Menerima Takdir

1962 Kata
Sejak tadi pagi, toko memang ramai pembeli. Karena karyawan lain yang tidak sanggup menghandle akhirnya Mentari ikut turun tangan melayani. Mentari sering ikut turun tangan jika memang toko sedang čramai seperti sekarang ini. Meskipun jabatannya sudah bukan karyawan lagi, ia tidak pernah malu untuk membantu para karyawannya. Mentari juga tidak pernah membandingkan jabatannya dengan teman-temannya yang bekerja di sana. "Bu Tari, makasih ya tadi udah bantuin," ujar Fira salah satu karyawan di sana. "Iya sama-sama," sahut Mentari. "Eh Fir, tolong bilangin temen-temen yang lain saya tadi pesan nasi goreng itu ada di meja, yang lain suruh ambil ya kalau udah beres-beresnya." Mentari memang sesekali membelikan para karyawan makanan atau minuman, bukan apa-apa ia hanya ingin berbagi. Terkadang Sera juga melakukan hal yang sama seperti Mentari. "Makasih ya Bu Tari, nanti saya sampaikan ke yang lain," "Oke, saya balik ke ruangan dulu ya," pamitnya. Fira mengangguk, "Baik Bu." Mentari bergegas menuju ruangannya dan langsung menghempaskan tubuhnya di kursi kerjanya. Seperti biasa Gio di bawa Sera pergi kencan. Entah wanita itu selalu senang jika Gio ikut kencan bersamanya. Setelah semua beres, ia memastikan sekali lagi barang-barangnya lalu mengunci pintu ruangannya kemudian berjalan keluar. "Saya balik dulu ya," Pamitnya kepada beberapa karyawan yang masih beres-beres. "Baik Bu, hati-hati," sahut mereka kompak. Mentari mengangguk dan mengulum senyum, ia melanjutkan langkahnya menuju tempat parkir di mana mobilnya berada. Ya sejak tinggal sendiri, Mentari dituntut harus bisa apa-apa sendiri. Mulai dari pekerjaan ibu rumah tangga sampai pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh orang laki-laki. Ia merangkap menjadi ibu sekaligus ayah untuk Gio. Mentari bertanggung jawab atas kebahagian sang anak, apapun akan ia lakukan dan ia usahakan demi Gio. Air matanya kembali luruh, ia manusia biasa yang terkadang harus pura-pura kuat di depan sang anak. Padahal nyatanya Mentari tidak sekuat dan setabah itu. Ia ingin mengeluh namun selalu dirinya tahan, mungkin hanya Sera pelariannya. Tetapi tidak semua hal Mentari bisa ceritakan kepada Sera karena ia tau, Sera pun punya kehidupan lain apalagi sebentar lagi sahabatnya itu akan menikah. Jelas Mentari tidak ingin menambah beban Sera dengan masalahnya. Mentari tau dirinya bukan lagi seorang gadis remaja, ia sudah menjadi wanita dewasa. Dan ia baru tau menjadi dewasa tidak seperti bayangannya dulu. Padahal dulu ia selalu ingin cepat tumbuh agar menjadi besar. Menurut Mentari kecil, menjadi orang dewasa itu menyenangkan mereka memiliki waktu tak terbatas. Bisa ke sana ke sini sesuka hati, tidak terikat dengan tugas-tugas dari sekolah. Dan pada kenyataannya, dewasa jauh dari ekspetasinya. Apa ini hanya Mentari saja yang merasakan? Apa memang hanya dia yang ditakdirkan begini? Ia kembali sesenggukan, melepaskan segala penat yang ia simpan akhir-akhir ini sendiri. Berbagai ketakutan singgah di dalam alam bawah sadarnya. Mentari hanya berharap Gio selalu bahagia, ia harus selalu waras di tengah keadaannya yang sebenarnya menuntutnya untuk menyerah. Ketakutan atas pertanyaan Gio tentang sang papa, pertanyaan orang-orang yang menanyakan ke mana suaminya, pertanyaan akan kelangsungan hidupnya nanti, dan banyak ketakutan lainnya. Setelah hampir sepuluh menit ia