Tepat satu bulan setelah kedatangan tamu tak diundang, Mentari harus benar-benar pergi ke tempatnya semula. Tempat di mana rasa sakit itu dimulai.
Wanita tersebut menggeret kopernya menuju apartemen yang akan menjadi tempat tinggalnya selama di sana, sambil menuntun Gio yang tengah memeluk boneka dino kesayangannya. Tampaknya bocah laki-laki yang ada di sampingnya itu terlihat begitu senang, mungkin ia pikir mereka sedang pergi berlibur. Mengingat memang ini pertama kalinya Mentari mengajak Gio berpergian keluar kota.
"Ma, Tante Sera nggak ikut?" celotehnya.
Sambil membuka kunci pintu apartemennya Mentari merespon Gio, "Enggak sayang, tapi nanti Tante Sera bakal sering ke sini."
Mendadak wajah Gio berubah sendu, "Ma kita pulang aja yuk."
Sontak Mentari menoleh mendengar penuturan sang anak, ia mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi Gio, "Kenapa pulang kan kita baru sampai?" Ia mengelus pipi Gio yang tidak tersenyum lagi.
"Gio nggak suka di sini," jawabnya sambil mengedarkan pandangannya ke lorong-lorong sepi. "Kita nggak usah liburan aja ya Ma, Gio lebih senang di sana." ujarnya kemudian menunduk.
Mentari tidak tega, ia memeluk sang anak, "Nanti Tante Sera ke sini kok. Kan ada Mama juga di sini Nak."
"Tapi Gio mau ada Tante Sera, Om Fadil, Om Yusuf, Mbak Gita, Mas Ilyas, pokoknya Gio mau di sana aja Ma," Ia menyebutkan semua nama-nama orang yang memang sering menemaninya bermain.
Baru kali ini Gio rewel begini, mungkin ia merasa asing dengan tempat baru apalagi keadaan tempatnya ini benar-benar sepi, "Kita masuk dulu yuk. Katanya tadi Gio mau minum s**u coklat, iya 'kan?" bujuk Mentari.
Respon Gio tidak sesemangat biasanya, ia hanya mengangguk kemudian masuk terlebih dulu dengan kepala menunduk. Mentari langsung menuju pantry kecil yang ada di apartemen barunya. Membuatkan sang anak s**u kesukaannya, untung tadi ia sebelum menunju apartemen berinisiatif membeli s**u bubuk untuk Gio.
Tak lama segelas s**u coklat sudah siap diantar, ia membawa gelas tersebut di sofa kecil yang akan menjadi ruang tamu nantinya.
"Terima kasih Ma,"
Mentari menyungingkan bibirnya, "Sama-sama Sayang." ujarnya seraya membantu Gio minum.
Gio meneguk habis susunya, tapi Mentari tau bahwa Gio masih dalam mood ingin pulang. Mentari mencoba menelfon Sera, biar sahabatnya juga ikut membujuk Gio agar dia kembali tersenyun lagi dan sekalian juga ia mengabarkan bahwa dirinya sudah sampai apartemen sekarang.
Di dering ketiga, wanita itu akhirnya mengangkat video call dari Mentari, "Halo Tar!"
"Iya Ser. Ini aku udah sampai apartemen sekarang,"
"Lancar semuanya 'kan?"
Mentari mengangguk, "Cuman nih si bocil minta pulang terus, padahal baru juga sampai." Ia mengarahkan kameranya ke Gio yang sedang menekuk wajah.
"Loh kok kusut gitu mukanya?" tanya Sera tersenyum kecil, ia baru melihat Gio pundung seperti ini.
"Gio mau pulang Tante," adunya.
"Kenapa pulang, kan enak di sana?"
Gio menggeleng, "Di sini sepi, Gio nggak suka."
Sera mengerti sekarang, "Besok Tante Sera ke sana kok, nanti kita ke toko baru lagi. Jadi Gio bisa main-main sama yang lainnya, kenalan sama teman-teman di sana, gimana?"
Meskipun sedikit tidak membuatnya lega, Gio tetap mengangguk.
