Yura menarik tangan Kevin sampai ke perempatan jalan dengan terengah-engah. Kevin menghentikan langkah mereka.
"Kamu jangan bawa barang berat. Sini, aku bawakan," ujarnya mengulurkan tangan dan tanpa meminta ijin Yura, dia menarik tas besar yang ada di tangan kanan gadis itu.
Yura agak kaget mendengar ucapan Kevin. Baru kali ini Kevin menawarkan bantuan. Namun begitu, dia tidak tega memberatkan Kevin.
"Kamu masih lemah kondisinya, biar aku saja. Kamu masih dalam masa pemulihan. Nanti, kalo aku biarkan kamu bawa, malah memperburuk keadaan, gimana?" tanya Yura, hendak menarik lagi tas besarnya.
Kevin tetap mengalungkan tas itu ke pundak dan menggelengkan kepala. Dia berjalan di depan Yura. Yura menghela napas, betapa keras kepalanya Kevin, tapi dia akhirnya tidak bisa merebut tasnya.
Ah, biarlah. Nanti kalo dia kecapekan bawa tasku, dia akan taruh juga.
Yura mengikuti langkah kaki Kevin. Kedua matanya menatap langit. Angin sore berhembus, sepertinya langit mulai meredup. Yura menyadari sebentar lagi petang akan tiba. Seketika kepalanya pusing karena belum terbersit tempat tinggal untuk mereka. Dia menatap ke arah Kevin.
"Kasihan, kalo sampai kita tidak punya tempat untuk tidur malam ini, kita akan kedinginan di jalan," gumamnya.
Yura mendesah, merasa memiliki sebuah rumah untuk lebih dari sekadar berteduh, tapi nyatanya dia sekarang hidup menggelandang.
Demi ayahnya, dia membulatkan tekad untuk tetap bertahan.
"Ayo, percepat langkahmu, Arik. Untuk sementara ini, kita cari tempat kosong. Kita nggak bisa kan, tidur di bawah jembatan? Nanti kamu bisa masuk angin," cicit Yura.
Kevin sebenarnya juga ingin tidur di kasurnya yang empuk, tapi sepertinya dia masih ingin melihat bagaimana Yura.
"Ya," sahut Kevin.
Yura memeriksa kantongnya. Masih ada beberapa lembar uang. Dia menyimpan beberapa juta di dalam tas. Yura juga membawa buku rekeningnya untuk berjaga-jaga. Isi yang tidak banyak karena Yura terbilang boros juga di masa remajanya. Sekarang Yura menyesali semua itu. Namun, apapun yang terjadi harus dijalani.
"Kita nginep di penginapan aja, ya?" tawar Yura pada Kevin.
Kaki Yura juga sudah lelah. Mereka berjalan sudah cukup jauh dan cepat-cepat agar sampai di sebuah penginapan di pinggir kota.
Kevin mengangguk setuju. Mau bagaimana lagi? Mereka memang belum memiliki sebuah rumah.
Langkah mereka tiba di depan sebuah penginapan kecil. Hotel yang sederhana, bukan hotel mewah. Yura mengajak Kevin masuk. Kevin melihat ke sekeliling. Sungguh, baru kali ini dia akan tidur di tempat yang sangat sederhana seperti itu.
"Kami mau pesan kamar, masih ada tempat kosong, kah?" tanya Yura pada resepsionis.
"Oh, masih. Mau ... berapa kamar?" tanya resepsionis melihat Yura bersama dengan Kevin.
Yura terhenyak. Dia menatap uangnya. Memang hari itu dia punya cukup uang, tapi jika untum dipersiapkan tidak hanya sehari saja, uang itu akan habis. Penginapan dan makan. Yura memijat keningnya.
Apakah aku harus sekamar dengan Arik?
"Gimana?" tanya resepsionis, membuyarkan pikiran Yura.
"Emm ...," desis Yura, masih berpikir.
Yura menatap wajah Kevin. Pria itu tampak tenang dan pasrah.
Ah, dia pasti tidak paham apa-apa. Masa sih, dia mau berbuat seperti itu sama aku? Tidak akan mungkin, tapi ... malu juga.
Yura mengibaskan tangan dan mengabaikan pemikirannya saat ada lagi pasangan yang ingin memesan kamar antre di belakang mereka. Dia harus cepat mengambil keputusan.
"Baik, kami ambil satu kamar," ujar Yura.
Tanpa Yura ketahui, Kevin membelalakkan kedua matanya mendengar permintaan Yura.
