"b******k! Apa kita harus lapor pada tuan Andre soal ini?" keluh si kurus, mengelus tangannya yang sakit dipelintir oleh Kevin.
"Sama saja kita bunuh diri, Rus!" sahut si tatto, mengelus badan yang semua tulangnya bagai remuk.
"Benar Tatto. Kalo kita ke rumah tuan Andre, kita malah akan dibunuh karena kerjaan kita dia nilai nggak becus. Mendingan kita ikuti kata lelaki t***l, emm ... lelaki tadi. Pergi ke luar kota dan menghilangkan jejak!" timpal si gondrong.
Ketiganya terdiam di dalam pondokan kosong. Merenungi nasib dan memikirkan apa tujuan mereka selanjutnya.
***
Setengah berlari, Kevin kembali ke warung makan. Benar saja dugaannya, Yura sedang berdiri mondar-mandir dengan wajah cemas di depan warung makan. Beberapa orang juga tampak bersimpati terhadapnya.
"Ah! Itu dia!" ucap Yura dengan wajah berbinar melihat kedatangan Kevin.
Kevin mendekati Yura seiring dengan bubarnya orang-orang. Tidak terbayang bagaimana hebohnya Yura mencari Kevin, tapi tampak dari raut wajah dan suasananya, Kevin menebak pasti gadis itu kelabakan. Kevin sangat merasa bersalah pada Yura.
"Dari mana aja kamu, Arik!" geram Yura.
Andai Kevin anak-anak, tentu tangan Yura sudah gemas ingin menjewer telinganya.
"Emm, tadi aku cuma gerah di dalam warung, jadi aku jalan-jalan ke luar sebentar," sahut Kevin agar Yura tidak cemas lagi.
"Lain kali, kalo mau pergi, bilang dulu ke aku, Arik! Jangan main pergi sembarangan! Ingat kalo kita itu lagi terancam! Meskipun aku sudah memutuskan pergi dari rumah, tapi kalau tiba-tiba orang merencanakan sesuatu yang buruk dan terjadi pada kita, gimana? Terutama kamu Arik! Jangan jauh-jauh dari aku," omel Yura, berdecak terus tiada henti saat mengomeli Kevin.
Kevin menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia meringis.
"Iya, maafin aku, Yura."
Kevin hanya menunduk bagai anak kecil yang sedang takut pada kakaknya. Sungguh berbeda seratus delapan puluh derajat dengan saat dia menghajar tiga orang di pondok kosong tadi. Di hadapan Yura, dia menurut.
"Janji? Jangan lagi kamu pergi tanpa pamit?" tanya Yura, menyodorkan kelingkingnya ke hadapan Kevin.
Sungguh kekanakkan.
Namun, Kevin membalas uluran kelingking Yura, menautkannya dengan kelingkingnya sebagai tanda perjanjian bahwa dia tidak akan melakukan kesalahan lagi, sampai membuat Yura khawatir.
"Iya, aku janji sama Yura," sahut Kevin.
Yura mengulas senyum. Dia melepas kelingking, lalu menyodorkan satu kresek berisi mika dengan isi beberapa lauk dan nasi.
Kevin menerimanya dengan bingung.
Bukankah aku sudah makan sampai kenyang?
"Itu kalo kamu lapar tengah malam. Biasanya kamu kan lapar kalo malam-malam?" ujar Yura menjelaskan tanpa menunggu pertanyaan dari Kevin.
Kevin merasa malu sekali. Memang saat kehilangan ingatan, makannya banyak sekali karena pikirannya tidak jalan. Hanya memikirkan siapa dirinya.
"Baik, nanti kita makan sama-sama, ya?" sahut Kevin.
Yura terhenyak mendengar ucapan Kevin. Pria itu agaknya sudah mulai berbicara lebih banyak. Biasanya cuma diam dan diam.
"Kenapa?" tanya Kevin.
"Kamu aneh, nggak pendiam lagi. Jangan-jangan ingatanmu kembali," ujar Yura, berniat bercanda. Namun, Kevin agak kaget juga dengan candaan itu. Dia kembali diam.
"Mm, nggak juga. Kamu diam lagi, pasti ingatanmu hilang lagi," kekeh Yura.
"Ayoklah, kita kembali ke penginapan. Kita butuh istirahat. Besok kita harus fighting mencari tempat tinggal baru," ujar Yura, berjalan cepat mengajak Kevin kembali ke jalan menuju penginapan.
Kevin menghela napas lega. Ternyata Yura belum tahu bahwa dia sudah ingat kembali jati dirinya. Dia pun mengikuti Yura.