"Ya sudah, Gio istirahat dulu ya. Besok pagi Tante ke sana,"
"Iya Tante,"
Mentari mengarahkan kembali kamera ke dirinya, ia hanya mengedikkan bahunya bingung, "Kamu istirahat dulu deh Tar."
"Iya udah Ser. Aku matiin ya,"
Sera mengangguk. Dan panggilan berakhir.
Mentari berdiri dan beranjak menuju satu-satunya kamar yang ada di sana, apartemennya tidak terlalu besar. Hanya ada satu kamar tidur, ruang tamu, ruang santai, kamar mandi dan juga dapur. Ya sangat layak jika ia tempati bersama Gio.
Mentari menata baju-baju dari kopernya, lalu ia pindahkan ke lemari. Setelah ia rasa semua sudah rapi dan tertata di dalam lemari, ia kembali ke ruang tamu guna menyuruh Gio untuk segera beristirahat.
Gio masih asik dengan mainannya, "Sayang istirahat dulu yuk." ajak Mentari.
Sang anak mengangguk kemudian merentangkan tangan, rupanya bayi besarnya itu tengah ingin berada di gendongan Mentari.
"Minta gendong ternyata," Ia menerima uluran tangan Gio dan langsung menggendongnya.
***
Pukul 8 pagi Mentari sudah berada di depan toko cabang barunya, Sera juga datang di acara pembukaan toko cabang tersebut. Gio yang berada di pangkuannya mulai bosan mendengarkan sambutan-sambutan dari para jajaran investor.
"Gio bosen?" tanya Mentari.
Gio mengangguk. Untungnya di sebelah toko terdapat sebuah taman bermain, terdapat juga permainan untuk anak-anak. Sejak mereka datang Mentari tau, bahwa Gio ingin pergi ke sana. Terlihat dari mata miliknya yang terus-terusan melihat ke arah taman, "Mau bermain ke taman?" tawar Mentari.
Seketika Gio menyunggingkan bibirnya seraya mengangguk, "Apa boleh Ma?"
"Boleh dong, tapi mainnya jangan jauh-jauh ya sayang. Ingat jangan sampai ke jalan raya," Mentari memperingatkan sang anak, untuk tetap berada di area taman saja.
"Iya Mama," Buru-buru ia berangsut turun dari pangkuan Mentari.
"Hati-hati Sayang,"
Sera yang melihat anak sahabatnya berlari keluar menanyakan pada Mentari, "Tar mau ke mana itu Gio?"
"Dia mau main di taman Ser,"
Sera mengangguk lalu kembali fokus ke acara yang sedang digagas. Mentari sesekali melirik ke arah Gio bermain, memastikan apakah anaknya baik-baik saja di sana. Entah sejak dirinya berada di kota itu, hatinya sedikit was-was. Beberapa kemungkinan ia pikirkan. Apalagi setelah orang tua Ardan mengetahui tentang keberadaan Gio, meskipun mereka belum mengetahui pasti soal Gio anak kandung putra Ardan atau bukan.
Setelah hampir satu jam akhirnya acara telah usai. Mentari langsung bergegas menemui sang anak. Ia bernafas lega saat melihat Gio asyik bermain ayunan seorang diri dengan memegang permen kapas ditangannya. Mentari mengeryitkan kening, bertanya darimana Gio mendapatkan permen kapas tersebut.
"Sayang dari mana Gio mendapatkan permen kapas ini?"
Gio bersorak ketika melihat Mentari datang, "Itu Mama tadi Gio dapat dari nenek nenek yang kemarin."
"Nenek nenek yang kemarin?" Kata Mentari mengulang dan juga mencoba mencerna perkataan Gio.
Gio mengangguk, "Yang waktu datang ke toko Mbak Gita, yang nangis waktu lihat Gio."
Mentari tercekat, ia melirik kanan kiri mencari orang yang dimaksud Gio. Rupanya harapan Mentari untuk tidak bertemu dengan orang-orang itu lagi akan sia-sia.
"Lain kali jangan menerima pemberian orang lain ya," ujar Mentari sedikit tegas.
"Baik Ma," sahut Gio menunduk. Gio tidak tau mengapa sang mama tiba-tiba melarangnya untuk bertemu orang-orang baru, padahal Gio merasa bahwa nenek yang memberikan ia permen kapas itu orang baik.
Tepukan di bahu Mentari membuatnya tersadar dari lamunannya, bahkan ia tidak menyadari Gio yang sudah tidak ada disana.
"Tar," itu suara Sera.
Mentari mendongak, "Kenapa malah ngelamun di sini?" tanya Sera heran. "Gio juga udah masuk ke dalam tuh."
"Ah iya," Kata Mentari menoleh ke ayunan sebelahnya ternyata kosong.
Sera curiga, tidak biasanya Mentari begini, "Kamu kenapa?" Ia duduk di ayunan sebalah Mentari.
"Kamu tau tadi Ibu Mas Ardan datang menemui Gio,"
"Astaga! Benarkah?"
Mentari mengangguk.
"Apa? Apa yang dia lakukan pada Gio?"
"Hanya memberikan permen kapas, lalu aku mengatakan kepada Gio agar jangan menerima pemberian orang," ungkap Mentari.
Oh Sera tau, alasan mengapa Gio dengan wajah murungnya masuk ke dalam terlebih dahulu, "Mungkin karena kamu bilang ke Gio gitu sekarang anaknya murung."
Mentari tau, tadi ia sempat menangkap wajah murung Gio. Mentari lakukan itu untuk melindungi Gio dari keluarga mantan suaminya tersebut. Mentari tidak mau Gio menerima perlakuan yang sama seperti dirinya dulu.
"Tar, aku tau kamu melakukan ini semata-mata untuk Gio. Percayalah semua akan baik-baik saja, ada aku di belakangmu," Sera menenangkan Mentari yang sedang dirundung ketakutan, tampak jelas di raut wajah wanita itu.
"Terima kasih Sera,"
"Kalau mereka datang lagi, jangan takut. Tanyakan kepada mereka, apa niat mereka datang kembali. Jangan menghindar Tar,"
Mentari mengangguk. Apa yang dikatakan Sera benar, kalau terus-terusan menghindar Mentari tidak akan tau maksud dan tujuan mereka menemuinya lagi.
***
Karena kemarin Gio merengek untuk ikut Sera, alhasil Mentari sendirian sekarang. Gio memang sering Sera ajak untuk kunjungan ke toko cabang, menginap satu hari di kota yang mereka jadwalkan untuk di kunjungi. Banyaknya cabang baru yang mengharuskan Sera pergi ke kota-kota lainnya.
Mentari turun ke bawah, setelah pekerjaannya telah selesai. Ia ingin melihat suasana toko barunya, meski masih satu tema dengan tokonya dulu. Mentari menyapa Fira yang merupakan kasir baru yang ada disana. Ah Mentari jadi rindu Gita, bagaimana kabar gadis itu?
"Selamat pagi Fir,"
"Selamat pagi juga bu," Fira mengulum senyumnya saat disapa mentari.
Mentari membalas senyum Fira, "Bagaimana lancar semua?"
"Lancar bu," jawab Fira sopan.
Beberapa pelanggan yang datang juga tampak menikmati roti dan minuman yang tersedia di Ocato bakery. Para karyawan juga tampak sibuk, Mentari bernafas lega semuanya berjalan sesuai harapannya.
Suara pintu terbuka, tanda pembeli datang. Mentari membalikkan badan bersiap untuk menyapa pembeli tersebut, "Selamat datang di Ocato Bake-"
Mentari tercekat saat melihat siapa yang datang.
Mereka beradu pandang beberapa detik. Saat tersadar siapa yang datang Mentari langsung mengalihkan pandangannya. Seketika, tulang kakinya terasa melemas, jantungnya ikut tak berdetak barang sejenak. Tangannya mulai berkeringat, kenapa secepat ini?
"Mau pesan apa?" Untung saja, Fira langsung menyambut.
Laki-laki itu melewati Mentari begitu saja dengan tatapan terkejutnya, sedangkan Mentari melirik sejenak perempuan yang ada di samping mantan suaminya tersebut.
