Kevin melihat lauk dan sayur yang ada di plastik. Dia kembali bangun dan terpaksa memakannya. Padahal, perutnya terasa sudah sangat penuh. Kevin mulai membuka plastik itu dan terbelalak melihat isinya.
"B-banyak sekali? Apa selama ini aku makan sebanyak ini?" gumam Kevin seraya melirik ke arah Yura.
Kevin menduga, gadis yang sudah terlelap itu pasti meminta penjualnya mengisi kotak mika dengan nasi dan lauk yang banyak agar dia bisa makan sampai kenyang. Kevin kembali menatap kotak mikanya. Dia menghela napas lagi. Terlintas di benak bahwa dia akan membuang makanan itu. Namun, dia urungkan niat secara tiba-tiba.
"Astaga," keluh Kevin menepuk dahi.
"Ck, kenapa rasanya sayang banget membuang makanan ini?" keluhnya.
Merasa sayang, Kevin pun mulai memakannya. Satu per satu suapan masuk ke dalam mulut sampai akhirnya nasi itu hampir habis. Dulu dia tidak terbiasa makan banyak. Sekarang perutnya serasa akan meledak karena diisi terlalu banyak. Kotak mika itu kosong sekarang. Dia baru membuangnya ke tong sampah.
"Ah, ya ampun. Perutku," keluh Kevin, mengelus perutnya.
Kevin bersungut-sungut menatap Yura. Jengkel karena gadis itu membuatnya makan tengah malam dengan porsi yang tidak umum.
"Papa ...," igau Yura.
Kevin terhenyak. Rasa jengkel itu berubah menjadi iba.
"Dia pasti merindukan ayahnya, kasihan."
Kevin melihat Yura bergerak, hampir saja jatuh dari tempat tidur. Kevin hendak menyentuh Yura untuk membuatnya berguling ke tengah, tapi dia mengurungkan niat karena takut Yura akan bangun dan berpikiran negatif padanya. Dia bergegas bergeser dan duduk di sebelah Yura agar gadis itu tidak benar-benar terjatuh.
***
Yura terbangun pagi buta itu. Dia mendudukkan diri di atas tempat tidur, lalu merentangkan kedua tangannya ke atas agar otot-ototnya merenggang.
Dia menengok dengan kagetnya ke samping. Kevin tidur sambil duduk. Yura tidak mengerti kenapa bisa Kevin tidur seperti itu. Dia mengguncangkan bahu Kevin perlahan.
"Arik, kenapa kamu tidur seperti itu?" tanya Yura usai Kevin membuka matanya.
"Eh, tadi Yura tidurnya kepinggiran, jadi aku–"
Kedua mata Yura terbelalak mendengar ucapan Kevin. Dia mendengkus.
"Jadi, kamu cuma mau ngejaga aku? Itu bikin kamu nggak tidur nyenyak? Arik! Aku udah bilang apa? Kamu harusnya istirahat yang banyak! Hari ini kita masih harus melakukan perjalanan!" marah Yura.
Kevin menggaruk tengkuknya. Dia sendiri merasa tidak tega jika Yura akan menggelinding ke bawah tadi. Jadi, Kevin duduk di sebelah untuk menjaga Yura. Namun, itu malah membuat Yura marah.
"Iya, aku sudah tidur banyak tadi, Yura. Sekarang Yura bisa mandi dulu. Kita lanjutkan perjalanan," sahut Kevin.
Yura mendengkus lagi sambil melipat selimutnya.
"Ini juga, selimut aku suruh kamu yang pakai kenapa kamu malah pakein aku?" gerutu Yura.
Kevin kembali meringis. Dia malah seperti seorang anak kecil yang sedang dimarahi oleh ibunya saja.
"Iya, maaf ya, Yura?" ucap Kevin.
Yura hanya mencebik dan beranjak masuk ke kamar mandi. Kevin menghela napas. Sekarang ada perempuan yang marah padanya. Diam-diam Kevin menghubungi Leo. Dia membawa ponsel, tapi dia simpan di sakunya dan dimode silent.
"Om Leo, gimana caranya merayu gadis yang marah?" tanya Kevin.
Segala hal telah Kevin coba, tapi baru kali ini dia menghadapi perempuan yang sedang marah. Biasanya dia akan cuek saja jika seperti itu.
Di ujung sana terdengar gelak tawa Leo. Kevin mendengkus mendengarnya.
"Om, aku serius! Buruan!" gerutunya seraya waspada jika Yura keluar dari kamar mandi.
"Dikasih bunga," sahut Leo.
Kedua alis Kevin naik semua.
Bunga?
Kevin menutup panggilannya agar tidak ketahuan Yura bahwa dia membawa sebuah ponsel. Dia cepat-cepat memasukkan ponsel itu ke saku bajunya.
Kevin memijat keningnya saat mendengar kata bunga.
"Bunga apaan? Aku belum pernah kasih perempuan bunga! Aneh-aneh aja!" keluh Kevin.
***
Wajah marah Andre saat pagi itu pun tidak bisa menemukan ketiga orangnya, sangat tampak. Pagi benar dia menyuruh asistennya untuk menghubungi ketiganya, tapi nihil juga seperti semalam.
"Sialan! Kenapa mereka bertiga itu kayaknya sengaja mematikan ponsel mereka?" geram Andre.
Andre menyuruh asistennya untuk mencari tiga orang itu. Lalu, dia berpikir bahwa dia harus mencari sendiri si Kevin.
"Baik, b******n! Aku akan mencarimu sampai ke ujung dunia sekalipun! Yura adalah milikku! Dan kamu, nggak bisa memilikinya jika belum melangkahi mayatku!" geram Andre, mengepalkan tangannya dengan rasa marah yang luar biasa.
***
Kevin sudah selesai mandi setelah Yura selesai. Dia melihat baju di atas tempat tidur. Meski cemberut, tapi Yura tetap menyiapkan baju Kevin. Dia mengambilkan baju ayahnya juga dari dalam tas. Seperti sewaktu Kevin tinggal di rumahnya, Kevin selalu dipakaikan baju Tanaka yang masih belum terpakai. Yura merasa iba karena baju Kevin hanya lima buah. Namun, sekarang Yura masih kesal pada Kevin karena Kevin tidak menjaga dirinya sendiri.
Suasana agak aneh terasa ketika mereka berdua hanya diam dan berbicara seperlunya saja. Yura telah membelikan bubur untuk makan mereka berdua saat Kevin selesai memakai baju.
"Yura marah?" tanya Kevin.
Yura cuma diam, tapi tangannya lincah membuka bungkusan bubur. Dia tidak menyahut juga ketika menyodorkan bubur ke tangan Kevin. Kevin agaknya merasa bersalah juga karena Yura marah padanya bukan karena sesuatu yang didebatkan, tapi dia marah karena tidak mau Kevin sakit.
Akhirnya, mereka makan pagi dalam diam. Kevin merasa tidak nyaman dengan itu. Padahal, biasanya dia tidak memikirkan perasaan wanita. Dia hanya mempermainkan wanita sepanjang hidupnya. Bersenang-senang dengan mereka dan meninggalkannya. Tadinya dia pikir, hidup memang harus seperti itu saat di luar negeri. Namun, sekarang semua berubah ketika dia bertemu dengan Yura. Dia pusing memikirkan bagaimana menenangkan wanita yang ngambek.
Apa aku memang harus nyari bunga seperti yang om Leo bilang?
Melihat Yura membuang bungkus buburnya ke plastik dengan wajah cemberut. Lalu, beranjak hanya mendesis 'ayo' pada Kevin yang artinya mereka akan segera pergi dari penginapan.
Kevin mengikuti langkah Yura. Gadis itu menyetop sebuah bus lalu menaikinya bersama Kevin.
Dalam perjalanan mereka masih saja diam membisu. Kevin memijat kepalanya. Kenapa wanita yang ngambek saja membuat kepalanya pening?
Bus itu penuh dengan orang-orang yang bau. Itu bukan bus eksekutif. Kevin merasa mual saat berada di dalam bus itu. Sudah kepalanya harus mikir Yura yang ngambek, ditambah lagi harus merasakan penciumannya terganggu dengan bau orang-orang.
Baru kali ini Kevin naik bus seperti itu. Dia melirik ke Yura di sebelahnya, yang sepertinya santai saja duduk dengan tenang, bahkan bisa memejamkan kedua mata sejak naik kendaraan itu tadi. Kevin menghela napas, menyandarkan punggung ke sandaran yang tidak bersih sama sekali. Dia menyugar anak rambutnya ke belakang.
Oh, apakah aku harus menyerah?