Mereka Datang

1127 Kata
Mendengar suara Mentari, keduanya langsung menoleh. Sesaat Mentari diam mengetahui siapa yang datang, jantungnya berpacu begitu cepat. Kilas balik masalah itu kembali berputar di kepala Mentari. Wajah ini, wajah yang sangat Mentari hindari akhirnya muncul juga. Kenangan pahit itu mengalun merdu dibayangannya. Tolong, Mentari belum siap dengan kenyataan yang ada. Ia belum memiliki persiapan apa-apa, guna menyelamatkan mental dan juga buah hatinya. Mentari sudah tidak punya apa-apa lagi selain Gio, dan ia juga tidak ingin berhubungan lagi dengan orang-orang yang tega membuangnya. Mentari sudah tenang sekarang dengan hidup barunya. Air mata Mentari menetes tanpa ia minta, kenapa di saat Mentari sudah bisa bangkit dan menyelamatkan hidupnya, mereka datang dengan tampang tak berdosa. Apakah mereka tidak tau seperti apa perjuangan Mentari untuk tetap waras ditengah gentingnya mental yang goyah? Itu menyakitkan, sungguh menyakitkan. Mereka berteduh di dalam rumah gedong, sedangkan Mentari dan bayinya harus tinggal di rumah kontrakan yang hanya satu petak. Mereka makan enak dengan masakan chef ternama, sedangkan Mentari dan bayinya harus memakan makanan yang benar-benar seadanya. Dan pertanyaan Mentari adalah, di mana mereka saat Mentari ada di situasi yang memprihatinkan itu? Di mana keluarganya, di mana suaminya? Yang ada mereka meninggalkan dan membuang wanita lemah tersebut. Namun saat mengingat perjuangan dimasa-masa terendahnya, Mentari menjadi bangga dengan dirinya yang ternyata bisa kuat sampai sekarang. Ia mengusap air matanya lalu menarik kedua sudut bibirnya kemudian menatap tegas ke arah dua orang di depannya yang kini ikut menetaskan air mata. Tetapi sungguh Mentari sudah tidak tergugah dengan hal tersebut, wanita lemah itu kini sudah berubah. Ia tidak lagi butuh belas kasihan dari orang-orang yang sudah menorehkan kenangan pahit di dalam hatinya. Dan sekarang untuk apa mereka kembali? Ternyata tidak mudah tersenyum saat hati sedang berantakan. Namun, Mentari tetap mencobanya. Ia berdiri di depan dua orang tersebut sambil memasang senyum khas di wajahnya. "Ada yang bisa saya bantu?" ulang Mentari. Ia memperlakukan dua orang di hadapannya ini sebagai pelanggan toko. Mentari masih memiliki sopan santun untuk menghormati orang yang lebih tua darinya, meski hatinya menolak untuk itu. Tiba-tiba, wanita paruh baya di depannya tersebut menubruk tubuh Mentari, memeluk erat tubuhnya. Mentari ingin membalas pelukannya, tetapi ia urungkan. Walaupun rindu, tetapi lukanya masih belum kering sempurna. Mentari menutup mata sebentar, meredam semua emosi jiwa yang takutnya meluap begitu saja. "Mama!" Gio berteriak sambil menenteng ice cream coklat kesukaannya. Anaknya itu berjalan cepat ke arah Mentari. Mentari bernafas lega, Gio menyelamatkannya. Kemudian disusul Yusuf yang tampak kaget dengan kedatangan dua orang sedang bersama Mentari. Yusuf sangat mengenal dua orang tersebut. "Loh Pak Rusdi, Bu Ambar?" Laki-laki itu langsung menjabat tangan keduanya. Mentari yang masih berdiri di samping Gio mengernyitkan dahi. Dari mana Yusuf mengenal dua orang ini? Sementara Gio, dia tidak peduli dengan apa yang sedang orang-orang dewasa perbincangkan. Bocah kecil tersebut lebih memilih menikmati ice cream coklatnya. Mata wanita paruh baya itu tak lepas dari Gio. Sejak Gio datang, penglihatannya tertuju pada Gio. Menurutnya, wajah Gio mirip dengan wajah anaknya saat kecil dulu. Tanpa sadar, air matanya menetes. Sontak, Gio menarik lengan Mentari lalu berbisik, "Ma kenapa Nenek itu menangis?" Mentari melirik sekilas, memastikan apa yang dikatakan anaknya itu benar. Dan memang benar, wanita tersebut menangis. Mentari tidak menjawab pertanyaan sang anak, ia mengalihkan pembicaraan Gio. Lagi-lagi, dirinya terselamatkan. Kali ini karena kedatangan Yusuf. Sekarang laki-laki itu yang sedang berbincang-bincang dengan dua orang yang baru saja menemuinya. Sedangkan ia hanya diam, duduk di samping Gio. Mentari sudah bosan sebenarnya, tapi tak enak hati dengan Yusuf yang masih di sana. Mentari juga belum bertanya tentang apa hubungan Yusuf dengan dua orang tersebut. Saat wanita itu hendak mengusap kepala Gio, Mentari refleks menarik tubuh anaknya. Pergerakan Mentari tak lepas dari penglihatan Yusuf dan suami wanita tersebut. Yusuf dibuat terkejut dengan sikap Mentari. Karena tidak biasanya, Yusuf melihat Mentari begitu. Mentari selalu membiarkan anaknya berinteraksi dengan siapa pun. Ia juga tidak melarang orang lain untuk mendekati Gio. "Maaf ini sudah waktunya Gio untuk tidur siang," ujarnya buru-buru lalu menggendong tubuh Gio pergi dari sana. Mentari membawa Gio masuk ke ruangannya. Gio menatap sang ibu aneh. Bocah laki-laki itu juga kaget saat tiba-tiba Mentari menarik tubuhnya. Anak tiga tahun itu mengetahui situasi yang membuat mamanya berbeda, entah feeling atau memang keadaan yang memaksanya untuk dewasa sebelum waktunya. Mentari mengusap wajahnya sedikit kasar, ia belum bisa mengontrol diri karena ini memang terlalu tiba-tiba menurutnya. Ia mengambil gelas yang berisi air putih lalu menegaknya habis, berharap perasaan kesalnya hilang meluap begitu saja. *** Keesokan harinya Sera datang buru-buru mencarinya, bahkan ia tak sempat bertegur sapa dengan para karyawan yang sedang bekerja di bawah. Yang ada dipikiran Sera hanya Mentari, ia ingin tau betul tentang kejadian kemarin. "Tar?" Ia mengetuk ruangan Mentari dengan tidak santai. "Kamu di dalam?" "Iya sebentar Ser." Mentari berjalan mendekati pintu lalu ia membukanya. "Bagaimana bisa mereka datang ke sini? Apa memang mereka sudah tau kamu di sini? Terus apa mereka tau keberadaan Gio?" Sera langsung mencerca Mentari dengan beberapa pertanyaan. Mentari menyodorkan jus jeruk favorit Sera, "Minum dulu Ser. Kamu udah kayak orang mau interview aja." "Aku khawatir soal Gio. Takut setelah mereka tau Gio kalau dia darah daging Ardan, mereka akan rebut Gio dari kamu," terangnya. Bahkan Mentari saja tidak berfikir sampai sejauh itu dan sekarang ia malah terbenani jika hal tersebut terjadi, bagaimana dirinya? Apakah rela melihat Gio dibawa pergi dari dirinya? Jelas tidak! Itu harta satu-satuya yang Mentari punya, apapun upaya akan Mentari lakukan untuk membuat Gio tetap ada di sampingnya. "Apa mereka akan setega itu ke aku Ser?" Mentari mencoba untuk tidak terpancing. "Mereka saja tega mengusirmu saat itu," ucap Sera. "Jangan temui mereka lagi Tar. Kalaupun mereka keukeuh untuk bertemu, suruh datang ke sini saja." Benar, mereka tega mengusirnya. Meski sebenarnya semua orang malam itu tidak mengetahui kehamilannya. Mentari mengangguk lemah. "Yusuf bagaimana mereka bisa kenal?" Mentari mengedikkan bahu, "Aku belum tau soal itu Ser. Belum bertanya juga." Bahkan kemarin ia tak tau pulangnya Yusuf. "Sebaiknya kamu berjaga-jaga dulu Tar," pesan Sera, memang Sera tak bisa menemani Mentari. Ia harus keliling-keliling ke beberapa toko cabang. "Iya Ser. Untuk toko cabang yang di-" Mentari menjeda kalimatnya, berat mulutnya meneruskan. "Kalau soal itu harus tetap berjalan Tar," Sera juga tidak tega tapi ini memang perintah. Mentari menghembuskan nafas pelan lalu mendongak menatap sahabatnya yang tampak merasa bersalah, "Udah nggak papa aku mau kok buat kesana. Aku harus profesional Ser. Dan mungkin benar apa yang kamu katakan, cepat atau lambat aku akan kembali bertemu mereka." Sera menepuk bahu Mentari, ia tau itu tidak mudah bagi sahabatnya, "Yang sabar, kamu bisa lewatin semuanya." nasehat Sera. Ya, apa yang harus Mentari lakukan selain hanya bisa pasrah dengan takdirnya? Rumit memang, namun biarlah. Biarlah semesta berjalan semestinya. Pahit atau manis cobaan yang akan Mentari terima, ia akan tetap menerima dengan hati yang lapang. Toh hidup Mentari selama ini tidak tergantung kepada mereka kan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN