraan lain.
“Mana hujan, dingin….” Agatha mendesah, kemudian dilanjut oleh suara cacing-cacing diperutnya yang sudah berisik. “…laper pula.”
“Suara perut lo?”
“Iye, napa?”
“Ya sama, gue juga laper.” jawab Andra lesu. Ia mengusap wajahnya frustrasi sebelum mengulurkan tangannya pada Agatha. “Pinjem duit lo, deh.”
“Apaan?”
“Laper, kan? Ya udah kita seduh mie instan aja di mini-market situ. Yang praktis-praktis aja.”
Agatha memutar bola mata. “Elu, sih. Pake acara ngambek segala.”
“Ya udah buruan, sih. Ntar di rumah gue ganti, dua kali lipat.”
Pada akhirnya mereka berdua sepakat untuk makan mie instan cup untuk mengganjal perut. Berhubung diluar masih hujan, Andra meminta Agatha untuk diam di dalam mobil sampai ia kembali dengan dua cup mie instan. Agatha buru-buru membantu membuka pintu mobil untuk Andra. Rambut cowok itu tetap kebasahan sedikit karena mobil mereka terparkir beberapa meter dari pintu masuk.
“Rambut lo basah,”
“Biarin, seksi.” jawab Andra asal.
Agatha memutar bola mata. Ia tidak menggubris celetukan penuh percaya diri dari laki-laki itu barusan. Ia fokus mengaduk mie miliknya dan menghirup aromanya yang menggugah nafsu makan.
“Nih, minumnya.” Andra meletakan dua botol air mineral di atas dashboard mobil dan Agatha hanya mengangguk.
Untuk beberapa menit, Agatha tidak banyak bicara selain fokus makan dan memandangi kaca jendela yang berembun. Mobil Andra terparkir dalam keadaan mesin mati dan kaca jendela yang diturunkan sedikit sebagai sirkulasi udara ternyata lebih membawa atmosfer hening dari yang Agatha kira. Bola matanya melirik ke kanan, menyadari kalau Andra makan sambil duduk bersila diatas jok dan menghadap ke arahnya, sementara ia masih tetap duduk seperti orang normal kebanyakan.
Agatha yang tidak ingin terlihat kaku sebisa mungkin mengontrol gerak-geriknya, perempuan itu akhirnya juga menyilakan kakinya diatas jok mobil dan memutar posisi duduknya sehingga kini mereka saling berhadapan.
“Gue mau nanya,” ucap Agatha, berusaha membuka percakapan dengan hal-hal yang sifatnya ingin tahu alias kepo. Duh, Agatha juga bingung mengapa rata-rata orang lebih suka membuka topik dengan bertanya dibandingkan membicarakan cuaca, hobi atau makanan favorit. “Marsha itu lebih tua dari lo?”
Andra menggeleng, ia menelan kunyahan dalam mulut sebelum menjawab. “Kita seumuran.”
“Tapi dia udah kuliah, tuh? Sekarang semester dua lagi.”
“Gue pernah nggak naik kelas sekali.”
Agatha langsung batuk mendengar itu, ia buru-buru membuka botol minuman dan meneguknya untuk melonggarkan tenggorokan. “Serius?”
Sambi menyeruput mie, Andra mengangguk. “Seriuslah. Gue sama lo paling cuma beda setaun. Lo harusnya sekarang masuk semester 4, kan?”
“Iya. Gue beresin semester tiga kemarin sebelum ambil cuti.”
“Kenapa cuti?” kini giliran Andra yang bertanya.
Agatha tersenyum getir. “Biasalah, apalagi kalo bukan persoalan finansial? Gue nggak seberuntung lo buat dapet jaminan masa depan.”
Andra tersenyum, rupanya Agatha selama ini memiliki pemikiran yang demikian terhadapnya. “Kalimat lo yang barusan bikin gue sadar, Ta.”
“Soal?”
“Kalau setiap manusia pasti selalu ingin berada ditempat manusia yang lain. Ternyata lo anggap gue beruntung karena hidup terjamin, tapi lo tau nggak? Gue sempet mikir kalau lo adalah orang yang lebih beruntung karena punya otak cerdas dan keluarga yang selalu ada buat lo.”
Mendengarnya, Agatha menarik napas. Ia takut kalau melukai perasaan Andra padahal ia tidak bermaksud ke arah sana. “Sebenarnya, keadilan itu sifatnya subjektif sih, Dra. Hidup ini barangkali nggak adil buat lo, tapi buat Tuhan, itu udah jadi porsi yang paling pas.”
Andra tertawa. “Denger lo ngomong serius gini, gue jadi gimanaaa gitu, Ta.”
“Lah? Bukannya tiap hari gue juga ngomong serius. Apa selama ini gue ngajarin lo, nggak lo anggap serius?!”
“Bisa jadi.” Andra tertawa usil, kemudian Agatha memukul lengannya. “Aduh, sakit ih.”
“Oh iya, Dra. Marsha kuliah di luar kota?”
“Iya, di Malang.” jawab Andra. Mie dalam cup-nya sisa sedikit, laki-laki itu meminum kuahnya sedikit. “Dia lagi pulang sebentar, cuma nggak tau deh sampe berapa hari.”
Agatha menelan ludah sebelum bertanya dengan hati-hati. “Kalian… udah pacaran berapa lama?”
“Hah? Siapa yang pacaran?” Andra melotot, terkejut dengan pertanyaan Agatha yang tiba-tiba.
“Lo, sama Marsha? Bukannya kalian pacaran?”
“Emang kita keliatan kayak orang pacaran?”
Ya enggak juga, sih, batin Agatha dalam hati.
“Kita nggak pacaran, tapi ntar tunangan. Gila, kan?”
Agatha lagi-lagi batuk. Kenapa jawaban Andra sangat tidak terduga hingga nyaris selalu membuat napasnya tercekat. “Tapi lo kan masih sekolah?”
“Ya enggak sekarang, tapi nanti.” Andra menimpali dengan nada santai, ia sudah tidak heran dengan orang-orang yang bertanya mengenai hubungannya dengan Marsha. “Gila, ya, Ta? Masa depan gue bukan hanya terjamin tapi juga terkekang. Gue nggak bisa milih gue mau sekolah dimana, mau kuliah di mana, dan mau nikah sama siapa. Itu makanya gue nggak pernah punya mimpi mau jadi apa, karena ujung-ujungnya juga percuma.”
Agatha menelan ludah, ia sepertinya sudah tidak bisa menghabiskan mie miliknya yang masih tersisa setengah, perempuan itu meletakannya dengan hati-hati di atas dashboard mobil dan hanya memegangi botol air mineral sambil memandang Andra dengan seksama. “Kalo boleh tau, ini emang karena culture keluarga lo atau---”
“Bisnis.” potong Andra. “Sebenarnya dari dulu keluarga gue nggak punya rules semacam ini. Kolot banget emang. Tapi, selama lima tahun terakhir bisnis Mama lagi nggak stabil semenjak Mama sama Papa cerai. Gue masih belum paham detailnya, cuma Mama selalu bilang kalau Marsha itu aset masa depan gue. Dengan nikah sama dia, kehidupan gue bakal terjamin karena Marsha anak tunggal, gue juga anak tunggal. Bedanya, cuma Mama sekarang single parent. Mama nggak punya siapa-siapa selain gue, dan gue juga nggak punya siapa-siapa selain Mama.”
Agatha tidak bisa merespon apa-apa karena ternyata permasalahan hidup Andra lebih complicated dari yang ia kira. Benar-benar diluar ranah yang bisa ia pahami. Ia seperti sedang tenggelam di tengah cerita keluarga kerajaan yang berputar pada isu mengenai kekayaan, keturunan dan jabatan. “Kalau Papa lo… gimana?”
Andra tertawa kecut. “Gue punya Papa, kok, cuma kayak nggak punya aja rasanya. Entah beliau emang udah nggak anggap gue anaknya.”
“Sekarang kabarnya gimana?”
“Dia hidup lebih bebas. Bisa lakuin hobi yang dia suka, tapi yang paling gue benci, dia nikah lagi. Awalnya, gue bisa terima alesan Papa pengen pisah sama Mama dulu karena ngerasa terkekang dengan Mama, apalagi dulu bisnis Mama lagi lancar dia aktif di banyak kegiatan sosial sementara Papa itu seniman, dia cuma terus ngelukis di rumah atau bikin pameran dan lo tau sendiri kan, kalo nggak setiap hari ada orang yang beli lukisan. Papa pisah sama Mama karena Mama terlalu egois, tapi setelah gue tau Papa nikah lagi, Gue pikir semua orang tua di dunia ini sama aja, semuanya egois.”
Andra menyeruput kuah dalam cup miliknya sampai habis dan bersendawa pelan. Laki-laki itu tertawa karena baru saja bersendawa padahal Agatha juga tidak mempermasalahkan hal itu. Agatha memandangi Andra yang seolah sudah mati rasa ketika menceritakan sedikit bagian buruk dari kehidupannya, bukti bahwa laki-laki itu sudah pasrah dan tidak peduli dengan alur hidup yang ia tempuh.
“Sorry, Dra.”
“For what? You did nothing wrong, though.” jawab Andra dengan kekehan. Ia malah kebingungan kenapa Agatha tiba-tiba meminta maaf. “Eh, hujannya udah reda, nih. Lo mau lansung pulang?”
“Tapi gue cuma bawa dompet sama handphone. Tas sama buku-buku gue masih ada di rumah lo.”
“Besok aja gue anterin ke tempat kerja lo.”
Agatha mengangguk setuju. Selama perjalanan ditengah hujan yang tinggal gerimis, Agatha tidak lagi banyak berbicara karena ia pikir ia sudah banyak bertanya. Andra disebelahnya hanya mengemudikan mobil dengan tenang. Laki-laki itu menggerakkan jarinya untuk menyalakan tape mobil, membuat suara musik setidaknya mengisi kekosongan mereka. Lagu milik Etham yang berjudul Better Now beputar di pukul setengah tujuh malam yang mendung.
Sekilas, Andra melirik Agatha yang tenggelam dalam pikirannya sebelum kembali mengalihkan pandangannya ke arah jalan raya di depan. Hari ini, untuk pertama kalinya Andra merasa lebih lega dari biasanya. Selama ini, Andra juga tidak pernah membicarakan perihal hidupnya pada siapapun, Agatha adalah yang pertama.