Kala mendongak di depan makam Gio sudah tidak ada siapa-siapa, rupanya Sera dan Mentari telah pergi. Barulah Ardan berani pergi ke sana. Ia berjalan setapak demi setapak menuju tempat peristirahatan Gio. Sampai di tempat, Ardan hanya diam beberapa saat lalu mensejajarkan tubuhnya dengan batu nisan Gio. Ia mengusap nama Gio yang tertulis di batu nisannya. Hingga detik ini Ardan seakan tidak percaya, masih seperti mimpi ditinggalkan oleh anak itu. Bahkan untuk pertama kalinya ia menangisi seseorang yang dengannya saja tidak dekat, bukan juga siapa-siapanya. "Tidur dengan tenang di sana," "Untuk apa anda di sini!" Ardan menoleh, reflek ia berdiri. "Untuk apa anda di sini!" ulangnya dengan berteriak. "Puas kan anda sekarang, Tuan?" "Aku turut berbela sungkawa kepadamu," "Ya terima kasi

