Tolong

1946 Kata
"Tau soal apa?" tanya Mentari. "Dia anak kandung Ardan kan Nak?" Ambar menyauti. Mentari menggeleng, ia berusaha mengelak. Apa dugaan Mentari benar? Mereka hendak mengambil Gio sekarang? Dadanya naik turun menahan emosi, padahal ia sudah berniat ingin melupakan dan memaafkan semuanya. Kalau begini, lebih baik Mentari tidak memaafkan mereka. "Dia bukan anak Mas Ardan. Seperti apa yang dikatakan Mas Ardan dulu, Gio adalah anak selingkuhan Mentari Bu," uarnya dengan mata berkaca-kaca. "Kami sudah tau semuanya Nak, kami juga sudah tes dna Gio dengan Ardan hasilnya cocok," Dada Mentari seperti ditikam belati tak kasat mata, aliran darah di tubuhnya seakan berhenti seketika, "Apa yang kalian lakukan pada anakku!" pekik Mentari. Air matanya luruh. "Kalian tidak ada hak untuk melakukan itu!" Emosi Mentari tumpah. Ia tidak lagi menganut kata sopan di depan Ambar dan juga Rusdi. Mentari sudah berusaha berlaku sopan kepada dua orang tersebut, namun apa yang mereka lakukan? Mereka seolah tak menghargai Mentari. "Tolong beri kami waktu untuk menjelaskan semuanya nak," ujar Rusdi. Mentari menggeleng, "Apa yang kalian inginkan sebenarnya?" Mentari tidak lagi takut. Gio adalah miliknya, ia berjuang membesarkannya seorang diri dan setelah itu semua, mereka akan mengambil Gio? Itu tidak akan terjadi. "Tolong jangan ganggu Gio. Darah daging putra kalian atau tidak, itu tidak penting bagi Gio. Gio hanya butuh saya, bukan anak anda!" Setelah itu Mentari pergi dari Rusdi dan juga Ambar. Namun Ambar menahannya, "Tidak Tari. Kami tidak ingin mengambil Gio dari kamu. Kami sangat senang dan ingin berterima kasih karena kamu masih mau membesarkan Gio dengan cinta kasih yang kamu beri Tar." Ambar memeluknya dengan isak tangis. Mentari cukup lega mendengar penjelasan Ambar, hatinya melunak ia kembali duduk mendengar penjelasan Ambar dan Rusdi. "Maafkan kami yang telat mengetahui kebenaran yang terjadi Tar," kata Ambar. Kerutan di kening Mentari menandakan bahwa ia tidak mengerti apa yang Ambar katakan. Namun ia tidak banyak bertanya, wanita itu hanya diam mendengarkan Ambar dan Rusdi bercerita. "Ardan dijebak Tar. Ada seseorang yang memang ingin menghancurkan keluarga kalian saat itu. Sampai sekarang kami belum menemukan siapa pelaku tersebut. Hari itu setelah kamu pergi, kami berdua mencarimu menanyakan kebenaran cerita dari Ardan. Karena malam saat kejadian kami merasa terlalu egois dan gegabah hanya karena mendengar cerita versi Ardan. Pun begitu pula dengan orang tuamu, dia merasa malu kepada kami. Sampai akhirnya semua orang menghakimimu tanpa memberimu kesempatan berbicara," Mentari diam menikmati sisa rasa sakit yang masih menjalar di lubuk hatinya, dia masih bisa merasakan bagaimana posisinya yang terduduk lemah seorang diri untuk membela dirinya sendiri Mentari tidak ada tenaga. Semua orang menatapnya hina, jijik dan kalimat-kalimat sampah itu masih terngiang di telinganya. "Kami sangat menyesal Nak, mungkin jika malam itu kami sebagai orang tua bisa memberikan keadilan untuk kedua belah pihak agar menjelaskan terlebih dahulu ini semua tidak akan terjadi. Kalian tidak akan sampai seperti ini, malam itu semua terkejut dengan cerita Ardan," Rusdi diam menjeda ceritanya. "Namun kami gagal mencari keberadaanmu dan saat itu juga kami tidak