menangis, perasaannya kini jauh lebih lega. Ia mengusap ujung matanya dengan tisu yang ada di dashboard mobilnya. Rasanya sia-sia ia memoles bedak pada wajahnya yang kini habis akibat air mata yang luruh di pipinya, tak apa-apa itu hanya soal bedak yang terpenting kelegaan pada hatinya. *** "Mama pulang!" seru Mentari sembali membuka pintu apartemennya. Senyum Mentari seketika merekah saat melihat Gio merentangkan tangan menyambutnya, "Mama." celotehnya. "Seharian gak ketemu Gio. Mama kangen deh," Bocah laki-laki itu terkekeh sambil memeluknya erat. Hati Pelangi menghangat, pelukan Gio adalah obatnya. Gio adalah tempatnya pulang. Ia menggendong Gio untuk ikut duduk di ruang tamu bersama Sera, "Udah lama?" tanya Mentari. "Barusan kok," Mentari menengok kanan kiri, "Fadil udah pulang?" Ia menanyakan keberadaan kekasih Sera. "Dia balik kantor, ada rapat mendadak katanya," "Semalam ini ke kantor?" Sera mengangguk, "Kayaknya lembur deh dia sekarang Tar." "Nginep di sini aja Ser," tawar Mentari. "Iya deh, aku nginep sekarang," ucap Tari. Mentari sumringah, "Oke. Jadi besok kamu minta jemput Fadil di sini saja, kan besok kalian mau fitting baju kan?" "Iya besok jadi fitting deh, aku deg-degan banget coba," Pertama kalinya ia melihat wajah Sera seperti ini, kayaknya Sera memang segrogi itu, "Udah jangan dipikirin sekarang, kan masih kurang satu bulan lagi, mandi aja dulu gih." perintah Mentari. "Iya-iya aku mandi," sahut Sera menuruti Mentari. "Ser tadi Gio rewel nggak?" Ia melirik Gio yang masih ada di pangkuannya. "Eh udah tidur dong dia." "Gio mana pernah rewel si Tar. Kayaknya dia kecapekan, taruh ke kamar aja Tar," Mentari menggendong tubuh mungil Gio ke dalam kamar. Melepas sepatu biru kesayangan anaknya, entah Gio selalu suka dengan sepatu tersebut. Sepatu itu Sera belikan saat gaji pertamannya menjabat sebagai manager. Benar apa yang dikatakan Sera, Gio mana pernah rewel. Ditatapnya wajah polos Gio yang sedang tertidur, begitu damai. Ia membelai wajahnya yang sangat mirip dengan mantan suaminya itu. Apa dia sebahagia Mentari dengan hadirnya Gio? Namun di detik berikutnya Mentari menggeleng-gelengkan kepalanya, ia tidak peduli dengan laki-laki itu lagi. Yang ia pedulikan hanya dirinya dan juga Gio. Ya, hanya itu. Mentari menatap langit-langit kamarnya, jujur sekarang ia sedang rindu dengan mama dan juga ayahnya. Tiba-tiba Mentari memikirkan apakah kedua orang tuanya itu juga rindu akan dirinya juga? Atau hanya Mentari saja yang rindu pada mereka? Apa selama hampir empat tahun Mentari menghilang, apakah mereka berusaha mencarinya? Atau malah sebaliknya? Oh Tuhan, Mentari juga lelah jika harus menduga-duga seperti ini tapi disisi lain ia juga tidak punya kuasa untuk mengetahui itu semua. Bagaimana jika mereka mengetahui bahwa sekarang mereka telah menjadi nenek dan kakek, apa mereka bahagia? *** Hari liburnya kali ini Mentari mengajak Gio untuk berjalan-jalan disebuah pusat perbelanjaan, ia harus berbelanja beberapa kebutuhan dan membeli stok makanan yang sudah habis. Ia menggandeng tangan Gio sambil mengitari tempat sosis, Gio paling suka dengan sosis jadi Mentari harus menyetok beberapa bungkus sosis untuk Gio. Mentari juga pergi ke tempat rak-rak buah, mengambil beberapa buah yang menjadi favorit Gio. Yang terpenting baginya adalah Gio. Ia menempatkan bahagia Gio di atas segalanya, karena hanya Gio yang Mentari miliki. "Nenek!" teriak