"Bagaimana aku bisa tidur nyenyak dan makan enak, sementara orang titipan papa tidak ada di sekitar?" desis Yura, menelan lagi nasinya dengan lidah tanpa rasa.
"Kamu pucat, Yura. Mendingan kamu pergi ke dokter. Mungkin, ingatan kamu soal lelaki t***l itu cuma karena kamu demam," celetuk Shantika, mengamati wajah Yura dan melihat cara makan adik tirinya itu.
Yura menggelengkan kepala lemah. Dia sangat merasa bersalah pada mendiang ayahnya.
"Jangan-jangan kamu juga gila karena lelaki tidak berguna itu," celetuk Shantika lagi.
Neni melotot pada Shantika, menyenggol kaki anak perempuannya dari bawah meja agar Shantika menghentikan celetukannya.
Shantika meringis sakit karena kaki Neni mengenai tulang kering. Namun, dia tidak mengeluarkan suara protes karena Neni memelototinya.
"Yura, apa kamu mau ke dokter? Ada benarnya omongan kakakmu itu. Kali aja kamu demam karena sesuatu yang berat terjadi pada kita akhir-akhir ini," ucap Neni.
Yura menatap ke arah Neni, lalu menyentuh wajahnya sendiri. Dia menempelkan telapak tangan ke dahi. Tidak panas sama sekali.
"Aku nggak demam," cicit Yura.
"Aku cuma malas makan. Aku cuma mau istirahat. Maaf ya, Ma? Makanku nggak habis," ujar Yura, beranjak dari kursi makannya dan berlalu begitu saja memasuki kamar dengan meninggalkan makanan di atas meja.
Neni menghela napas melihat sikap Yura.
"Mama, mendingan kamar Yura nggak perlu dikunci lagi. Dia sudah agak tenang, nggak teriak-teriak lagi seperti hari-hari kemarin," tukas Shantika usai Yura keluar dari ruang makan.
"Iya, tapi kamu kurangin ngomong kayak gitu sama Yura. Kita ini tinggal di rumahnya, jadi kamu harus jaga sikap."
Shantika terdiam mendengar peringatan Neni. Dia mengangguk pelan. Benar juga, mereka masih tinggal di rumah peninggalan Tanaka. Itu artinya, rumah yang mereka tinggali adalah milik Yura, anak kandung yang sangat berhak memiliki rumah besar itu.
***
Setelah memasuki rumah, Kevin merebahkan tubuhnya di sofa empuk. Tubuhnya terasa sangat lelah sekali. Para pelayan tergopoh-gopoh mendatanginya. Bahkan, seorang pelayan wanita memijat pundaknya seperti biasa.
Namun, Kevin merasa aneh dengan kebiasaan itu kali ini. Dia mengangkat tangan, meminta pelayan wanita tadi menghentikan pijatannya.
"Aku nggak nyaman sama pijatan kamu, mendingan kamu siapin air buat aku mandi."
"Baik, Tuan Muda."
Para pelayan yang berjumlah tiga orang itu memohon diri untuk menyiapkan keperluan Kevin. Menyiapkan mandi dan makan pagi untuk majikan mereka. Tidak ada satupun yang berani bertanya pada Kevin dengan kedatangannya yang ganjil.
Setelah mandi dan makan pagi, seorang lelaki berusia sekitar 40 tahun mendatangi Kevin. Pria bernama Leo itu adalah salah satu bawahan Brian.
"Tuan Kevin, kenapa tidak mengabari kami? Kami bisa menjemput Anda. Jadi, tidak perlu menggunakan taksi," ucapnya dengan wajah penuh penyesalan.
"Sebenarnya aku datang bukan untuk kepentingan apa-apa, Om. Aku cuma ingin kenal dengan perempuan yang dibilang papa. Malah helikopterku meledak di tengah hutan. Apa kalian nggak menemukan berita itu!" bentak Kevin dengan sengit.
Leo tampak serba salah. Dia sudah mendengar berita tentang helikopter meledak, tapi tidak menyangka bahwa Kevin juga menaikinya. Dia kira, hanya Oskar yang menjadi korban jiwa dalam peristiwa itu karena tugas luar dari perusahaan. Leo mengutuk dirinya sendiri karena tidak mengusut berita itu. Malah, dia sendiri sempat berpikir bagaimana bisa Oskar memakai helikopter perusahaan? Padahal kendaraan itu hanya akan dikeluarkan di saat darurat dan juga anggarannya sangat mahal.
"Maafkan kami, Tuan Kevin! Saya pantas untuk mendapatkan hukuman berat! Saya tidak becus mengurusi kepentingan perusahaan. Anda bisa memecat saya, Tuan Kevin!" ucap Leo, bersimpuh di hadapan putra atasannya itu.
Leo menduga bahwa Brian juga tidak mengetahui kedatangan putranya itu ke dalam negeri. Brian dan Naina berada di luar negeri sebelah barat, sementara Kevin berada di sebelah timur dan hubungan mereka baru renggang ketika Kevin mulai menyukai dunia malamnya. Jarang sekali Kevin menerima panggilan dari kedua orang tuanya.
Leo sudah mempersiapkan diri jika Kevin berkehendak memecatnya. Dia merasa memang tidak mendalami kasus helikopter beberapa waktu yang lalu. Dia anggap, memberikan dana asuransi pada keluarga Oskar dan mengganti helikopter untuk perusahaan itu sudah cukup. Namun, ternyata ada masalah lain. Kevin ada di dalamnya dan dia baru mengetahuinya sekarang!
"Semua orang punya kesalahan, Om Leo. Jadi, aku nggak minta pemecatan Om Leo. Bayangkan, Om Leo sudah mengabdi selama puluhan tahun di perusahaan dan karena kesalahanku, Om harus dipecat. Tidak adil, kan? Ini termasuk kesalahanku karena aku datang secara diam-diam."
Leo mengangkat kepalanya menatap Kevin. Dia memastikan apakah itu benar Kevin yang selama ini sangat bandel dan suka membantah orang tuanya? Ya, benar itu Kevin dan ternyata otaknya bukan hanya keegoisan semata. Dia punya sisi kemanusiaan juga. Benar jika seorang yang buruk pun ada sisi baiknya.
"Jangan bersimpuh lagi Om, bangunlah. Ada hal yang ingin aku tugaskan sama Om," ucap Kevin.
Leo bangkit dari simpuhnya dengan perasaan lega. Meski dia sudah siap jika harus dipecat, tapi keluarganya juga butuh makan. Selama ini, mengabdi pada perusahaan Julvan Group sungguh menyokong hidupnya. Dia bisa membangun rumah 1 miliyar untuk istri dan anak-anaknya dengan kecukupan sandang pangan.
"Om Leo, aku datang belum ingin terjun ke perusahaan seperti Kak Ellen. Tapi, aku datang ingin tahu siapa perempuan yang dijodohkan papa untukku."
Kevin berhenti bicara sejenak.
"Anda ingin saya mencari tahu perempuan itu?" tanya Leo.
"Aku sudah menemukannya. Dia putri tiri keluarga Tanaka."
Leo mengingat setiap kalimat dari mulut Kevin.
"Pak Tanaka sudah meninggal saat aku tinggal di rumah mereka dan pada akhirnya aku malah menikah dengan putri kandungnya, bukan putri tirinya."
Leo terhenyak mendengar penuturan Kevin. Dia tidak menduga Kevin akan mau menikah dengan pilihan ayahnya. Apalagi, itu bukan gadis yang dimaksud.
"Om Leo, aku hilang ingatan saat terlempar dari helikopter. Jadi, yang aku ingat bahwa aku menikah di hadapan jenazah pak Tanaka selagi aku lupa siapa diriku."
Leo meraup wajahnya. Hal yang mengerikan ternyata telah terjadi pada Kevin. Apa jadinya kalau Brian mengetahui hal ini? Kekacauan ini sungguh tidak terduga. Mulai dari kecelakaan sampai pernikahan. Bagaimana itu bisa terjadi?
"Maafkan atas ketidak tahuan saya, Tuan Kevin. Andai saya tahu Anda datang, pasti sudah saya selamatkan dan tidak perlu menikah dengan gadis yang tidak Anda sukai."
Kevin tersenyum tipis. Semua sudah terjadi dan dia sendiri sudah tercebur dalam masalah. Bukan saatnya ini berandai-andai. Namun, entah kenapa dia merasa tertarik pada kejadian itu.
"Sudah, semua sudah terjadi, Om. Sekarang, aku mau Om melakukan keinginanku. Aku ingin Om cari tahu tentang anak kandung Pak Tanaka. Namanya ... Yura."