"Udah kering," ujar Yura, membuat Kevin tersentak.
Padahal dia baru saja ketiduran karena gosokan tangan Yura.
"Aku mandi dulu, terus kita cari makan. Malam ini kita bisa menginap di sini, tapi besok kita harus cari tempat tinggal. Semoga tabunganku cukup untuk mendapatkan tempat tinggal," cicit Yura pada Kevin.
Kevin hanya diam, berperilaku seperti biasanya dia di rumah Tanaka. Dia menatap Yura yang masuk ke dalam kamar mandi. Kevin tersenyum, mengambil sisir dan merapikan rambutnya. Handuk basahnya sudah diurusi oleh Yura.
Dalam waktu beberapa menit, Yura sudah keluar dari kamar mandi. Segera, Yura mengajaknya keluar untuk mencari makanan. Masih ada beberapa lembar uang dalam kantongnya. Diperkirakan dengan menu yang sederhana, dia bisa membeli makanan untuk beberapa hari bersama Kevin.
"Nih, kamu pake jaket ya, Arik? Jangan kena angin. Nanti kalo kamu sakit, aku nggak mau. Kita akan kesusahan karena belum menemukan tempat tinggal," ujar Yura mengulurkan sebuah jaket milik mendiang ayahnya.
Kevin masih termangu dengan kebaikan gadis itu. Dia sampai terdiam menatap jaket di tangan Yura. Yura tersenyum, salah arti dengan tatapan Kevin.
"Maaf, ini cuma jaket punya papa. Besok kalo aku punya uang, aku bakal belikan yang baru buatmu. Pakai, ya? Sementara," ucap Yura, memakaikan jaket itu ke punggung Kevin.
Kevin memakainya sendiri usai jaket itu berada di punggungnya. Lalu, Yura menarik lengan jaket yang dipakai Kevin keluar dari ruangan. Yura mengulurkan kunci ke tangan Kevin.
"Kamu yang kunci, ya?" pinta Yura.
"Baik," sahut Kevin mengangguk dan menuruti perintah Yura.
Dia merasa aneh sekali karena selama ini dia tidak pernah menurut kepada siapapun, bahkan kepada kedua orang tuanya. Semua orang dia anggap sama. Hanya saja setelah kecelakaan, dia bisa berbincang dengan orang tuanya.
Mereka berjalan keluar. Kevin melihat wajah Yura agak berbinar.
"Tadi aku lihat ada warung nasi. Dekat banget sama penginapan ini. Mudah banget kan?"
Kevin menaikkam sudut bibirnya sedikit. Begitu sederhana yang bisa membuat Yura tersenyum. Dekat dengan warung makan. Kevin melihat Yura berjalan cepat ke ujung jalan dan memasuki warung berwarna hijau tua.
"Arik! Ayo sini!" teriak Yura mengayunkam tangan tanda ajakan ke arah Kevin.
Kevin mempercepat langkah mendekati Yura. Jujur saja perutnya juga sudah keroncongan malam itu.
Yura menunjuk ke wadah-wadah berisi makanan yang sudah siap saji. Kevin menatap sekitar. Baru kali ini dia masuk ke warung makan sederhana. Karena perut lapar dan terdesak keadaan, dia pun terpaksa mau makan di situ.
"Warungnya cukup bersih, kok! Nggak usah ragu buat ambil. Nih piringnya! Kamu bisa ambil makan terserah kamu," suruh Yura seraya menyerahkan sebuah piring kosong ke tangan Kevin.
Yura memandu Kevin memilih masakan setelah mengambil nasi yang cukup banyak.
"Wow, makan kamu ad kemajuan. Biasanya kamu makan sedikit-sedikit, lho! Bagus," ujar Yura, padahal saat itu uang di kantongnya tipis. Namun, dia ikhlas bisa memberikan makanan ke Kevin. Apalagi, Kevin makan banyak.
Yura melihat Kevin hanya mengambil tahu, lalu dia mengambilkan ayam goreng ke piring Kevin.
"Aku–"
"Kamu harus cukup gizi. Kalo nggak, nanti kamu nggak sembuh-sembuh. Papa di Surga akan senang melihat kamu sehat, Arik!" ujar Yura, seraya mengambil satu potong ayam lagi ke piringnya, tapi miliknya lebih kecil dari punya Kevin.
"Iya," sahut Kevin.