Gio tiba-tiba. Mentari menoleh mendengarkan Gio berteriak, dan lagi-lagi semesta mempertemukan mereka. Kali ini lengkap ia melihat Ardan dan juga Ambar berdiri menatap dirinya dan juga Gio. Saat Gio hendak berlari ke arah Ambar, Mentari mencegahnya, "Gio, Tante Sera sudah menunggu di depan. Ayo Sayang." Mentari menarik tangan Gio. Langkahnya ia percepat agar sampai di tempat kasir, meski ada beberapa barang yang Mentari belum beli. Yang ada di otaknya sekarang ia harus buru-buru nenjauh dari dua orang tersebut. Faktanya Mentari belum memiliki mental kuat untuk bertemu dan mengatakan kepada mereka untuk tidak menemui Gio. Ardan dan juga Ambar hanya menatap kepergian Mentari yang membawa Gio, "Siapa anak laki-laki itu Bu?" tanya Ardan. "Dia anak Mentari," Ardan tersenyum sengit, "Jadi itu anak hasil selingkuhnya dulu!" "Tutup mulutmu Ardan!" hardik Ambar. "Lah memang begitu kan Bu," Ambar tidak menjawab perkataan sang anak, ia pergi begitu saja. Andai Ardan mengetahui kebenaran yang terjadi mungkin anak semata wayangnya itu akan sangat amat menyesal seperti dirinya. Semuanya terlambat, kebenaran itu terkuak ketika semua hancur berantakan. Ambar dan juga suaminya tidak bisa langsung mengatakan kebenaran tersebut kepada Ardan. Wanita paruh bayah itu mencoba mengejar Mentari, namun ia kehilangan jejaknya. Ambar menyesal mengapa dulu ia ikut mengusir dan tidak mempercayai wanita tersebut. Padahal Ambar tau Mentari tidak melakukan perbuatan tercela tersebut. Semua orang malam itu, seakan ditutup matanya dan kehilangan akal. Dan setelah kebenaran terbongkar, hanya ada penyesalan di sana. Teriakan jalang, wanita tak tahu diri, munafik, terngiang di kepala Mentari. Semua kata-kata tak pantas keluar dari mulut orang-orang yang dulu ia sayangi, tidak ada satupun yang percaya kepadanya. Malam itu, malam paling menyakitkan untuk Mentari. Dituduh atas perbuatan yang sama sekali tidak ia lakukan. Dibuang dengan keji layaknya sampah. Bahkan malam itu juga, laki-laki yang hampir lima tahun melindunginya berani menampar Mentari hingga tercipta luka kecil disudut bibirnya yang sakitnya hingga terasa sampai sekarang. Mentari melirik Gio yang tengah menatapnya, ia rasa bocah laki-laki tersebut bingung melihat Mentari yang tiba-tiba mengajaknya putar haluan memilih pulang padahal belum ke tempat s**u. "Ma, kenapa pulang? s**u coklatnya belum dibeli," polosnya. "Nanti di tempat lain kita belinya ya Sayang," Gio mengangguk, ia menoleh ke kanan dan kiri mencari keberadaan Sera. Tetapi nihil yang dicari tidak ada, "Ma, Tante Sera mana ya?" Mentari gelagapan, mencari alasan, "Tadi bilangnya di sini, bentar mama telfon dulu ya." Yang Mentari harapkan adalah Sera segera mengangkat telfon kemudian menjemputnya. Ia tak ingin Ambar berhasil menemukan dirinya dan juga Gio. Dadanya terasa sangat sesak sekarang. Beberapa menit kemudian, Sera menjemputnya. Mentari menceritakan tentang kejadian yang baru saja ia alami, ini kedua kalinya ia bertemu dengan Ardan. Kenapa bisa? Pikir Mentari. Padahal tempat ia bekerja jauh dari daerah Ardan dan keluarganya, tapi mengapa mereka tanpa sengaja selalu bertemu. *** Mentari duduk di depan Ambar dan Rusdi. Karena kejadian kemarin saat ia tidak sengaja bertemu, tiba-tiba Ambar kembali datang ke tokonya. Ia menangis memohon kepada Mentari agar mau menerima ajakannya untuk bertemu. Untung toko masih sepi dan