Bab 12. Tidak Selesai-selesai

1003 Kata
"Ya! Lelaki itu kembali dengan tubuh yang utuh! Tidak ada bekas patah, selain hanya memar sedikit di bagian kepala. Andre, gimana kamu membayar orang-orangmu untuk memusnahkan lelaki i***t itu? Di mana keseriusan kamu untuk Yura?" ujar Neni dengan berapi-api. "Apa, Nyonya Neni? Lelaki itu sudah mati di tangan orang-orangku. Tidak mungkin dia kembali dalam keadaan baik! Orang-orangku sudah terlatih khusus. Apa Anda salah orang?" sahut Andre di ujung sana. Neni mendengkus karena Andre meremehkan penglihatannya. "Ada saksinya, Andre. Tanya Shantika, anak perempuanku. Dia juga melihat lelaki itu datang ke rumah dan membawa Yura pergi!" imbuh Neni. "Ck, maaf kalo begitu, Nyonya Neni. Saya akan mengkonfirmasi kepada orang-orang saya. Saya serius ingin menikahi Yura. Saya akan mencarinya, Nyonya. Nyonya tenang saja, ya? Saya bisa diandalkan." Neni menghela napas, agak lega dengan perkataan Andre. "Baik, aku pasrah pada kamu, Andre. Suruh orang-orang terbaikmu. Pokoknya, aku mau lelaki i***t itu musnah dari hadapanku!" seru Neni dengan keras. Neni menutup panggilan telepon. Dia tidak mau lagi melihat Kevin di sekitar. Lelaki itu dipercaya akan memperburuk nama baik keluarga mereka. Terlebih, Yura pergi bersama Kevin. Kepala Neni berdenyut seketika. Dia tidak menyangka Yura akan setuju meninggalkan rumah demi Kevin. "Gimana, Ma?" tanya Shantika. "Biarkan Andre yang mengurusnya, Shantika. Mama pusing berurusan dengan Yura," sahut Neni beranjak masuk ke dalam kamarnya. Shantika mengendikkan bahu. Dia ikut-ikut pasrah seperti Neni. Akhirnya hanya menunggu kabar dari Andre. *** Andre menggenggam sebuah tongkat. Menatap tajam ke tiga orang yang sedang menunduk dengan penuh penyesalan. "g****k! g****k! g****k!" makinya, sambil memukulkan tongkat kayu itu ke pipi masing-masing lelaki bawahannya. Ketiganya tidak berani membalas. Mereka ada di bawah kendali Andre. Mereka hidup dengan bayaran dari Andre. "Apa kerjaan sepele seperti itu, tidak bisa kalian selesaikan? Hah! Kalian ini, cuma bisanya menerima upah, tanpa bisa merampungkan tugas kecil macam membunuh lelaki i***t itu! Dia masih hidup! Kalian budeg, ya! Aku suruh kalian membuatnya mati! MA-TI!" tekan Andre. "Apa alasan kalian, sekarang?" tanya Andre, mengacungkan tongkat kayunya ke tiap-tiap hidung tiga orang itu. "Maaf, Tuan Andre. Saat itu ada kebakaran dan orang-orang keluar berhamburan. Jadi, kami tinggalkan dia karena dia sudah sangat lemah dan kami kira dia tidak akan bertahan hidup. Kami takut orang-orang itu akan memergoki kami," tukas si gondrong, membela diri. "Kenapa kalian takut? Kalian itu adalah bawahan Andre Ganidar! Anak pertama keluarga Ganidar! Kalian bisa bilang sama mereka soal aku! Aku akan tutup mulut mereka dengan ratusan juta! Apa kalian juga menyepelekan kekuasaanku?" tanya Andre dengan kecut. Wajah ketiganya pucat. Tentu saja saat itu mereka lari tunggang langgang karena harus berpikir cepat agar tidak ditangkap polisi atau lebih mengerikan lagi, mereka akan dihakimi massa. "B-bukan begitu, tapi–" "Jangan menyangkal! Kalian tidak becus! Dasar bodoh! Sekarang, kalian harus bisa menemukan dan membawa manusia i***t itu hidup-hidup padaku!" Andre mengangkat tangannya, menatap tangannya yang dikepalkan erat. "Kalo kalian nggak bisa, aku sendiri yang akan membuat nyawanya melayang," geram Andre, lalu menggulirkan pandangan ke arah tiga orang dengan pandangan tajam. "Kalian mengerti!" bentak