mengetahui kalau ternyata kamu sedang mengandung," Tampak Rusdi mengusap wajahnya frustasi, seakan ia tak sanggup menceritakan semua yang terjadi versi dirinya. "Hampir satu tahun kami mencarimu Nak, tapi selalu gagal. Kami terus mencari keberadaanmu tanpa diketauhi Ardan, karena sejak kamu pergi Ardan jarang sekali pulang. Setiap malam ia menghabiskan waktunya pergi minum bersama teman-temannya. Ardan bukan seperti Ardan yang kami kenal nak," "Dan tahun kedua akhirnya kami menemukan kabar baik tentang dirimu. Kami tidak berani langsung menemuimu Tar, kami menimbang-nimbang kapan waktu yang tepat untuk menemuimu. Dan sekarang waktu itu. Awalnya kami kaget saat mengetahui kamu yang sudah memiliki anak, kami pikir kamu sudah menikah lagi. Tebakan terburuk kita adalah kamu memang berselingkuh, tapi kami tau itu tidak mungkin. Apalagi setelah kami ingat-ingat saat kamu bersama Ardan, tidak sekali-kalinya kamu keluar tanpa dia. Jadi di mana celahmu untuk berselingkuh, sekali lagi kami meminta maaf untuk malam itu kami tidak berfikir ke sana Tar," Mentari menepuk dadanya pelan, terasa sesak. Oh Tuhan kenapa sakit sekali rasanya? "Hari itu kami menyuruh orang untuk datang ke tempatmu bekerja guna mengambil satu helai rambut milik Gio. Setelah hari dimana orang yang kami suruh mendapatkan rambut Gio, kami membawanya untuk tes dna. Satu minggu kami menunggu hasil dengan harap-harap cemas. Dan saat melihat hasil tersebut kami semakin merasa tertampar oleh realita, hasilnya seratus persen cocok Tar. Maafkan kami yang terlalu dalam menciptakan luka untukmu. Semua kami lakukan tanpa sepengetahuan Ardan, karena hingga hari ini kami masih menyelidiki siapa pelaku yang menghancurkan keluarga kalian. Kami menduga orang tersebut adalah orang terdekat Ardan, tapi entah kami belum tau siapa. Sebab permainan orang tersebut sangat amat rapi, hingga kami kesulitan untuk melacaknya," Rusdi menjelaskan semuanya kepada Mentari. "Lalu apa maksud Bapak menceritakan itu semua kepada saya apa?" Rusdi tersenyum getir, "Kami hanya ingin menebus kesalahan kami terhadap Gio. Mungkin kami belum bisa menjadi mertua baik untukmu, tapi saya jamin kami bisa menjadi kakek dan nenek terbaik untuk Gio." "Apa itu artinya Mas Ardan akan tau soal Gio?" "Apa kamu keberatan jika Ardan mengetahui Gio anaknya?" tanya Ambar Mentari menggeleng, ia sama sekali tidak keberatan. Hanya saja ia takut Ardan tidak menerima kehadiran Gio, "Bukan Tari keberatan Bu, hanya saja takut jika nanti Mas Ardan tidak menerima kehadiran Gio. Itu malah akan membuat Gio terluka, dan Tari tidak ingin itu terjadi kepada anak Tari Bu." Masalahnya hanya ada di situ, apa bisa mereka berjanji bahwa tidak akan membuat Gio kecewa nantinya? "Maafkan Ardan ya Tar. Ibu merasa telah gagal mendidiknya," ungkap Ambar. "Tidak Bu, ini bukan salah ibu kok," tukas Mentari mencobab menenangkan Ambar yang sejak tadi berderai air mata. "Bagaimana kalau besok Bapak dan Ibu bertemu Gio?" tawar Mentari. Setelah memikirkan apa yang dikatakan Rusdi, akhirnya Mentari berubah pikiran dan membolehkan mereka bertemu Gio. Mentari juga akan mengenalkan Rusdi dan Ambar sebagai kakek neneknya, ia jamin Gio sangat bahagia. "Apakah boleh Nak?" binar mata Ambar seketika berubah. Ia tampak senang mendengar perkataan Mentari. Mentari mengangguk, "Boleh