Kevin masih irit bicara. Dia masih mendalami segala di sekitar. Terlebih, dia belum juga mengenal Yura. Kevin tidak mudah mempercayai orang lain, jadi dia masih ingin bersandiwara sebagai Arik.
"Oke, ayo kita makan," ajak Yura.
Kevin membawa nampan berisi piring dan mengikuti Yura duduk di sebuah kursi yang kosong. Malam itu, pembeli cukup banyak. Namun, masih ada tempat kosong.
Yura makan dengan lahap, sementara Kevin makan dengan perlahan memperhatikan makan Yura. Terlihat enak sekali. Kevin baru menyadari kalau Yura pasti belum makan sedari siang tadi. Kevin merasa kasihan. Tambah lagi, melihat Yura malah memberikan lauk yang besar kepadanya, bukan malah dia makan sendiri.
Baru menikmati makan, Kevin terkejut dengan kedatangan tiga orang suruhan Andre. Si gondrong, si kurus dan si tatto. Mereka tidak menyadari adanya Kevin di sana. Padahal, Kevin ada di sebelah duduk mereka. Yura juga tidak mengenali ketiganya karena dia tidak tahu orang-orang Andre yang memukuli Kevin.
Kevin bisa mendengar jelas percakapan mereka dari belakangnya. Kebetulan meja makan memang bersebelahan, tapi dia memunggungi tiga orang itu.
"Sialan, sampai malam ini, kita belum menemukan lelaki i***t itu!" geram si kurus.
Kedua orang yang lain sedang menikmati makan mereka. Sepertinya mereka kelaparan setelah seharian mencari Kevin.
"Iya, kita harus menemukan dia hidup-hidup lalu kita langsung bawa ke depan Tuan Andre! Kalo nggak, nyawa kita akan habis!" gerutu si gondrong.
"Kurang ajar memang si i***t itu! Kenapa dia nggak mati aja! Nambah ini urusan kita!" gerutu si tatto.
"Harusnya kita sudah dapat bayaran separuhnya, tapi gara-gara lelaki bodoh itu, bayaran kita jadi tertunda!" sahut si gondrong.
"Benar! Kalo ketemu, mau aku pukuli dulu sepuasnya lagi! Buat lampiaskan kekesalanku! Lelaki lemah itu!" geram si kurus.
Kevin mendengar semua percakapan itu dengan seringai. Dengan tenang dia menghabiskan makanannya. Sementara, Yura tampak ingin ke toilet.
"Arik, bentar ya? Aku ke toilet dulu. Ingat, kamu jangan ke mana-mana. Duduk saja di sini," pesan Yura, menatap kedua mata Kevin dengan penuh harap. Dia tidak mau Kevin hilang lagi.
"Iya, Yura tenang aja."
Yura terperanjat karena Kevin menyebut namanya. Dia mengulas senyum tipis. Lalu yakin dan beranjak ke toilet.
Di saat itu, kesempatan Kevin berdiri dan menghampiri meja makan tiga orang suruhan Andre. Ketiganya kaget sampai memuncratkan makanan mereka.
"Bah! Weh! Ini orangnya! Lelaki t***l ini tidak diragukan lagi ketololannya! Ternyata dia malah menyerahkan dirinya ke kita! Hahaha!" gelak si tatto.
"Benar!" sahut si gondrong dan si kurus bersamaan. Mereka sangat kaget, tapi senang dengan kedatangan Kevin.
"Kalian yang t***l," sahut Kevin datar.
"Heh? Apa katamu? Kamu itu lelaki bodoh mengatai kami t***l? Haha! Kamu mau minta pukul lagi?" tanya si kurus, meraih kerah jaket Kevin dan mengibaskannya.
"Iya, kalian itu t***l. Mau-maunya kerja sama Andre yang juga super dungu itu," imbuh Kevin.
Mendengar ucapan Kevin, ketiganya langsung bangkit dan si tatto hendak memukul Kevin, tapi Kevin berjalan santai keluar dari warung makan itu sampai membuat si tatto tersungkur.
Semua orang menoleh melihat si tatto tersungkur. Kevin menahan tawa melihatnya. Dia menengok ke belakang.
"Kalo mau buat keributan, jangan di dalam warung. Ini tempat usaha orang. Jangan kalian rusak usahanya," ucap Kevin datar dan melangkah keluar dari warung makan.