Gio masih bermain di ruangannya. Ambar hampir bersujud di kaki Mentari, namun Mentari mencegahnya. Wanita itu masih memiliki hati nurani, sebelum kejadian itu Ambar selalu baik padanya. Mentari mematahkan statement tentang ibu mertua yang jahat kepada anak menantunya. Itu tidak terjadi kepada Mentari sebelum masalah tersebut muncul. Ambar adalah gambaran ibu mertua yang semua perempuan inginkan, Mentari rasa. Dan Mentari menyetujui permintaan Ambar untuk berbincang sebentar, asal Mentari meminta untuk tidak bertemu di tokonya. Sore ini, Mentari duduk di hadapan mantan mertuanya. Ia hanya diam, rasanya sangat gugup setelah hampir tiga tahun tidak bertemu. Detik itu juga Mentari ingin menangis. Andai fitnah keji itu tidak datang, mungkin mereka akan menjadi satu keluarga besar. Gio juga pasti memiliki kedua orang tua lengkap, kakek dan nenek yang menyayangi, ah membayangkannya lagi membuat Mentari sesak. Mungkin tidak ada rasa canggung seperti yang kini Mentari rasakan sekarang. "Tari maafkan ibu," suara Ambar bergetar, rupanya wanita paruh baya itu menahan tangis. Mentari mendongak, ia menatap dua orang di depannya sembari menarik kedua ujung bibirnya ke atas membentuk lengkungan senyum lalu Mentari mengangguk. Jujur melihat tatapan mata milik Ambar dan Rusdi ia tidak sanggup, Mentari terlalu rapuh untuk menatapnya balik. "Maafkan kami semua nak, kami tau kami banyak salah kepadamu," Kali ini giliran Rusdi yang berbicara. Hanya anggukan yang menjadi respon Mentari. Bibirnya masih keluh untuk berbicara, Mentari yakin sedikit lagi tangisnya akan pecah jika ia paksakan untuk berbicara. Terdengar isakan dari Ambar, wanita itu masih terus menangis. Terlihat betapa menyesalnya dia dengan apa yang sudah ia perbuat kepada Mentari. Jujur melihat pemandangan seperti ini Mentari jelas tidak tega. Entah siapa yang harus disalahkan. Mentari masih diam, ia meremas tangannya sendiri. Bingung harus berbicara apa, tidak gampang melupakan kenangan buruk itu. Mentari berusaha mati-matian agar keadaannya pulih agar anaknya tetap selamat. Hampir saja dirinya menyerah dan putus asa, karena ia merasa dunia sangat tidak adil untuknya malam itu. Sekelabat bayangan Mentari yang menangis meraung tanpa ada penolong yang datang kembali menghampiri pikirannya. Mentari ingat jelas malam itu dengan keadaannya yang memprihatinkan ia nekat berjalan di sebuah halte bus yang berjarak sekitar dua kilometer dari rumah Ardan. Ia tertatih membawa Gio yang masih ada dalam kandungannya. Mentari menutup matanya barang sejenak, berharap segala pikiran buruk itu hilang enyah begitu saja. Satu tetes air matanya jatuh tanpa ia minta, buru-buru ia menghapusnya Mentari tidak mau menangis di depan Ambar dan Rusdi, itu akan semakin membuat mereka merasa bersalah. Mentari ingin berdamai dengan semuanya, menyimpan dendam juga tidak ada gunanya. Tidak ada hal lain yang bisa Mentari lakukan selain memaafkan dan menerima takdir hidupnya. Memaafkan semua yang memang perlu dimaafkan, melupakan semua yang memang perlu dilupakan. "Tar, sebenernya kami tau perihal Gio," ujar Rusdi. Mendengar nama Gio sontak membuat Mentari menatap Rusdi. Ia mencengkeram kuat sisi samping celana bahan yang Mentari gunakan. Jantungnya berdegub dua kali lebih cepat dari biasanya. "Apa mereka ingin mengambil Gio setelah meminta maaf?" pikir Mentari.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN