Mentari menatap nanar gundukan batu nisan yang disinyalir adalah makam dari kedua orang tuanya. Kakinya terasa lemas, tubuhnya seakan enggan menopang berat bebannya dan yang paling membuatnya semakin tersayat ketika orang tua Ardan mengatakan bahwa yang menyebabkan kedua orang tuanya meninggal adalah karena tragedi kecelakaan beruntun ketika mereka hendak menemui Mentari setahun yang lalu.
Ia ambruk tak mampu lagi menahannya, Mentari menangis sejadi-jadinya. Selama ini ia berfikir bahwa kedua orang tuanya tidak pernah mencarinya sama sekali, tapi nyatanya orang tua Mentari berusaha mencari keberadaannya hingga mengalami kejadian naas yang meregang nyawa keduanya.
"Oh Tuhan kenapa sesakit ini?" lirih Mentari memukul dadanya pelan. Kenapa takdirnya selalu berakhir dengan isak tangis penuh kesakitan. Rasanya ia ingin menyerah saja, namun tidak bisa. Ia dituntut tegar di tengah gentingnya kekacauan yang ada. Mentari tidak ingin Gerald ikut merasakan pedih yang dirinya rasakan.
"Maafkan Tari Bu, Pak," Rindunya setengah mati tetapi tidak bisa ia obati. Ia belum melihat wajah kedua orang tuanya terakhir kali yang membuat Mentari semakin teriris. Mentari menangis sesengukan di samping pusaran kedua orang tuanya.
"Mentari di sini harus tetap tabah menjalani semuanya karena sekarang Mentari punya anak Bu, Pak. Namanya Gio, Ibu dan Bapak pasti senang melihatnya. Dia anak Mentari bersama Mas Ardan," Tanpa berhenti ia menceritakan semua kehidupannya selama ini. Saat ia bekerja bersama Sera, tinggal sendirian di rumah kontrakan, berjuang sendiri saat melahirkan, semua Mentari curahkan.
Karena merasa lega, ia menghapus air matanya lalu menaburkan sisa bunga yang ia bawah di atas gundukan tanah milik ibu dan bapaknya. "Kapan-kapan Tari akan datang lagi ke sini dengan mengajak Gio ya Bu, Pak. Nanti aku kenalkan kalian dengan cucumu." Ia terkekeh, membayangkan betapa bahagianya kedua orang tuanya saat tau mereka memiliki cucu.
"Tari tinggal dulu ya," pamitnya lalu meninggalkan area pemakaman.
Setelah menangis tadi ia merasa matanya berat sekarang, Mentari masih dirundung duka mendalam karena kehilangan kedua orang tuanya sekaligus.
"Sudahlah namanya juga hidup, pahit manis memang harus dijalani bukan?" beonya sambil berjalan keluar area pemakaman.
Mentari harus kembali ke rumah Ambar dan Rusdi mengingat Gio masih ada di sana. Ia segera memesan ojek online untuk pergi ke rumah tersebut.
***
Di tempat lain, Ardan yang baru pulang kerja mengerutkan keningnya saat melihat seorang bocah laki-laki berada di rumah kedua orang tuanya. Entah apa yang membawanya ingin pergi berkunjung ke sana hari ini.
"Siapa dia?" lirihnya.
"Ma, Pa," sapa Ardan mencium tangan kedua orang tuanya dan ikut menimbrung di tengah-tengah Ambar dan Rusdi yang tengah mengamati bocah laki-laki yang sedang bermain mobil-mobilannya.
Gio yang tampak asyik bermain tidak sadar akan kehadiran Ardan. Pandangan Ardan masih terus fokus ke arah Gio, sepertinya ia pernah bertemu dengan bocah itu namun Ardan lupa di mana dirinya bertemu bocah tersebut. Karena ingatannya yang tak membantu, ia menoleh ke Ambar. "Siapa dia Ma?"
Ambar bukannya menjawab ia seperti melempar pertanyaan Ardan ke Rusdi. "Biar Papamu saja yang mengatakan siapa anak laki-laki di depanmu itu."
Gio tidak peduli dengan apa yang mereka bicarakan dan ia masih tidak menyadari adanya Ardan di sana. Mobil-mobilan yang tadi Rusdi belikan lebih menarik daripada kehadiran Ardan.
"Dia anak Mentari Ar," jelas Rusdi.
Mendengar nama wanita itu membuat darah Ardan mendidih. Emosinya meluap, perasaan kecewa muncul seketika. "Berani-beraninya dia membawa anak haram itu ke sini!" murka Ardan.
"Jaga bicaramu Ar!" Rusdi menaikkan nada suaranya satu oktaf hingga membuat Gio yang tengah bermain kaget.
Dan saat ia menoleh tatapannya bertemu dengan tatapan Ardan. Bocah itu menaikkan alisnya bingung lalu dia berlari kecil ke arah ruang tamu, menatap foto yang ada di sana sebentar lalu kembali ke ruang keluarga. Ia memperhatikan wajah Ardan, sedetik kemudian Gio langsung memeluk tubuhnya, "Papa!" serunya. "Gio kangen Papa."
Sontak Ardan mendorong tubuh mungil bocah tersebut dengan kasar hingga Gio terjatuh ke lantai. "Ardan!" teriak Ambar dan Rusdi berbarengan. Mereka berlari membangunkan Gio yang kini menangis.
"Aku bukan papamu!" hardik Ardan membuat Gio berangsut takut.
Ambar langsung menggendong Gio menatap Ardan dengan tatapan kecewanya, "Jaga bicaramu Ar!"
Bukannya merasa bersalah Ardan malah tertawa sumbang, "Memangnya aku salah? Benarkan dia adalah anak haram dari wanita itu!"
Seketika sebuah tangan melayang menampar pipinya, "Kamu keterlaluan Ar!" Rusdi marah, sangat marah kepada putra semata wayangnya itu. "Kamu akan menyesal nanti mengatakan itu kepada Gio!"
"Aku menyesal? Untuk apa?" Ia berteriak di depan Rusdi. "Oh apa sekarang wanita itu yang meminta kalian mengurusnya? Di mana dia sekarang? Di mana?" Ardan mengamuk seperti orang kesetanan.
"Kamu salah Ar! Gio memang anakmu, darah dagingmu!" ujar Rusdi menyadarkan Ardan dengan fakta.
Ardan diam sebentar menatap benci ke arah Gio yang masih menangis digendongan Ambar, kemudian ia tersenyum sinis. "Darah dagingku?" Ardan tertawa pelan. "Papa tidak ingat apa yang wanita itu lakukan padaku hah! Aku melihatnya dengan jelas apa yang wanita itu lakukan, tidur bersama laki-laki lain saat bersuami! Lantas aku menyebutnya apa selain jalang? Jadi mana mungkin anak itu anakku! Aku tidak sudi!" Setelah itu Ardan pergi dengan emosi yang masih menjadi-jadi.
"Sialan!" Ardan memukul setir kemudinya kencang. "Sekarang kenapa datang lagi w***********g itu!" Nafasnya naik turun menahan amarah yang ada di dalam tubuhnya. "Lihat saja, rupanya kamu ingin bermain-main denganku k*****t!" Ardan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi keluar dari pekarangan rumah orang tuanya. Ia membelah jalan raya bak orang kesetanan, bahkan Ardan tidak peduli dengan makian orang-orang yang kesal akibat ulahnya.
Wajah bocah laki-laki itu semakin mengingatkannya pada wanita yang berhasil membuat ia terluka. Bahkan kejadian malam itu terus terngiang di kepala Ardan. Karena tidak bisa mengontrol emosinya laki-laki itu langsung membuang setir kemudinya ke kanan. Untung saja jalanan sepi, ia berhenti kemudian menormalkan detak jantungnya. "Akan ku buat kau menderita! Kamu dan anak itu tidak boleh bahagia! Kamu harus menderita b******k!"
***
Mentari yang baru saja sampai di rumah mantan suaminya itu terkejut saat melihat Gio menangis. Ia sedikit panik, "Sayang ...." panggilnya.
Mengetahui sang mama yang baru datang, ia turun dari pangkuan Ambar lalu berhambur memeluk Mentari. "Gio ingin pulang Ma."
Mentari mendongak mengarahkan pandangan tak enaknya kepada Rusdi dan juga Ambar. Ia tidak langsung bertanya ada apa dengan anaknya, Mentari memilih untuk menenangkan Gio terlebih dahulu. Tak lama tangisannya berhenti namun bocah tersebut masih memeluk erat tubuh Mentari.
Dalam diamnya Mentari sedang menebak-nebak kejadian apa yang membuat Gio menangis, tidak mungkin Ambar dan Rusdi menyiksanya. Kedua orang tua itu sangat baik kepada Gio, bahkan saat mereka mengantarkan Mentari ke makam orang tuanya Gio baik-baik saja malah anaknya itu memilih ikut Ambar dan Rusdi pulang terlebih dahulu.
Jadi ada apa sebenarnya? Mentari bertanya-tanya.
"Tar ...."
Mendengar namanya dipanggil Mentari menoleh, "Kenapa Bu?"
"Lihatlah anakmu tertidur,"
Astaga Mentari tidak sadar Gio terlelap, ia meringis melihatnya, "Iya Bu." Pipi gembulnya membuat Mentari gemas ingin selalu menciuminya.
"Tidurkan dulu Gio di kamar Ardan. Sebentar lagi ada hal yang ingin kami jelaskan padamu," kata Ambar.
Mentari menggeleng, ia tidak mau kembali berada di kamar dengan sejuta kenangan itu. Yang ada nanti rasa ingin dicintai Ardan kembali datang. "Tidak usah Bu. Biar Mentari gendong saja, soalnya kalau dipindahkan Gio malah suka kebangun." tukasnya.
"Punggungmu nanti bisa pegal Tar," lanjut Ambar. Sejak tadi Rusdi diam menatapnya dengan perasaan bersalah mengingat perlakuan anaknya.
Mentari ingin tau ada apa, "Tidak apa-apa Bu, Tari sudah biasa. Jadi hal apa yang ingin Bapak dan Ibu katakan kepada Tari? ujarnya sopan.
Rusdi menghela nafasnya pelan sambil menatap Ambar yang mengangguk, "Tadi Ardan datang Nak."
Jantung Mentari berpacu hebat, jadi tadi Ardan datang dan bertemu dengan Gio. Mentari mulai was-was dengan cerita selanjutnya dari Rusdi, apa yang dilakukan laki-laki itu kepada Gio?
Rusdi terus bercerita mengenai kejadian tadi, raut wajah Mentari tercekat saat mendengar bahwa Ardan mendorong Gio hingga anak laki-lakinya itu terjatuh, seketika d**a Mentari terasa sesak mendengarnya. Apa yang Mentari takutkan terjadi juga, sebuah penolakan yang sangat amat sakit menurutnya. Mentari tidak peduli jika Ardan membenci dirinya hingga sekarang, tapi ia tak rela bila Ardan juga membenci Gio yang merupakan darah daging laki-laki itu sendiri.
"Maafkan kami Tar, maafkan Ardan," ujar Rusdi.
Andai dengan kata maaf mengembalikan semuanya, tanpa mereka minta Mentari memaafkan. Tapi ini bagaimana Gio sudah Ardan sakiti, anak kecil yang tidak tau apa-apa itu harus menanggung duka masalalunya. Bahkan ia dituduh dengan kesalahan yang sama sekali tidak dilakukan oleh Mentari. Oh Tuhan tidak cukupkah cobaan untuk Mentari? Kali ini saja ia ingin hidup bahagia bersama Gio.