"Om Leo, ada satu hal lagi yang ingin aku cari ... Andre dari keluarga Ganidar. Siapa dia sampai berani memukuli aku."
Leo melototkan kedua mata mendengar ucapan Kevin.
"Apa? Andre dari keluarga Ganidar memukuli Tuan Muda?" ucap Leo kaget.
"Iya, dia menyuruh orang-orangnya untuk memukuliku, bahkan ingin agar aku mati. Tapi, Om Leo tidak perlu menyuruh orang untuk membalasnya. Aku sendiri yang akan turun memberi dia pelajaran!"
Leo membungkukkan badan. Dia percaya bahwa Kevin bisa melakukan keinginannya. Tugasnya sekarang hanya mencari tahu orang-orang yang disebutkan oleh Kevin.
Kevin telah memiliki ponsel baru. Beberapa jam yang lalu, Leo menugasi orang untuk membelikan Kevin sebuah ponsel keluaran terbaru karena ponsel Kevin yang sebelumnya ikut terbakar bersama dengan helikopter. Kevin baru membuka ponselnya di dalam kamar, tiba-tiba Leo datang tergopoh.
"Tuan Kevin, Tuan Brian dan Nyonya Naina pulang," ucapnya tergesa karena ketakutan.
Kedatangan Brian dan Naina juga sangat tiba-tiba. Leo sudah memberitahukan keadaan Kevin pada mereka. Jadi, sebagai orang tua, meski bagaimanapun anaknya, mereka akan panik.
Belum juga Kevin menjawab, suara langkah kaki yang cepat mendatangi kamarnya. Langkah kaki itu sangat dia hapal. Dua orang yang sebenarnya sangat mencintainya.
"Kevin!" seru Naina.
Seorang ibu tentu saja adalah orang yang sangat khawatir jika terjadi sesuatu yang buruk kepada anaknya. Naina berlari mendekat dan langsung memeluk tubuh anaknya. Dia menangis sesenggukan.
"Kevin, apa yang terjadi sama kamu, Nak? Mama sangat cemas, kenapa ponsel kamu mati? Mama kira kamu masih marah pada kami, ternyata kamu terlibat kecelakaan helikopter. Kevin, Mama sangat kecewa pada diri Mama! Kevin, Mama sangat kaget kamu ada di helikopter yang mengorbankan jiwa Oskar!" cerocos Naina, memeluk erat putranya dan mengelus punggung seolah tidak ingin lagi terpisah dari sang anak.
"Kevin nggak apa-apa, Ma. Nggak apa-apa, Mama nggak perlu khawatir sampai nangis," balas Kevin.
Selama ini Kevin selalu bisa menjaga diri, bahkan saat dia melakukan kenakalan di klub, membuat keributan dengan para mafia, tapi ujungnya Kevinlah yang menang. Namun, ketika mendengar Kevin ada dalam helikopter yang meledak, Naina merasa sangat-sangat khawatir.
"Kevin, bagaimana ceritanya? Kamu bersama mendiang Oskar di dalam helikopter? Sebenarnya kamu mau apa?" cecar Brian.
"Leo! Kamu nggak becus mengurusi semua hal yang terjadi!" sungut Brian menuding Leo yang sudah memucat wajahnya.
"Pa! Ini bukan kesalahan Om Leo! Aku sendiri yang ingin pulang tanpa mengatakan pada satu orang pun di sini agar tidak ada penyambutan yang riweh!" potong Kevin, membela Leo.
Naina melepaskan pelukannya. Namun, dia masih duduk di sebelah Kevin, anak kesayangannya dengan memijat lengan Kevin.
"Baik, baik, Kevin! Lalu, bilang sama Papa apa maksud kamu ke sini tanpa bilang-bilang!" tukas Brian.
Kevin menarik napas dalam-dalam. Lalu, dia mulai mengatakan sejujurnya apa maksud kepulangannya.
"Papa ingat kalo Papa bilang mau jodohin Kevin sama anak sahabat Papa? Pak Tanaka?" tanya Kevin.
Brian mengerutkan dahi. Ingatannya melayang saat dua puluh tahun yang lalu. Saat Naina melahirkan, Tanaka dan istrinya yang sedang hamil mendatangi rumah mereka untuk menengok bayi Brian dan Naina yang tidak lain adalah Kevin.
Candaan itu terlintas dalam benak Brian dan kemudian Tanaka sempat menghubunginya beberapa bulan lalu menanyakan tentang janji mereka itu. Iseng, dia bertanya pada Kevin apakah dia mau menikah dengan anak Tanaka. Brian tidak menyangka bahwa Kevin menganggapnya sebagai keseriusan saat mendengar cerita Kevin.
"Jadi, Tanaka sudah meninggal?" tanya Brian.
"Iya, Pa. Dan aku malah menikah dengan anak kandung Pak Tanaka. Sementara, istri dan anak tiri Pak Tanaka yang seharusnya menikah denganku, sepertinya tidak baik terhadapku. Papa, aku kehilangan ingatan saat itu."
Tangis Naina makin menjadi mendengar keadaan anaknya beberapa waktu yang lalu. Kevin masih bungkam soal nyawanya yang hampir melayang di tangan orang-orang suruhan Andre. Naina bisa pingsan mendengarnya.