Ya, dia Ardan, mantan suami Mentari. Melihat wanita cantik di samping Ardan, Mentari tersenyum miris.
Tiga tahun setelah wajah itu tak lagi terlintas di depan mata Mentari, kini akhirnya muncul juga.
Wajahnya masih sama. Tidak ada tampang penyesalan di sana. Tatapannya juga masih sama, penuh kebencian. Laki-laki yang dulu menatapnya teduh sekarang melihatnya saja ia tidak sudi. Hati Mentari nyeri seketika, sesak rasanya.
Mustahil dan munafik jika Mentari tidak rindu. Ia ingin sekali rasanya menangis dan merengkuh tubuh tegap laki-laki tersebut. Tapi, tidak mungkin dan tidak akan terjadi. Mentari bukan siapa-siapa bagi pria itu.
Ardan bukan lagi rumah untuk Mentari pulang.
Rasanya waktu tiga tahun terlalu sebentar untuk Mentari melupakan semuanya. Nyatanya selama ini ia hanya berpura-pura kuat saja. Mata Mentari berkaca-kaca, ia menahan diri untuk tidak menumpahkan air matanya di sana. Mentari tidak ingin menunjukkan sisi lemahnya di hadapan Ardan. Biarlah kesakitan itu ia pendam dalam-dalam.
Akhirnya, Mentari memutuskan untuk berdiri dan menyambut pembeli yang datang.
Ardan menatap wanita yang berdiri di dekat pintu masuk dengan senyum khasnya. Ada perasaan benci melihat wanita itu masih bisa tersenyum setelah kejadian tiga tahun lalu itu. Wajah polos dan lugu tersebut membuat Ardan muak.
Ardan mengepalkan tangannya di bawah meja sambil menatap ke arah depan. Hatinya memanas, emosinya seakan menggumpal di dadanya sekarang. Ia kembali teringat foto Mentari tanpa busana dengan seorang pria. Meski tubuh mereka tertutup dengan selimut putih, Ardan yakin bahwa Mentari tidak menggunakan sehelai benang apapun di bawah sana.
"Sialan!" batin Ardan menggeram.
"Sayang, apa yang sedang kau pikirkan?" Ia melirik wanita yang sudah berada di sampingnya.
"Tidak ada Sayang." ujarnya.
Ardan merasa bersyukur mengetahui kebusukan dari mantan istrinya tersebut. Sekarang, ia sudah menemukan cintanya lagi. Wanita yang ada di sampingnya sekarang adalah kekasihnya. Ia akan segera menikah dengan Bella.
Meski hubungan keduanya tidak direstui kedua orang Ardan, tetapi Ardan tidak peduli. Ia akan tetap akan mempertahankan Bella dan menikahi perempuan tersebut.
Ardan yakin bahwa Bella jauh lebih baik dari mantan istrinya itu. Bella sangat mencintainya dan Ardan pun demikian. Entah apa yang membuat orang tuanya enggan menyetujui dirinya dengan Bella. Jelas-jelas Bella terlihat jauh lebih sempurna dari Mentari. Apalagi gaya fashion Bella yang selalu tampil anggun dan menawan. Dia selalu terlihat sebagai wanita berkelas, karena itu Ardan menyukainya.
Bella mengikuti arah pandang Ardan. "Apa kamu mengenal wanita itu Sayang?" tanya Bella.
Mendengar pertanyaan Bella, Ardan terkesiap.
"Tidak. Aku tidak mengenalnya Sayang," dusta Ardan.
Bella mengangguk dan mulai fokus ke roti yang ada di hadapan mereka.
"Sayang, kamu coba deh roti ini. Sangat enak bukan?"
Ardan membuka mulutnya menerima suapan dari Bella. Saat suapan tersebut masuk ke dalam mulut, Ardan teringat Mentari.
Ia melirik wanita itu lagi. Roti isi fla seperti ini adalah roti kesukaan Mentari. Dia tiba-tiba merasa muak.
"Aku tidak suka!" sahut Ardan. Apa pun yang berkaitan dengan Mentari, ia sangat amat benci. Ia ingin sekali menghancurkan perempuan itu. Sial!