***
Setibanya di kamar hotel, Yura meletakkan bantalnya di atas karpet.
"Kita langsung tidur aja. Kamu tidur di atas, Arik."
Kevin menggelengkan kepala.
"Nggak, Yura. Aku lelaki, harusnya aku yang tidur di bawah. Aku akan menjagamu," ucap Kevin.
Yura tersenyum menghela napas menatap Kevin dengan penuh kebanggaan.
"Kamu kemajuan sekali," pujinya.
Yura mengangguk setuju dengan keinginan Kevin.
"Okelah kalo gitu. Aku tidur di atas dan kamu di bawah. Ingat untuk langsung tidur, Arik. Besok pagi benar, kita lanjutkan perjalanan. Aku takut ada orang-orang suruhan Andre maupun mama atau kak Shantika. Jadi, pagi buta kita harus segera meninggalkan tempat ini," pesan Yura.
Kevin mengulas senyum. Memang omongan Yura benar adanya. Ada orang-orang suruhan Andre yang sempat menemukannya, tapi sudah dia beresi dengan tangannya sendiri. Namun, Kevin tetap menyimpan itu semua dari Yura.
"Baik, sekarang kita tidur," ucap Kevin mengulang ucapan Yura.
Mereka pun merebahkan diri di tempat masing-masing. Baru sebentar, Kevin mendengar dengkuran halus dari atasnya. Yura sudah terlelap! Kevin melihat Yura tidak memakai selimutnya, malah meletakkan lipatan selimut itu di bawah, dekat Kevin.
Kevin menatap Yura yang sudah tidur kelelahan malam itu. Wajah gadis itu mengingatkannya kepada Tanaka. Hidung yang mancung, dengan dagu belah. Kulit Yura juga putih bersih dan selalu tertutup rapat dengan baju yang panjang. Kelopak matanya lentik. Pikir Kevin, mungkin itu keturunan dari mendiang ibunya. Kevin mengedip cepat dan menggelengkan kepala dengan pikirannya. Memang, di dalam sebuah kamar jika ada dua orang berbeda kelamin, konon katanya ada setan di tengah-tengah. Namun, entah kenapa Kevin bukan seperti Kevin yang sebelumnya, yang menghabiskan waktu dengan wanita-wanita. Dia malah ingin menjaga Yura malam itu.
Kevin memasang selimut untuk menutup tubuh Yura di atas tempat tidur. Lalu, dia sendiri tidur di atas karpet.
***
Neni kembali menghubungi Andre. Dia sangat kesal karena belum juga mendapat kabar dari Andre.
"Aku baru utus orang-orangku, Nyonya Neni. Aku beri waktu mereka tiga hari untuk bisa menemukan si t***l itu. Lalu, mereka akan membawakan lelaki itu hidup-hidup kepadaku. Nyonya santai saja, masih ada waktu dua hari lagi. Orang-orangku sudah terlatih dan mereka akan bisa menemukannya."
Neni mendengkus.
"Benar begitu? Sebelumnya saja, orang-orang kamu nggak bisa membunuhnya," sangkal Neni.
"Err ... itu mungkin sebuah kesalahan. Kata mereka, ada kejadian besar sewaktu memukuli lelaki bodoh itu. Jadi, aku pastikan sekarang dia tidak akan lolos lagi. Aku yang akan tangani sendiri," ujar Andre dengan penuh keyakinan.
"Oke, aku tunggu hasilnya. Selama tiga hari akan aku tunggu," sahut Neni.
"Baik, Nyonya. Aku berjanji," ujar Andre.
Andre mengulas seringai tipis.
"Huh, nggak sabaran. Baru juga tadi aku suruh orang-orangku, sekarang sudah dihubungi lagi sama Nyonya Neni. Apa dia nggak bisa menunggu sebentar saja?" gerutu Andre.
Dia menarik ponselnya lagi, mencoba menghubungi ketiga orang-orangnya. Namum, beberapa saat panggilan itu tidak bisa tersambung. Andre mengerutkan dahi. Dia mencoba menghubungi si kurus setelah si gondrong tidak bisa dihubungi. Sama, nomor di kurus pun tidak bisa dihubungi. Lalu, dia memencet nomor ponsel si tatto. Lagi-lagi, serupa dengan sebelumnya. Andre mulai panik.
"b******k, ke mana mereka itu? Kenapa mereka tidak bisa dihubungi?" gerutu Andre, memukulkan kepalan tangannya ke meja.