Keesokan paginya, Ardan benar-benar bergegas mencari keberadaan Mentari. Hal yang pertama ia datangi adalah Ocato Bakery, ia berharap mantan istrinya ada di sana. Suara pintu terbuka membuat Fira langsung menundukkan tubuhnya menyapa pelanggan yang datang, "Selamat datang di Ocato Bakery, ada yang bisa saya bantu?" ucapnya sopan disertai senyum yang merekah. "Ehm, euh begini," Ardan menjeda kalimatnya. Berulang kali ia menelan salivanya menghilangkan rasa gugup hanya karena hendak menyebut nama Mentari. "Me-Mentari apakah dia ada?" "Kalau weekend begini Bu Mentari libur, pak," "Lalu di mana saya bisa bertemu dengannya?" "Sebelumnya apa bapak sudah membuat janji dengan Bu Mentari, pak?" Ardan menggaruk belakang kepalanya kemudian menggeleng, meski tidak bertemu Mentari ia benar-benar