Bu." "Besok pagi kita akan berkunjung ke tokomu lagi," ujar Rusdi. Rusdi akan mengosongkan jadwal rapatnya besok demi sang cucu. Ia tidak sabar untuk bertemu Gio. "Terima kasih Tar, kami banyak-banyak terima kasih kepada kamu. Setelah sekian banyak luka yang kami tuang, kamu masih memberikan kesempatan untuk memperkenalkan kami sebagai kakek neneknya. Padahal hanya dengan melihat Gio kami sudah bahagia, meski sebenarnya kami juga ingin bertanggung jawab atas Gio," Tak henti-hentinya Ambar berucap syukur, bahkan ia tak berangan-angan lebih untuk bisa dekat dengan Gio. "Sama-sama Pak, Bu. Mentari juga minta maaf kalau sikap Mentari kurang sopan dan kelakuan Mentari yang membuat Papak Ibu tersinggung," Ambar memeluk erat Mentari, "Tidak Nak, kamu tidak pernah ada salah kepada kami." terdengar suara tulus yang membuat hati Mentari terenyuh. Semoga ini adalah langkah terbaik yang Mentari ambil. *** Sejak semalam Gio sudah tidak bisa tidur, ia terus bercerita kepada Mentari bahwa ia ingin segera pagi. Hari ini memang ia dan juga Gio akan pergi ke rumah Rusdi dan Ambar. Mentari berani pergi ke sana karena Ardan sudah tidak tinggal di rumah kedua orang tuanya, dia memilih untuk tinggal di apartemen miliknya. "Ma, cepatlah," ujar Gio sambil mengayunkan kakinya di sofa ruang tamu. "Iya sebentar Sayang," Mentari mengambil tas miliknya kemudian keluar kamar. "Yuk!" ajak Gio. Di dalam mobil Gio terus berceloteh, ia ingin menunjukkan bahwa dirinya sedang bahagia sekarang. Mentari menarik kedua sudut bibirnya ikut merasakan aura kebahagiaan dari sang anak. Kurang lebih setengah jam akhirnya mereka sampai. Mentari termenung, sudah lama ia tidak melihat bangunan megah ini. Ia tersenyum miris, tidak ada yang berubah dari bangunan tersebut. Taman depan masih tetap terawat, banyak bunga-bunga yang tumbuh berjajar di sana karena Ambar sangat suka sekali dengan warna-warni bunga seperti ini. Mentari yakin, bahwa mantan ibu mertuanya itulah yang rajin merawatnya. Mendadak ia sedikit grogi saat hendak melangkahkan kaki masuk. Baru saja ia turun dari dalam mobil, Ambar dan Rusdi keluar menyambut cucu mereka. "Wah! Tampan sekali cucuku ini!" Seperti biasa kala melihat Ambar bocah laki-laki itu langsung berlari memeluknya. "Gio kangen Nenek!" ungkap Gio. Melihat kelakuan sang anak yang terlihat manja kepada kakek neneknya membuat Mentari geleng-geleng kepala sembari tersenyum kecil. Lalu berganti Mentari mencium tangan Ambar dan juga Rusdi, kemudian mereka bersama-sama masuk ke dalam. Dulu hampir setiap weekend ia dan juga Ardan menginap di rumah Ambar dan Rusdi, guna mencari suasana baru untuk menghabiskan akhir pekan bersama. Tubuh Mentari seketika merinding saat melangkahkan kaki menuju pintu. Tiba-tiba saja jantungnya berdegub dua kali lebih cepat dari biasanya. "Nek, apa itu Papa Gio?" Mentari diam, langkahnya terhenti saat ia melihat panjangan foto pernikahannya yang masih terpampanh sempurna di ruang tamu. Tak hanya Mentari, kedua mantan mertuanya juga ikut mematung. Mereka beradu tatap dengan Mentari juga. "Jadi apa Papa ada di sini sekarang Ma?" Gio menggoyangkan tubuh Mentari yang masih diam sambil menatap foto pernikahannya. "Iya itu Papa Gio. Namanya Papa Ardan, tapi Papa Ardan sekarang lagi kerja Sayang," jelas Rusdi. Ia tau anak menantunya itu tak akan sanggup menceritakan tentang Ardan pada Gio. Gio mengangguk, "Padahal Gio kangen banget sama Papa." "Iya nanti Gio pasti bertemu sama Papa. Sekarang makan dulu ya," Ambar mengajak Mentari dan juga Gio menuju ruang makan. Berbagai makanan dengan jenis yang berbeda tersaji di sana. Gio sangat menikmati suapan dari Ambar. Wanita paruh bayah itu meminta Mentari agar dirinya saja yang menyuapi Gio. Mentari tak enak hati melihat mantan ibu mertuanya itu menyuapi Gio sedangkan dirinya asyik menyantap makanannya. Namun Ambar bersih keras agar Mentari makan dengan tenang. Alhasil ia menurut meski sejujurnya ia sungkan kepada Ambar. Setelah makan, mereka semua duduk di ruang keluarga. Mentari masih dengan kecanggungannya, ditambah di ruangan ini masih ada foto dirinya dan juga Ardan. Ambar dan Rusdi tengah sibuk mendengarkan celotehan Gio, sesekali mereka tertawa karena ulah bocah tersebut. Mentari menatapnya dengan tatapan haru, di hati kecilnya ia sangat merasa bersalah. Memisahkan Gio dengan kakek neneknya, mereka tampak bahagia dengan adanya Gio. Mentari tau mereka pasti merasa kesepian tinggal hanya berdua di rumah semegah ini. Mentari mengedarkan pandangannya di seluruh penjuru rumah, benar-benar tidak ada yang berbeda. Ia jadi teringat saat-saat pertama kali datang ke sini bersama Ardan. Saat itu ia tampak malu-malu dan takut karena hari itu pertama kalinya Ardan mengenalkan Mentari kepada kedua orang tuanya. Dengan perasaan was-was ia masuk ke dalam rumah dengan digandeng oleh Ardan. Tubuhnya gemetar saat itu takut jika orang tua Ardan tidak menyukai Mentari. Dan ternyata di luar dugaannya, Ambar dan juga Rusdi menyambut kehadirannya dengan sangat hangat mereka sangat amat baik. Mereka menerima Mentari dengan senyum merekah. Seperti apa yang mereka lakukan tadi, saat menyambut Mentari dan Gio. Mentari mengulum senyum mengingat hal itu. "Tar umur berapa Gio?" ujar Ambar mencoba mengajak Mentari berbicara. "Gio sekarang umur tiga tahun bu," Ambar melihat Gio yang tengah bermain dengan Rusdi, "Pintar sekali anakmu itu Tar." Mentari hanya tersenyum bingung mau menjawab bagaimana. "Selama ini apa kamu kesusahan merawatnya?" Mentari melihat gurat kesedihan di wajah Ambar. Lalu ia memberanikan diri untuk memegang tangan Ambar, "Tidak Bu. Mentari sama sekali tidak kesusahan merawat Gio. Gio bukan tipe anak yang rewel kok." Air mata Ambar kembali menetes. Ia tau menantunya ini berbohong. "Sungguh. Mentari tidak apa-apa Bu. Yang lalu biarlah berlalu, Mentari tidak mengingatnya lagi. Sekarang fokus Mentari hanya untuk Gio," Mentari sedikit berbohong. Jika bertemu Ardan, peristiwa malam itu seakan kembali berputar dalam ingatannya. Namun sekarang sebisa mungkin Mentari mencoba melupakannya. "Biarkan Ibu dan bapak turut serta andil dalam perkembangan Gio ya Tar," Mentari mengangguk, "Terima kasih Bu." "Ibu yang terima kasih kepadamu," kata Ambar. Mentari terdiam, ada satu hal yang sebenarnya ingin dia tanyakan kepada Ambar, "Bu ada yang ingin Mentari tanyakan." "Apa Tar?" "Perihal orang tua Tari Bu, setelah kejadian itu apa mereka tidak mencari Tari Bu?" Mentari ingin mengatakan bahwa dirinya sekarang memiliki cucu. Apa mereka juga turut bangga seperti Ambar dan juga Rusdi? Entah Mentari tidak tau.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN