Brian menatap istrinya dengan pandangan penuh arti. Mereka paham sekarang, siapa yang menjadi istri anaknya.
"Oh, ya mendingan kamu bersih-bersih dulu," ujar Shantika karena agak malu adiknya pergi ke makam dan tidak ada yang membersamainya.
Memang sepeninggal Tanaka, Shantika tidak pernah mengunjungi makam. Dia sibuk dengan urusannya sendiri.
"Oh, kalau begitu, kami pamit dulu, Nyonya Neni. Kami masih banyak keperluan," tukas Brian yang sudah memiliki gambaran terhadap keluarga Tanaka.
"E-eh, baik Pak Brian. Kami tunggu kabar selanjutnya tentang Kevin," sahut Neni.
Brian hanya mengulas senyum tipis yang menyembunyikan sebuah arti, tapi tidak bisa dipahami oleh Neni dan Shantika. Neni dan Shantika hanya bisa menatap kepergian kedua orang besar itu dari rumah mereka.
"Ah, leganya. Mama, kira-kira kapan ya, Kevin mengunjungi rumah kita ini?" tanya Shantika seraya menghempaskan tubuh ke sofa, selepas Brian dan Naina pergi.
Ketegangan menghadapi orang tersohor di negeri itu sangat terasa. Seolah sekarang otot-otot yang menegang itu kendor usai orang yang disegani pergi.
"Sabar aja ya, Sayang? Yang penting tadi kita sudah bilang sama Pak Brian dan Nyonya Naina. Semoga sebentar lagi, jadi kamu akan hidup mulia dan bisa menyelamatkan hidup kita," sahut Neni, menyingkap rambut Shantika yang mengenai wajahnya.
"Nggak sabar," ucap Shantika.
Yura mendengar percakapan keduanya dan menghela napas. Usai membersihkan diri, dia masih merasa miris dengan hilangnya Kevin.
Menjelang sore, ketika semua sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing, seseorang mengetuk pintu rumah. Yura yang sedang menemani asisten rumah tangga di dapur, beranjak untuk membukakan pintu. Langkahnya dipercepat tatkala orang itu makin keras mengetuk pintu.
"Yura! Buruan buka pintunya! Berisik," sungut Shantika dari atas.
"Iya," sahut Yura.
Gadis itu sampai di depan pintu dan tidak bersangka apa-apa ketika memutar handle.
Melihat seorang lelaki muda berdiri tegak di depan pintu, Yura malah bengong tidak percaya. Baru beberapa detik kemudian dia memperlihatkan wajah yang berbinar.
"Arik? Kamu bisa kembali? Syukurlah," cicitnya.
Nyaris Yura hendak membuka lebar-lebar pintu rumah, tapi Neni sudah terlanjur datang dan mencegahnya.
"Apa kamu bilang?" desis Neni, melihat dari dalam siapa lelaki yang datang itu. Dia kira Yura berhalusinasi, tapi ternyata memang benar Kevin lah yang ada di depan pintu.
"Kamu! Pergi dari sini! Kenapa kamu belum mati, hah?" tolak Neni.
"Mama! Jangan bilang begitu pada Arik! Kita mestinya bersyukur dia bisa pulang dalam keadaan selamat!" tukas Yura, menahan pintu rumah agar tetap terbuka.
"Yura! Kami sudah membicarakan pernikahan dengan keluarga Ganidar! Kamu jangan menolak atau hidupmu akan sengsara!" ucap Neni meradang. Kenapa saar hidup mereka mulai tenang, Kevin datang lagi ke rumah.
"Aku tidak pernah menyetujui pernikahan itu, Ma! Aku sudah menikah dengan Arik, sesuai mandat papa!" sahut Yura.
Langkah kaki Shantika yang tergesa terdengar mendekat. Tak disangka, dia membawa satu ember berisi air kotor dan melemparkannya ke arah Kevin.
Yura terbelalak melihat Kevin basah kuyup karena ulah Shantika.
"Apa? Kamu mau bela dia, Yura? Dia pantas dapatkan air kotor! Karena dia ngotorin rumah kita! Pergi, nggak!" seru Shantika.
Tangan Kevin terkepal. Rahangnya mengeras. Tidak habis pikir kenapa Tanaka ingin menjodohkannya dengan Shantika. Rasanya ingin membalas, tapi dia ingat ucapannya pada ayahnya, untuk menyamar dan bermaksud melindungi Yura dari keluarga itu. Jika dia lakukan sekarang, Shantika dan Neni akan mencelakakan Yura. Kevin harus mengeluarkan Yura dari rumah itu.
