"Mama di mana?" teriak Gio yang berjalan mencari keberadaan Mentari.
Mentari yang mendengar teriakan Gio memunculkan wajahnya di balik pintu kamar mandi, "Mama di sini."
Mengetahui mamanya sedang berada di kamar mandi Gio mengangguk lalu duduk di depan televisi sambil menikmati sereal yang barusan Mentari buatkan untuknya.
Tak lama Mentari ikut menyusul Gio menemani anak laki-lakinya duduk di sana. Ia sudah siap untuk pergi ke toko, hanya tinggal menunggu Gio sarapan terlebih dahulu. Mentari melirik jam yang berada di atas televisi, masih menunjukkan pukul setengah tujuh lebih lima menit.
"Cepat habiskan Sayang, sambil di makan dong,"
Gio meringis, "Iya Mama." sahutnya.
Tiba-tiba bocah laki-laki yang mengenakan pakaian berwarna coklat muda itu teringat sesuatu, "Mama ...."
Mentari yang sedang membalas pesan Tara melirik Gio sebentar, "Kenapa?"
"Anak haram itu apa Ma?"
Seketika Mentari mengarahkan pandangannya ke layar televisi memastikan tayangan yang ditonton Gio memang tontonan anak-anak pada umumnya. Dari siaran kartun tersebut tidak ada sama sekali hubungan dengan apa yang Gio tanyakan kepada Mentari, memang Gio sering menanyakan hal yang tidak ia ketahui atau menanyakan kata yang tidak ia mengerti kepada Mentari.
Namun kali ini pertanyaannya cukup membuat Mentari kaget, dari mana Gio mengetahui kata-kata itu.
"Siapa yang bilang seperti itu Nak?"
"Kemarin aku bertemu Papa Ma, Papa mengatakan aku bukan anaknya. Dan Papa bilang Gio itu anak haram,"
Dada Mentari terasa ditusuk benda tajam hingga menembus ulu hatinya, sakit dan sangat sesak. Air mata Mentari mulai menggumpal di pelupuk matanya. Sebutan anak haram tak pantas mantan suaminya itu sematkan kepada Gio karena Gio memang bukan anak haram.
Mentari menahan air matanya untuk tidak jatuh di depan Gio, apa yang harus ia jelaskan kepada anak sekecil itu sekarang. "Bukan, Gio bukan anak haram. Om itu salah." Ia memeluk erat tubuh Gio, meminta maaf sedalam-dalamnya kepada bocah tersebut karena ternyata membawanya kembali ke rumah itu menjadi duka untuk anaknya.
"Om?" beo Gio.
Mentari mengangguk, lagi-lagi ia meminta maaf untuk kesekian kalinya ia berbohong. "Iya."
Gio menggeleng, "Dia papa Gio Ma." kekehnya.
"Gio sudah selesai sarapannya?" Mentari mencoba mengalihkan topik pembicaraan dengan Gio.
"Sudah dong!" serunya sambil mengangkat tangan ke atas.
"Oke, sebentar lagi kita berangkat,"
"Siap Mama," Bocah laki-laki itu berdiri mengambil lego dan mobil mainannya yang dibelikan Rusdi untuk ia bawa ke toko.
***
Seperti biasa toko sangat ramai hari ini, mau tak mau Mentari ikut membantu beberapa karyawan menghandle pekerjaannya. Untung saja tadi ia menyelesaikan beberapa berkas yang dikirim Sera lebih cepat dari biasanya.
Sesekali ia melihat Gio yang tampak anteng dengan mainannya, ya karena toko ramai tidak ada karyawan yang menemaninya bermain namun tak membuat Gio meminta untuk pulang.
"Sayang jangan ke mana-mana, tetap di situ saja ya," ujar Mentari yang diangguki Gio.
"Iya Ma. Gio duduk di sini,"
Mentari tersenyum lebar, cukup lega dengan jawaban Gio.
Saat sedang asyik bermain dari arah jendela kaca yang ada di depan toko tersebut, Gio melihat seorang laki-laki keluar dari sebuah mobil dengan seorang wanita, "Papa ...." ujar Gio sumringah.
Ia tidak ingat bagaimana laki-laki itu kemarin mendorongnya hingga terjatuh bahkan menyebutnya anak haram tak membuat Gio menyerah untuk memeluk Ardan. Gio ingin merasakan pelukan Ardan, entah bagaimana caranya bocah laki-laki itu tetap keukeuh. Tanpa sepengetauan Mentari, Gio menyelinap keluar. Ia berlari menyusul Ardan yang berjalan hendak masuk ke sebuah toko kain yang ada dijejeran toko roti itu.
"Papa ...!" teriaknya kencang.
Ardan mendengar teriakan tersebut namun ia tak sempat menoleh karena Bella terus mengajaknya berbicara.
Karena langkah kakinya yang kecil ia tidak bisa ikut menyamai langkah besar Ardan. Bocah laki-laki itu tetap mengejar Ardan.
"Papa ...!" Nafasnya mulai tersenggal-senggal karena berlari dengan berteriak.
Tetapi Ardan tidak menoleh, ia hanya mendengar samar-samar suara yang memanggilnya papa.
"Papa ...! Papa ...!" Gio menangis sesenggukan. Ia tetap berlari ingin menyusul Ardan yang jauh di depannya namun karena Gio tidak hati-hati ia tersandung kakinya sendiri alhasil ia jatuh.
Saat itu bertepatan dengan Ardan yang menoleh ke belakang, namun ia tak melihat siapa-siapa bahkan suara yang samar-samar Ardan dengar kini tak ada. Ardan hanya melihat segerombolan orang-orang yang entah dia tak tau sedang apa.
Laki-laki tersebut hanya mengedikkan bahu acuh lalu menyusul kekasihnya yang memilih kain untuk kebaya di hari acara tunangannya.
Ya Ardan telah menetapkan keputusan bahwa ia akan segera bertunangan dengan Bella dalam waktu dekat. Meski kedua orang tuanya tidak merestui, Ardan tetap akan menikahi Bella. Apalagi setelah kemarin Gio datang ke rumah mama papanya, membuat Ardan yakin untuk segera menikah dengan Bella. Di satu sisi ia tak mau Bella salah paham tentang Gio anak dari mantan istrinya itu.
Semua orang yang melihat Gio terjatuh, buru-buru lari menggerubungi bocah tersebut dan menolongnya. "Papa ...." lirih Gio yang masih menyebut nama Ardan meski sekarang pria itu sudah masuk ke dalam toko kain.
Mentari yang menyadari tidak adanya Gio, ia keluar mencari putranya seperti orang kesetanan, "Gio ...!" teriak Mentari. Ia keluar toko dengan sedikit berlari menoleh ke kanan dan kiri, dan netranya melihat anaknya menangis di gendongan Pak Joko yang merupakan tukang parkir di sana.
Buru-buru Mentari menghampirinya dengan wajah setengah kaget melihat luka di lutut Gio, "Sayang kamu kenapa Nak?" ujar Mentari khawatir. Ia mengambil Gio dari gendongan Pak Joko yang masih menangis.
"Tadi Gio jatuh Mbak, di sana," kata Pak Joko menjelaskan kenapa Gio menangis serta menunjuk arah di mana Gio terjatuh.
"Terima kasih Pak, sudah menolong Gio,"
Pak Joko mengangguk, "Sama-sama Mbak."
Setelah itu Mentari menggendong Gio masuk kembali ke dalam toko dan langsung menuju ruangannya. Ia meletakkan Gio di sofa kemudian Mentari mengambil kotak obat, "Kenapa tadi Gio keluar? Bukankah tadi Mama sudah bilang jangan ke mana-mana."
Gio yang masih sesenggukan mencoba menjawab Mentari, "Gio tadi melihat Papa Ma." beo Gio di sela-sela isak tangisnya.
Mentari yang hendak membuka kotak obat terhenti seketika, ia menatap Gio yang menunduk. Lagi-lagi hati Mentari tercubit, jadi Gio lari keluar tak mengidahkan pesannya dan terjatuh hanya karena Ardan. Seingin bertemu itukah bocah tersebut kepada sang papa yang jelas-jelas tak mau dengan kehadirannya? d**a Mentari terasa sangat sesak, ingin rasanya ia membawa Gio pergi dari tempat ini.
"Papa tidak mendengar teriakan Gio, jadi Gio lari mengejar Papa," lanjutnya bercerita.
Mentari tak sampai hati mendengarnya, ia masih diam sambil melihat goresan di lutut anaknya tersebut. Bagaimana bisa Gio yang ingin memeluk Ardan harus terluka seperti ini? Hati Mentari sakit.
Mentari tidak peduli jika Ardan yang menyakitinya, sebab Mentari tau apa obat untuk menenangkan dirinya sendiri. Sedangkan jika Gio yang Ardan sakiti seperti ini, Mentari tak tau cara untuk mengobatinya. Tak terasa air matanya luruh di depan Gio tanpa Mentari sadari. Ia tidak ingin Gio disakiti oleh siapapun, Mentari tidak akan terima.
Tiba-tiba sebuah tangan mungil mengusap pipinya, "Mama kenapa nangis?"