"Jadi, kamu sudah menikah, Nak? Apa kamu tidak mau dengan pernikahan itu? Kamu bisa bercerai dengan anak Pak Tanaka."
Brian menawarkan sebuah pilihan pada Kevin. Dia tidak ingin memaksakan kehendak, tapi dia juga menyerahkan semua pada Kevin.
"Itu urusanku, Pa. Yang Papa dan Mama perlu lakukan sekarang hanyalah mengikuti alur saja. Tentang istri dan anak tiri Pak Tanaka, itu juga urusanku. Papa dan Mama jangan sampai mengatakan soal pernikahan. Juga jangan sampai mengatakan apapun soal aku," beber Kevin.
Brian dan Naina saling berpandangan. Namun, mereka hanya menuruti kehendak anaknya.
"Jadi, kamu nggak akan bercerai dengan anak kandung Tanaka?" tanya Brian lagi, meyakinkan.
"Aku lihat dulu."
Brian dan Naina menghela napas. Menyerahkan semua pada Kevin.
"Baik, karena kita sekarang tahu Tanaka sudah meninggal, biarkan Papa dan Mama melayat ke rumah mereka."
Kevin menatap kedua orang tuanya.
"Tenang, kami akan berlagak tidak tahu apa-apa. Kami cuma ingin takziah ke rumah sahabat Papa saja sebagai tanda empati pada keluarganya," ucap Brian lagi.
"Oke," sahut Kevin.
Brian dan Naina menghabiskan waktu bersama dengan Kevin hari itu. Lalu, di keesokan harinya mereka mendatangi kediaman Tanaka.
Seorang asisten rumah tangga menyambut kedatangan Brian dan Naina.
"Mari, silakan masuk Tuan. Maaf, dengan siapa?" tanya asisten rumah tangga itu karena memang tidak mengetahui identitas Brian.
"Saya Brian Julvan Axel dan ini istri saya, Naina Julvan."
"Baik, silakan duduk. Saya akan panggilkan nyonya," ujar si asisten rumah tangga.
Brian mengedarkan pandangan ke sekeliling. Rumah yang cukup besar.
Neni mendengar nama Brian. Dia tergagap memanggil Shantika untuk menemui Brian dan Naina.
"Ganti bajumu dengan baju terbaik! Itu calon mertua kamu, Shantika! Kamu harus memperlihatkan sikap yang baik dan menunjukkan sikap yang elegan!" pesan Neni.
"Iya, Ma. Sebentar, aku ganti baju dulu," ujar Shantika.
Mereka menemui Brian dengan sikap sopan.
"Pak Brian dan Nyonya Naina, saya Neni, istri almarhum Tanaka dan ini anak saya, Shantika."
Shantika menyalami Brian dan Naina dengan santun. Brian menyampaikan ucapan bela sungkawa pada Neni. Lalu, mereka mengobrol basa-basi sampai ke perjodohan. Shantika memberi isyarat pada Neni agar membahas tentang Kevin.
Sebenarnya, menghadapi Brian dan Naina rasanya berdebar karena orang berpengaruh itu ada di depan mata Neni. Namun, demi kelangsungan hidup, dia memberanikan diri untuk membahas tentang perjodohan itu.
"Pak Brian, Nyonya Naina, apa putra Anda, Kevin jadi pulang? Kami ingin membicarakan tentang perjodohan yang disinggung oleh suami saya waktu itu."
Dengan menekan rasa malu, Neni nekat bertanya pada Brian dan Naina.
"Mm, begini Bu Neni. Anak saya belum bisa ke sini, jadi kami belum bisa membahas hal itu. Oh ya, yang mana putri kalian yang akan dijodohkan dengan anak saya?" tanya Brian.
"Saya, Om."
Shantika segera memegang dadanya, menunjukkan diri. Neni tersenyum dan membanggakan anak perempuannya itu.
"Iya, anak kami Shantika, dia adalah putri yang baik. Pendidikannya juga tinggi. Dia adalah putri kebanggaan kami," terang Neni dengan wajah berbinar menerangkan latar belakang anak gadisnya.
Tiba-tiba seorang gadis datang dari depan. Masuk dan mengangguk pada Brian dan Naina karena kaget.
"Itu?" tanya Brian menunjuk ke Yura.
Neni tersenyum.
"Dia Yura, anak kami juga, adik Shantika. Yura, mereka adalah Pak Brian dan Nyonya Naina, sahabat mendiang papa. Mereka datang untuk mengucapkan bela sungkawa."
Yura mendekat, menyalami dan mencium punggung tangan Brian dan Naina. Naina merasa Yura adalah anak yang sopan, bahkan Shantika tidak melakukan apa yang dilakukan oleh Yura.
"Terima kasih, Pak Brian dan Nyonya Naina. Dengan kerendahan hati, kami mohon maaf apabila ada kesalahan dari mendiang papa kami," ucap Yura, masih berdiri menunduk.
"Tidak ada kesalahan Pak Tanaka," sahut Brian, terkesima dengan kesopanan Yura.
"Terima kasih Pak. Saya mohon maaf untuk mohon diri dulu. Saya ijin membersihkan diri, silakan menikmati hidangan yang telah disediakan."
Naina dan Brian tersenyum pada Yura.
"Memangnya kamu dari mana, Yura?" tanya Shantika.
"Dari makam papa," sahut Yura singkat dan berlalu dari ruang tamu.