"Mama, Kak Shantika! Bisakah kalian lebih manusiawi? Lihat wajah Arik agak lebam! Dia pasti telah mendapat perlakuan buruk dari Andre! Dia manusia kejam! Aku nggak mau menikah dengan Andre!" jerit Yura.
Neni menggeram. Dia ingin berpikir jernih, tapi tidak bisa. Yura membuat emosinya naik drastis. Terlebih, Kevin yang masih hanya diam saja.
"Oke, kalo kamu mau menikah dengan Andre, kamu masih bisa tingg di rumah ini, tapi kalo kamu mau hidup bersama dengan lelaki bodoh itu ... keluar dari rumah ini!" teriak Neni, mengacungkan jarinya ke jalanan, mengusir Yura.
Bibir Yura bergetar. Seharusnya, dialah yang berhak tinggal di rumah itu. Namun, kuasa Neni lebih tinggi. Bagai makan buah simalakama, jika dia tinggal, dia harus menikahi Andre. Jika dia masih ingin mempertahankan Kevin, dia harus pergi dari rumah itu. Bayangan kenangan bersama dengan ayahnya berputar di benak. Namun, wasiat ayahnya juga tetap ada di benaknya. Yura menghela napas. Kenapa sepeninggal Tanaka, dia merasa hidupnya sulit?
"Gimana, Yura? Aku tidak mau berlama-lama melihat lelaki itu!" celetuk Shantika, menatap Kevin dengan jijik.
Kevin sengaja memakai baju yang sama sewaktu diajak pergi dari rumah itu.
"Huh, kamu bingung kan, Yura? Kamu pasti ragu, dalam hatimu pasti bilang kalo kamu ragu hidup bersama dengan lelaki i***t itu?" ejek Shantika.
Yura menatap Kevin. Kevin juga menatap Yura. Tiba-tiba, tekad Yura menguat saat menatap wajah Kevin.
Yura menggulirkan pandangannya ke Neni dan Shantika yang masih menunggu jawabannya. Mereka agak tersenyum sinis karena menebak jawaban Yura, memilih tinggal di rumah Tanaka dan menikahi Andre. Namun, tebakan mereka keliru besar!
"Baik, aku memilih keluar dari rumah ini," sahut Yura, membuat Neni dan Shantika berubah air mukanya.
Yura memutuskan untuk memegang wasiat Tanaka!
"Apa? Yura! Kamu masih waras, kan?" ujar Neni.
"Sangat waras, Ma. Yura akan pergi dari rumah ini bersama dengan Arik! Beri waktu Yura mengemasi barang-barang."
Tanpa menunggu, Yura menerobos dua orang yang termangu menatapnya tidak percaya. Kevin mengulas senyum tipis. Yura telah memilih keputusan yang tepat untuk hidup bersamanya.
"Gara-gara lelaki macam kamu! Anakku jadi pembangkang!" gerutu Neni menatap sengit wajah Kevin.
"Iya, mau kamu beri makan apa adikku? Singkong? Nasi garam? Huh!" hina Shantika, melingkarkan tangan ke lengan ibunya dan menatap Kevin dengan pandangan kesal.
Kevin hanya tergelak mendengarnya.
"Kalian itu, hanya seonggok sampah," desis Kevin.
"Apa dia bilang?" sahut Shantika terbelalak tajam mendengar desisan Kevin.
"Ma, dia bilang kita sampah, Ma!" adu Shantika kepada Neni.
"Dasar bocah kurang ajar!" sungut Neni.
Dia hendak maju dengan tangan terulur hendak menampar Kevin, tapi Yura sudah keluar membawa sebuah tas besar.
"Cukup, Mama! Jangan pukul Arik! Aku sudah mengalah untuk pergi dari rumah ini! Jangan sentuh dia!" pekik Yura, berlari memasang badan di depan Kevin dan merentangkan kedua tangan.
"Yura, dia tadi bilang kami–"
"Sudahlah, biarkan saja, Shantika! Biar dia alami hidup dengan lelaki bodoh yang kurang ajar itu! Yura! Kamu ingat ya omongan Mama ini, dalam waktu seminggu, kamu pasti tidak akan kuat hidup dengannya!" ucap Neni dengan lantang menunjuk ke arah Kevin.
Yura segera menarik tangan Kevin pergi dari depan pintu rumahnya sendiri. Dia tidak ingin berdebat terlalu panjang. Meski dia sendiri bingung hendak ke mana, tapi lebih baik segera pergi dari rumah yang membuatnya muak itu.