"Mama!" teriak seorang bocah laki-laki yang sedang berlari ke arahnya.
Wanita yang menggunakan blouse berwarna coklat muda itu menoleh, "Jangan lari-lari Sayang, nanti jatuh gimana?"
Tak lama disusul sahabatnya yang berjalan di belakang sang anak, sambil menenteng beberapa kantong besar yang Mentari yakini itu adalah mainan baru untuk Gio. Mentari menggeleng-gelengkan kepala, perempuan itu tidak berubah, masih sering memanjakan anak laki-lakinya.
"Aku kan sudah bilang, jangan terlalu manjain Gio, Ser," ujar Mentari.
"Ya kan sekali-kali," sahut Sera santai. "Sini Gio kita buka!" Gio yang awalnya berada di pangkuan Mentari sontak bangkit dan berlari kecil ke arah Sera.
"Sekali-kali apanya, hampir tiap minggu kamu beliin dia. Mainan Gio udah banyak banget di kamar,"
"Lihat tuh Mama kamu protes mulu, Mama Tari nggak tau sih ada mainan keluaran terbaru ya Gi?" Bukannya menjawab Sera malah mengajak Gio membicarakan Mentari.
Gio hanya mengangguk-angguk seraya membuka box mainan barunya.
Setelah hampir tiga tahun hidup Mentari berjuang seorang diri untuk Gio, akhirnya kini rasa lelah Mentari selama itu terbayarkan dengan sempurna. Hidupnya dan juga hidup anaknya kini tercukupi, Gio sang anak juga tumbuh menjadi anak laki-laki lucu nan pintar. Anak itu tidak pernah merepotkan Mentari saat dirinya bekerja. Dari bayi, Gio sudah mengerti posisi Mentari, tidak pernah rewel saat toko benar-benar ramai, tidak pernah menangis jika dirinya lembur, karena Mentari butuh uang lebih untuk membelikan kebutuhan sang anak. Pengertian Gio membuatnya tak henti henti untuk terus bersyukur.
Lagi lagi ini semua berkat Sang Maha Kuasa yang seolah mengirim Sera untuk membantunya.
Kini wanita yang sepantaran dengannya itu sudah menjadi manager di toko roti tempatnya bekerja, dan sekarang toko roti tersebut sudah membuka cabang di mana-mana, pemilik toko itu benar-benar sangat mempercayai Sera. Alhasil jadilah dia yang diangkat menjadi manager oleh bosnya. Berkat Sera yang menjadi manager, Mentari juga mendapat percikan rezeki. Hampir sebulan ini ia menjadi asisten manager Sera, jujur Mentari sangat bersyukur akan hal itu.
Mentari juga bisa pindah ke rumah yang lebih layak dari sebelumnya berkat jabatannya sekarang.
"Gimana toko? Ramai?" tanya Sera.
Mentari mengangguk, "Makin hari makin rame."
"Tadi juga Pak Yuda berkunjung ke sini," lapor Mentari. Pak Yuda adalah salah satu investor di toko roti itu.
Sera dan Mentari hampir tidak percaya, kala mengingat toko roti yang dulunya kecil sekarang menjadi besar dan banyak orang yang terus berdatangan. Bahkan ini adalah salah satu toko roti terbesar di kota yang mereka tinggali.
"Nggak nyariin aku 'kan?"
Mentari menggeleng, "Aku udah bilang kalau kamu keluar."
"Tar, soal pembukaan cabang toko selanjutnya gimana?"
Ah iya soal itu, Mentari hampir tidak memikirkan hal tersebut. Ia menatap sahabatnya, "Kamu yakin buka di sana?"
"Ya gimana investor-investor menyarankan untuk membuka cabang di sana Tar," kata Sera.
Mentari terdiam, jujur ia masih belum siap untuk kembali ke kota kelahirannya itu. Kota yang akhirnya membuat Mentari pergi dari sana.
"Kalau jadi buka di sana, apa aku yang dikirim ke sana?"
Dengan berat hati Sera mengangguk, "Aku bakal sering-sering berkunjung ke sana kok. Kamu tenang aja Tar." kata Sera menepuk bahu Mentari.
Bagaimana kalau saat di sana ia kembali bertemu dengan Ardan? Ia tidak mau hal tersebut terjadi.
"Memangnya kamu mau sampai kapan menghindar kayak gini Tar. Udah hampir empat tahun loh, kalau Gio besar cepat atau lambat dia akan terus menanyakan keberadaan ayahnya Tar,"
Mentari tau itu, apa yang dikatakan sahabatnya tersebut memang benar adanya. Cepat atau lambat Gio akan menanyakan di mana ayahnya berada, di umur-umurnya yang masih tiga tahun Mentari masih bisa menggelabuinya dengan mengatakan ayahnya sedang bekerja di luar kota. Namun nanti saat usianya 5 atau 6 tahun, Mentari yakin jawaban templatenya sudah tidak berguna lagi.
"Tapi aku belum siap Ser," ujarnya lirih.
Sera mengangguk, hal pahit itu akan terus ada di pikiran Mentari sampai kapanpun. Perjuangannya tidak gampang, Sera tau itu. Seorang wanita yang seharusnya butuh kasih sayang di tengah keadaannya yang sedang berbadan dua tapi Mentari malah dibuang begitu saja.
"Tar, kamu pasti bisa. Demi Gio," ujar Sera.
***
Seperti rutinitas biasanya, pagi ini Mentari berangkat menuju toko dengan ditemani Gio. Mentari harus berangkat lebih awal karena Sera ada jadwal kunjungan ke toko cabang di beberapa tempat.
Ia melirik sang anak yang masih tertidur pulas dibangku depan. Mentari menarik kedua sudut bibirnya sempurna, kadang ia masih belum percaya kalau bayi yang dulu sering ia timang sebentar lagi akan masuk ke taman kanak-kanak saja. Iya, Gio sendiri yang meminta untuk segera sekolah, nanti saat umurnya genap 4 tahun. Dan Mentari mengiyakan permintaan Gio, memasukkan bocah laki-laki tersebut ke taman kanak-kanak.
Tak lama setelah hampir sepuluh menit ia berada di jalan, akhirnya tiba juga. Mentari menggendong Gio sambil menenteng tasnya, ia tidak merasa keberatan sama sekali, mengingat hal tersebut sudah sering Mentari lakukan.
Ia melenggang pergi menuju ruangannya. Tampak Gio yang masih nyenyak meski berada digendongan Mentari. Perlahan ia membawa tubuh mungil itu di kasur yang memang ia sediakan untuk Gio, kalau-kalau ia masih tertidur seperti sekarang.
Urusan Gio sudah beres, Mentari melanjutkan aktifitasnya. Ia mulai bekerja seperti biasa, mulai dari mengecek email, laporan toko dan juga meneliti keuangan. Ia benar-benar mencintai pekerjaannya. Hidupnya terlewat bahagia meski hanya berkutat dengan hal-hal yang itu-itu saja. Mentari bersyukur masih dikelilingi banyak orang-orang baik yang menyayanginya di lingkungannya sekarang. Bahkan sang anak juga tak pernah merasa kesepian berkat Sera, Fadil, dan para karyawan yang berada di toko. Elemen-elemen itu cukup untuk Mentari bertahan hidup.
Sembari memastikan Gio aman dari tidurnya, Mentari turun ke bawah melihat suasana toko yang tampaknya sudah mulai ramai pembeli.
"Aman Git?" tanyanya.
Gita mengangguk, "Aman Bu."
Semua karyawan sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Mentari mengulum senyum bangga, tiba-tiba ia tak tega kalau nanti ia benar dipindahkan ke toko cabang. Mentari sudah nyaman di toko ini. Perasaannya sudah menetap di sini, rasanya sangat berat meninggalkan orang-orang yang sudah menjadi saksi bisu perjuangannya. Ia menatap nanar segala penjuru toko. Sungguh hati Mentari berat untuk pergi dari tempat ini.
"Tar!"
Suara nyaring dari seseorang yang memanggil namanya membuat Mentari menoleh terkesiap, "Kak Yusuf!" beonya.
Laki-laki yang dipanggil Yusuf tersenyum kepada Mentari, "Masih pagi udah bengong aja, mikirin apa emang?"
Mentari mengusap tengkuknya yang tak gatal sambil tersenyum malu-malu, "Nggak mikirin apa-apa Kak." jawabnya berbohong. Jujur ia malu tertangkap basah oleh Yusuf dengan ekspresi anehnya.
"Mau pesen apa Kak? Kayak biasanya?" Ia mencoba mencairkan suasana meski perasaan malu pada Yusuf masih ada.
"Boleh deh,"
"Eh-" Ia sedikit aneh mendengar jawaban Yusuf.
"Sebenernya aku ke sini mau nengok Gio," terang Yusuf. Di toko yang dikelolanya memang tidak hanya menyajikan berbagai macam roti saja, ada beberapa minuman juga, salah satunya ada kopi dan jajaran-jajaran lainnya.
Oh jadi Yusuf datang ke sini berniat untuk bertemu dengan Gio, ah Mentari jadi malu lagi.
"Oh gitu, maaf kak. Kirian mau pesan," kata Mentari.
Yusuf terkekeh, "Nggak papa Tar, ini sekalian pesan kok. Boleh saya duduk?"
"Tentu boleh kak. Silahkan, aku bilang ke anak-anak dulu untuk pesanan Kak Yusuf ya," Mentari mempersilahkan duduk untuk Yusuf lalu pamit sebentar menuju tempat order.
"Nayla pesenan Kak Yusuf yang kayak biasa ya,"
"Baik Bu,"
Mentari kembali ke meja Yusuf, ia akan memberitau kalau Gio masih tidur.
"Udah Tar?"
Mentari mengangguk, "Sudah. Gio masih tidur kak. Apa mau dibangunkan saja?" Mengingat sejak kemarin anak laki-lakinya itu sering menanyakan ke mana Yusuf, karena sudah 2 hari Gio tidak melihat sosok Yusuf datang ke toko.
"Masih tidur ya?"
Lagi-lagi Mentari mengangguk.
"Ya sudah, tunggu dia bangun sendiri saja Tar. Kasian kalau dibangunin," kata Yusuf.
Laki-laki dihadapannya ini sangat tampan, pembawaannya yang sopan, penampilannya yang rapi, sungguh laki-laki idaman para wanita masa kini, Mentari rasa. Apalagi saat ia melihat Yusuf sedang bermain dengan Gio, detik itu juga Mentari ingin mengumandangkan takbir sekeras-kerasnya. Mengapa ada manusia dengan paket lengkap seperti Yusuf? Mentari hanya bisa mengelus d**a melihat manusia atau jelmaan malaikat tersebut.
Hampir saja Mentari lupa bahwa berkat Yusuf juga, Gio tidak merasa kesepian. Anak laki-lakinya merasa ada sosok pengganti sang ayah jika bersama dengan Yusuf. Bahkan pernah Gio bertanya apakah ayah kandungnya sama dengan Yusuf, yang begitu sayang kepadanya. Saat itu Mentari kaget mendengar pertanyaan dari seorang bocah cadel yang berumur belum genap 3 tahun.
"Permisi Pak, ini pesanannya," ujar Ilyas mengantar pesanan milik Yusuf.
"Terima kasih," sahut Yusuf.
Terlihat Ilyas mengangguk lalu pamit undur diri dari mejanya.
"Om Yusuf!"
Yusuf yang baru saja hendak menyeruput kopinya, teralihkan dengan suara khas Gio yang memanggil namanya. Seketika laki-laki itu tersenyum rekah, ia sudah rindu dengan bocah laki-laki itu. Mentari yang melihat ikut tersenyum juga, lihatlah bagaimana pengaruh Yusuf bagi Gio bahkan nama yang ia panggil terlebih dahulu bukan namanya.
Mentari jelas tidak cemburu melihat kedekatan sang anak dengan Yusuf, ia malah senang karena Yusuf memberikan kasih sayang terhadap Gio sehingga Gio tidak merasa kekurangan kasih sayang dari sosok seorang ayah.
"Om Yusuf kemarin ke mana aja, kok gak ketemu Gio?" Oh Gio terlihat sangat manja kepada Yusuf.
Yusuf mengangkat Gio ke dalam pangkuannya, ia mengenyampingkan kopinya yang masih tertata di atas meja padahal tadi ia berniat untuk meminumnya.
Laki-laki itu mengelus surai hitam milik Gio, "Om Yusuf kemarin pergi ke luar kota ada banyak kerjaan." curhat Yusuf, meski ia tau balita yang ada di pangkuannya itu tidak akan mengerti apa yang ia bicarakan. Gio hanya mengangguk-angguk saja, membuat Yusuf semakin gemas dengan bocah gembul itu.
Mentari hanya bagian penonton kedekatan mereka berdua, mungkin kalau seandainya mantan suaminya itu seperti Yusuf pasti keluarga kecilnya akan selalu dan terus bahagia. Namun saat sadar apa yang dipikirannya, Mentari menepis jauh-jauh.
"Maaf Kak, aku ke dalam dulu ya," pamitnya kepada Yusuf. "Gio sama Om Yusuf dulu ya, mama mau ngurusin berkasnya Tante Sera."
"Iya Mama," celoteh Gio yang masih asyik memainkan dasi milik Yusuf.
***
Jam sudah menunjukkan pukul dua belas lewat lima belas menit, ini sudah termasuk waktu istirahatnya. Semua tugas-tugasnya sudah ia selesaikan, Mentari menyenderkan tubuhnya ke kursi kerjanya.
"Akhirnya!" lenguh wanita tersebut. Setelah semua kerjaannya beres, ia bisa bersantai-santai ria sekarang.
Lima belas menit ia mencoba untuk memejamkan matanya, namun tidak benar-benar tertidur. Soal Gio, bocah laki-laki itu sedang pergi bersama Yusuf entah mereka akan pergi ke mana. Terkadang Mentari kagum pada sosok Yusuf. Mungkin jika orang lain yang melihat kedekatan antara Gio dan Yusuf, mereka akan mengira sepasang ayah dan anak. Memang seklop itu mereka berdua.
Tak lama terdengar suara pintu yang terketuk, Mentari menoleh, "Masuk!"
Kepala Gita muncul dari sisi sela pintu, "Maaf Bu. Ada yang mencari Bu Tari di bawah."
Mentari mengeryitkan keningnya heran, "Siapa Git?"
"Saya kurang tahu Bu,"
"Baiklah, saya akan turun sebentar lagi," ujar Mentari.
"Baik Bu," Gita kembali menutup pintu ruangan Mentari.
Sedangkan Mentari, ia sudah hendak bergegas ke bawah sambil merapikan bajunya. Ia turun sambil bertanya-tanya, siapa sosok laki-laki dan perempuan tersebut, wajahnya masih belum terdeteksi oleh Mentari sebab kedua orang itu sedang membelakanginya.
"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" sapa Mentari.