Gadis ini, mau sekamar denganku?
"Yang dua bed," imbuh Yura cepat.
"Maaf, kamarnya tinggal yang satu bed," sahut resepsionis.
Yura bedecak. Dia melirik keluar. Jika harus melanjutkan langkah untuk mencari penginapan lain, maka akan memakan waktu lama karena penginapan lain jaraknya sangat jauh. Yura menggaruk kepalanya. Melihat wajah pasangan di belakang sudah agak bersungut, Yura merasa tidak enak.
"Baik, kami ambil satu kamar."
Resepsionis mengangguk dan memberikan harga pada Yura. Lumayan murah dari pada hotel mewah.
"Di lantai dua, ya? Ini kuncinya," ujar reselsionis menyerahkan sebuah kunci dengan nomor kamar.
"Terima kasih," sahut Yura, berlalu dari hadapan resepsionis.
"Arik, kita ke lantai dua, ya? Kamu kuat bawa tasnya?" tanya Yura, tidak melihat kelelahan di wajah Kevin.
"Kuat," sahut Kevin.
Yura tersenyum dan melanjutkan langkah ke tangga. Penginapan sederhana itu bahkan tidak memiliki lift. Mereka harus berjalan ke atas melalui anak tangga. Akhirnya mereka menemukan kamar dengan nomor di kunci. Yura membuka kamar itu dan membiarkan Kevin masuk. Agak canggung, tapi mau bagaimana lagi? Yura harus menghemat uang di kantongnya.
Yura menatap Kevin yang berdiri di samping. Pria berhidung mancung itu masih termangu. Memikirkan tempat tidur sederhananya.
"Kamu nanti tidur di tempat tidur, aku di karpet saja," ujar Yura.
Perlahan, Kevin melotot seraya menoleh ke arah Yura.
"Nggak, aku yang tidur di bawah," tukas Kevin.
Meski bagaimana, Kevin juga tidak akan tega terhadap perempuan.
"Tapi kan kamu masih dalam perawatan dokter?" timpal Yura. Seketika dia menepuk dahi.
"Ah, iya, dokter. Aku usahakan kamu bisa rutin pergi ke dokter," desis Yura yang tiba-tiba ingat rutinitas Kevin. Dia mengambil tas dari tangan Kevin lalu melangkah lemas dan meletakkan tas besarnya di atas karpet tipis.
Kevin membiarkan pintu terbuka dan mengikuti Yura duduk di atas karpet. Yura membuka tasnya, mengambil satu set baju untuk Kevin.
"Ini, kamu bisa pakai baju papa yang masih baru, belum terpakai. Maaf, cuma ini yang bisa aku usahakan. Besok aku akan cari tempat tinggal dan pekerjaan. Jadi, aku bisa memenuhi kebutuhan kita, emm ... maksudnya aku sama kamu," ujar Yura, meralat perkataannya.
"Mandilah dulu," titah Yura.
Kevin mengulas senyum. Dia meraih baju itu dan berjalan ke kamar mandi.
***
Neni mengepalkan tangannya sepeninggal Yura dan Kevin. Dia sangat kesal melihat Kevin yang hanya lebam sedikit di area bawah matanya.
"Kenapa dia belum mati juga? Padahal, kata Andre, dia akan menghilangkan nyawa manusia bodoh itu," sungut Neni.
Shantika mendecak. Dia juga kaget akan kedatangan Kevin.
"Mungkin Andre teledor karena membiarkan orang-orangnya kurang bagus dalam bekerja! Dia harus diberitahu, Ma! Meski Yura pergi, tapi pasti dia akan tetap berkeliaran di kota ini dengan lelaki bodoh itu. Itu akan membuat berita baru yang memuakkan!" sungut Shantika.
"Mama, mendingan Mama bilang sama Andre. Biar dia cari si bodoh itu. Biar dia tahu bahwa dia telah mempekerjakan orang-orang yang tidak becus!" desak Shantika.
"Iya, Mama kira semua akan berjalan lancar. Mama sudah akan mendesak Yura untuk menikah dengan Andre. Mama kira kita akan hidup tenang tanpa lelaki yang tidak bisa diharapkan itu. Tapi ternyata, apa yang terjadi di luar harapan kita."
Neni menghela napas memikirkan perkataan Shantika. Dia meraih ponselnya dan menekan sebuah nomor. Nomor Andre yang ingin dia hubungi untuk memberitahu kejadian yang tidak diduga itu.