Andre. "I-iya, Tuan. Kami mengerti," sahut si kurus. "Kalo begitu, kenapa kalian masih berdiri di sini! Cepat pergi! Cari lelaki itu sekarang juga!" bentak Andre geram pada ketiganya yang dia anggap lelet dan tidak becus itu. "Kalo sampai dalam waktu tiga hari tidak ketemu, nyawa kalian sebagai gantinya!" imbuh Andre saat kaki ketiganya mulai melangkah keluar dengan wajah pucat. "B-baik, Tuan! Kami akan segera menemukannya!" sahut si badan besar bertatto menganggukkan kepala dengan cepat. Mereka bertiga segera pergi dari ruangan Andre dan mulai berjalan keluar dari rumah Andre. "Sialan! Kemarin kenapa kamu suruh kita nggak segera membunuhnya? Akhirnya nyawa kita yang bakal jadi taruhannya ini!" sungut si kurus pada si gondrong. "Dia itu sudah lemas dan kepalanya sudah terbentur tembok! Gimana dia bisa hidup? Apa tuan Andre memang benar mempercayai lelaki itu masih hidup?" desis si gondrong. "Hidup nggak hidup, kalo tuan Andre sudah bilang dia hidup, ya kita harus cari!" sahut si tatto dengan sengit. "Ayo, kita cari. Waktu kita cuma tiga hari," imbuhnya. Mereka bertiga menghela napas. Lalu, mulai menaiki sepeda motor dan melaju ke jalanan. *** Kevin keluar dari kamar mandi. Yura sudah mendekap handuknya, menunggu di sisi tempat tidur. Dia menoleh ke arah Kevin yang sudah mandi dengan rambut basah. Yura mengulas senyum "Rambut kamu masih basah. Sini, biar aku keringkan," tawar Yura. Kevin ingat, saat dia tinggal di rumah Yura, memang gadis itu sering mengeringkan rambut. Demi melanjutkan dramanya, Kevin pun mau. Dia memberikan handuk ke tangan Yura. "Duduklah di karpet. Kamu sangat tinggi, aku nggak bisa menjangkau kepalamu," ujar Yura. Kevin pun menurut. Dia duduk membelakangi Yura sampai gadis itu mulai merentangkan handuknya untuk kemudian digosok perlahan ke kepala Kevin. Kevin merasakan lembutnya gerakan Yura. Namun, seketika Yura menghentikan gerakannya. "Kenapa ini? Kemarin kepala kamu sudah sembuh? Kenapa sekarang ada luka lagi?" tanya Yura kaget. Ada bekas luka baru di kepala Kevin yang disebabkan oleh ketiga orang Andre lima hari yang lalu. Kevin meringis dan menoleh ke belakang. Dia berpikir cepat bagaimana mengelabuhi Yura. "Waktu itu, kepalaku terantuk batu. Jadi–" "Orang-orang Andre memukulmu?" potong Yura, membelalakkan kedua matanya. Kevin tidak ingin Yura khawatir dan memperpanjang masalah. Cukup kehilangan ayah saja, Yura sangat terpuruk, apalagi melihatnya sakit. Mungkin gadis itu juga akan menyesali segalanya karena wasiat Tanaka tidak dia jaga. "Em, bukan. Aku kesandung, jadi kepalaku terantuk batu." Terdengar helaan napas pendek dari hidung Yura. "Kamu, kapan sih kamu nggak teledor? Luka kamu kemarin belum kering, sekarang ditambah lagi? Aku nggak mau kepala kamu sakit lagi! Ingatanmu belum pulih dan sekarang aku akan berusaha mencari uang untuk mengobatkanmu ke dokter. Kamu jaga diri baik-baik! Jangan sampai kepala kamu kena apa-apa lagi," omel Yura, seraya menggosok kepala Kevin dengan agak keras karena sambil mengomel. "Iya," sahut Kevin. Matanya sesekali terpejam merasakan gosokan handuk dari tangan Yura di kepalanya. "Beneran?" tanya Yura meyakinkan. "Iya," sahut Kevin lagi. Ah, bawel sekali gadis ini. Yura selesai mengeringkan kepala Kevin. Dia lalu beranjak menjemur handuk dan membawa sisir sebelum Kevin juga beranjak. Yura menyisiri rambut Kevin dengan halus. Kevin mengulas senyum. Kalo kayak gini, aku nggak akan selesai-selesai dramanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN