Tersadar karena suara Gio, buru-buru Mentari menyeka air matanya. Kenapa bisa gagal menahannya, padahal Mentari sudah berjanji tidak akan menunjukkan tangisannya di depan Gio. Kalau dirinya lemah, siapa yang akan menjaga Gio nantinya?
"Tidak mama tidak menangis Sayang," bohongnya. "Kayaknya ada debu yang masuk deh." alibi Mentari sambil mengerjab-ngerjabkan matanya.
Karena tidak ingin mamanya bersedih, bocah kecil itu menarik sudut bibirnya lebar ia mengangkat tangan kanannya lalu menggoyangkan seolah mengatakan tidak. "Ini tidak sakit kok Ma. Gio kan kuat!"
Mentari tersenyum meski sebenarnya ia berbohong, hatinya menangis melihat Gio yang seakan-akan menghiburnya. "Iya Gio anak kuat."
Gio merentangkan tangannya lalu memeluk Mentari erat. Entah mungkin itu adalah caranya untuk menangkan Mentari agar tidak khawatir kepadanya. Sungguh romantis sekali bocah kecilnya, siapa yang tak bangga jika menjadi ibu Gio? Jelas Mentari sangat bangga kepadanya. Tak henti-hentinya ia bersyukur dikaruniai anak seperti Gio.
"Mas andai kamu tau sesayang apa anakmu ini kepadamu, aku berharap kamu tidak menyesal telah menyia-nyiakannya," batin Mentari sambil mengusap sayang kepala Gio yang masih ada didekapannya.
Setelah ia mengobati luka Gio, Mentari kembali turun memastikan apakah toko masih ramai mengingat tadi ia meninggalkannya saat toko sedang ramai-ramainya.
Syukurlah toko terkendali aman. Mentari cukup lega dan berterima kasih kepada para karyawan yang bekerja, mereka semua cukup sigap melayani pembeli.
"Bu bagaimana Gio?" tanya Fira.
"Aman Fir, tadi jatuh di depan kakinya lecet sedikit,"
"Oh syukurlah Bu kalau begitu, tapi kasihan sekali Gioku,"
Mentari terkekeh mendengar Fira, yang membuatnya bersyukur lagi adalah banyak orang-orang yang peduli kepada anaknya itu.
"Ya sudah kamu semangat kerjanya Fir,"
"Pasti Bu,"
***
Dan kebetulan sekali Ambar dan Rusdi mampir ke Ocato Bakery siang ini, tujuannya ingin bertemu dengan Gio. Tampaknya pasangan suami istri itu sudah rindu untuk bertemu cucunya. Mentari menyambutnya hangat, meski anak mereka telah melakukan hal tercela kepada Gio, ia tetap menghormati Ambar dan Rusdi sebagai kakek dan nenek anaknya.
Ia menyalami kedua orang tersebut juga mempersilahkan mereka untuk duduk, "Sebentar Pak, Bu Tari panggilkan Gio dulu di atas."
"Terima kasih Tar," ucap Ambar terlihat bahagia karena Mentari masih mau mengijinkan mereka bertemu Gio.
Mentari pergi memanggil Gio yang berada di ruangannya. Memang tadi ia tidak mengijinkan untuk anaknya turun karena lututnya yang masih di perban. Dan Gio menurut, sekarang ia sedang fokus menonton serial kartun Nusa dan Rara di tab milik Mentari sambil bermain mobil-mobilannya.
"Sayang ...." panggil Mentari.
Mendengar mamanya datang Gio bersorak senang.
"Ada yang nyariin Gio di bawah,"
Gio mengerutkan keningnya, "Siapa Ma?"
"Coba tebak siapa?"
"Om Yusuf!" serunya.
Mentari menggeleng, "Bukan."
Gio tampak berfikir lagi sambil mengetuk-ketukkan jarinya di atas dagu, sangat lucu eksperinya sekarang.
"Gio tidak tau," ungkapnya menyerah.
"Ada kakek sama nenek,"
Senyum Gio mengembang seketika, "Yey!" soraknya.
"Mama gendong," Mentari merentangkan tangannya untuk membawa Gio ke dalam gendongannya karena lutut Gio yang masih sakit dibuat jalan.
"Ma, Om Yusuf kenapa tidak pernah ke sini ya? Gio kangen,"
"Om Yusuf sibuk Sayang, tapi nanti kalau udah nggak sibuk pasti main ke sini," kata Mentari memberi pengertian kepada Gio.
Gio mengangguk mengerti bahwa Yusuf memang sedang bekerja, sedetik kemudian netranya melihat Rusdi dan Ambar seketika rasa sedihnya karena tak bertemu Yusuf teralihkan. Ia kembali tersenyum menyambut kakek neneknya, "Kakek! Nenek!" Teriak Gio heboh.
Rusdi dan Ambar juga membalas senyumam Gio. Namun perhatian kedua orang itu tertuju pada luka di lutut Gio, "Kamu kenapa Sayang?" tanya Ambar khawatir.
"Tadi Gio jatuh Bu," Mentari berharap Gio tidak gamblang menceritakan mengapa dirinya terjatuh, ia tidak mau membuat dua orang di hadapannya marah kepada anaknya dan berimbas Ardan menyalahkan Gio.
Ambar menerima uluran tangan Gio lalu membawanya ke pangkuan wanita paruh baya itu. "Pasti sakit ya Nak?" tanyanya.
Diluar dugaan Gio malah menggeleng, "Tidak sakit kok Nek. Gio kuat."
Mendengar itu Rusdi terkekeh, "Memang cucuku ini sangat kuat."
"Bu, Pak Tari ijin sebentar ya," pamitnya. Ia hendak pergi ke belakang guna mengambilkan minum dan beberapa cemilan untuk Rusdi dan Ambar.
"Kenapa bisa jatuh Sayang?"
Gio diam sebentar, "Tadi Gio melihat Papa terus Gio panggil tapi Papa gak denger."
Rusdi dan Ambar saling tatalsatu sama lain, "Di mana Gio melihat Papa?" tanya Rusdi.
"Di sana Kek," Ia menunjuk arah depan.
Rusdi keluar mencari Ardan, namun tidak ia temukan siapa-siapa di sana. Saat hendak berbalik Rusdi melihat sebuah mobil yang mirip dengan milik Ardan, ia berjalan mendekat dan benar saja saat melihat plat mobil tersebut, Rusdi yakin bahwa itu mobil milik anaknya.
Rusdi kembali ke dalam lagi, karena ia tak menemukan keberadaan Ardan. Ia berniat menunggu Ardan dari dalam saja, "Ya benar ada Ardan, tapi aku tidak melihat keberadaan anak itu." bisiknya kepada Ambar.
Firasat Ambar mengatakan bahwa sang anak sedang bersama wanita ular yang membuat keluarga anaknya berantakan. Karena tidak ingin Gio melihat suaminya dan dirinya emosi, ia memanggil Mentari untuk menjaga Gio sebentar.
Wanita paruh baya itu menarik tangan Rusdi agar keluar, ia ingin menunggu Ardan di luar saja. Mentari mengeryitkan kening heran saat mereka tiba-tiba keluar, "Kakek sama nenek mau ke mana Ma?" tanya Gio menatap kepergian kakek neneknya yang tiba-tiba.
"Sepertinya kakek dan nenek lagi ada urusan Sayang,"
"Yaudah Ma, antar Gio ke atas lagi mau nonton Nusa Rara saja," Mentari mengangguk dan menggendong Gio ke atas.
Mentari sedikit ingin tau kenapa tiba-tiba Ambar dan Rusdi pergi, meski kedua orang itu mengatakan akan segera kembali membuat Mentari penasaran. Setelah membawa Gio ke ruang kerjanya, ia kembali turun ke bawah.
Matanya menajam saat melihat kegaduhan di depan tokonya, "Ibu!" teriaknya buru-buru lari keluar.
Di sana Mentari melihat Ambar yang sedang marah kepada Ardan. Lutut Mentari lemas melihat pemandangan ini, seolah kejadian malam itu kembali terbayang. Semua orang berteriak ke arah Mentari, "Ya Tuhan!" pekiknya karena kepalanya pusing seketika.
Suara demi suara bersahut-sahutan di kepalanya membuat pusing itu semakin parah, apalagi saat ia mendengar tangisan Ambar. Mentari menekan kepalanya berusaha untuk menghilangkan rasa peningnya. Ia tak mendengar jelas apa yang mereka bicarakan, yang sekilas Mentari dengar adalah Ardan mengatakan anak haram.
Ia berusaha bersandar di tembok, kepala dan hatinya mendadak sakit. Anak haram katanya? Membuat Mentari ingin tertawa namun tak memiliki tenaga untuk melakukannya.
Sebenarnya tangan Mentari gatal ingin menampar wajah Ardan, ia ingin berteriak di depan laki-laki itu dan mengatakan bahwa Gio memang anaknya. Jika Ardan tidak percaya, ia siap melakukan tes dna, tapi semuanya percuma. Tidak ada gunanya Ardan mengetahui apakah Gio anak kandungnya atau bukan.
Mentari rasa Ardan juga tidak peduli, meskipun sejujurnya Mentari menginginkan pengakuan Ardan bahwa Gio adalah anak kandungnya. Demi Gio, hanya demi Gio, Mentari tidak menuntut tanggung jawab, ia hanya mengharapkan pengakuan dan tidak mengatakan anak haram lagi di depan Gio karena Mentari tau Gio begitu sayang menyayangi sang pao.
Kepala Mentari semakin pusing, bahkan untuk membuka mata ia sudah tidak sanggup dan beberapa detik setelah itu Mentari tidak melihat apa-apa. Tubuhnya terasa melayang begitu saja.
"Bu Tari!" teriak Fira, membuat orang-orang yang tengah gaduh itu menoleh.
***
Perlahan Mentari membuka mata, kepalanya masih terasa sedikit pusing meski tidak separah tadi. Ia mengedarkan pandangannya dan aroma obat-obatan menyeruak di indra penciumannya, tembok putih dan juga sebuah tirai penyekat membuat Mentari sadar di mana dirinya sekarang.
Mentari mencoba untuk bangun kemudian turun dari brangkar, berapa lama dirinya tidur di sana. Ia tidak tau siapa yang membawanya pergi ke tempat ini, terakhir yang Mentari ingat kepalanya sangat pusing hingga membuat pandangannya buram lalu gelap seketika.
Kakinya terasa lemas, untung saja tangan Mentari dengan sigap berpegangan pada sisi pinggir brangkar. Ia menyesal tidak menuruti kata Sera untuk banyak-banyak istirahat, jika sudah begini siapa yang akan merawat Gio nantinya.
"Oh aku harus segera pulang, Gio pasti mencariku," Terakhir ia meninggalkan Gio sendiri di ruangannya.
Saat hendak keluar, sebuah sepatu pantofel hitam menghadang jalannya. Mentari mendongak dan matanya bertemu dengan mata hitam legam milik Ardan. Tatapannya tajam dan jijik memandang Mentari yang hanya memiliki tinggi sebahu laki-laki tersebut.
"Kau bersama anakmu itu pergilah yang jauh!" dinginnya. "Sebelum aku menghancurkan hidupmu!" Ancam Ardan berbisik di telinga Mentari kemudian dia pergi.
Mentari tertawa sumbang, benarkah Ardan mengancamnya? Ia juga menyuruh Mentari untuk membawa pergi darah dagingnya? Lawak sekali dunia ini bagi Mentari, seharusnya Ardan mengatakan itu kepada kedua orang tuanya. Bukan Mentari yang mencari Rusdi dan Ambar lalu menggunakan Gio sebagai alat, malah kedua orang tua Ardan sendirilah yang datang mencarinya dan Gio.
Kalau bisa Mentari tidak ingin mengenalkan Ardan kepada Gio. Tetapi Mentari tidak egois, ia masih menghargai citra Ardan sebagai ayah Gio. Memang Ardan gagal menjadi suami untuk Mentari, tetapi belum tentu ia gagal menjadi seorang ayah untuk Gio. Mentari masih ingin dan mau memberikan kesempatam untuk laki-laki tersebut.
Tak lama Rusdi dan Ambar datang, keduanya melihat Mentari diam dengan tatapan kosong ke depan.
"Tar ...." panggil Ambar
Seketika ia menoleh, "Iya Bu?"
"Sudah enakan?"
Mentari mengangguk, "Apa Ardan kemari Tar? Tadi saat hendak masuk ke sini kami berpapasan dengannya di depan." kata Rusdi.
Tidak mungkin Mentari mengatakan bahwa Ardan mengancamnya. Bisa-bisa Ardan akan semakin marah kepadanya dan Gio benar-benar tidak bisa bertemu dengan ayahnya.
Mentari mengangguk, "Iya Pak. Tadi Mas Ardan ke sini."
"Dia mengatakan apa kepadamu Tar?" Ambar mengelus puncak kepala Mentari. Wanita paruh bayah itu firasat bahwa anaknya telah mengatakan hal yang tidak-tidak kepada Mentari.
"Tidak Bu, Mas Ardan tidak mengatakan apa-apa. Mas Ardan langsung pergi saat Mentari bangun,"
Ambar mengusap dadanya pelan, "Syukurlah jika begitu."
Tak lama seorang dokter datang memeriksa keadaan Mentari. Mendengar bahwa dirinya boleh pulang membuat Mentari lega, ia tidak tega berlama-lama meninggalkan Gio seorang diri.
***
Sera yang mendengar kondisi Mentari sedang tidak baik-baik saja, langsung pergi menuju apartemennya. Sebagai seorang teman yang peduli ia melarang Mentari untuk masuk hari ini. Ia memaksa untuk menggantikan Mentari sementara, "Udah deh Tar mending istirahat dulu." ucapnya sambil memasukkan barang-barang yang hendak ia masukkan ke dalam tasnya.
"Tapi aku udah enakan kok Ser,"
Sera menaikkan sebelah alisnya, "Wajah pucat dan tubuh lemas seperti itu kamu bilang enakan?"
"Ayolah Ser, aku bingung tidak melakukan apa-apa di rumah,"
"Memangnya siapa yang menyuruhmu untuk melakukan sesuatu Tar. Aku menyuruhmu untuk istirahat,"
"Tapi-"
"Sudahlah aku harus segera pergi, sebentar lagi toko akan buka," Sera pergi meninggalkan Mentari yang mencebikkan bibirnya kesal.
Mentari melirik jam di dekat televisi, aktifitas apa yang membuatnya tidak bosan seharian. Memasak dan membersihkan rumah sudah ia lakukan. Mungkin pergi berbelanja di supermarket depan dan berjalan-jalan sebentar akan menjadi pilihannya. Setelah nanti Gio bangun ia akan segera bergegas.
Senyumnya merekah saat melihat Gio sedang pulas dalam tidurnya. Mentari berjalan mendekat dan duduk di pinggir ranjang sebelah kanan dekat Gio. Ia mengusap surai hitam miliki Gio yang disinyalir turunan dari Ardan, ia sendiri bingung kenapa Ardan tidak bisa melihat hampir wajah Gio mirip sekali dengan wajah dirinya. Bahkan Mentari yang mengandung dan membesarkan Gio tidak memiliki andil di sana. Lantas apa yang membuat Ardan tetap mengelak?
Mengapa waktu secepat itu membawa mereka bertemu? Pengakuan anak haram yang dilontarkan Ardan cukup membuat Mentari kecewa. Tubuh Gio tiba-tiba menggeliat pelan, sepertinya dia merasakan elusan tangan Mentari yang hinggap di kepalanya. Kemudian ia membuka mata melihat mamanya diam melamun.
"Ma ...." lirihnya, menyadarkan sang ibu yang ternyata belum mengetahui jika dirinya sudah membuka mata.
"Loh udah bangun aja, Mama gangguin tidur Gio ya?"
Gio menggeleng, "Tidak kok." sahutnya dengan menampilkan deretan gigi putihnya.
"Mau mandi?" tawar Mentari, karena Gio paling suka bangun lalu bergegas mandi. Seperti kebiasaan Ardan saat dulu. Andai Ardan tau dan melihat begitu miripnya kelakuan dan wajah Gio dengannya, apa laki-laki itu masih tetap akan menyangkal bahwa bocah itu bukan anaknya?
Gio mengangguk lalu merentangkan kedua tangannya. Mentari langsung menggendongnya dan membawa bocah tersebut ke dalam kamar mandi.
Selesai mandi dan menggunakan pakaian lengkap Gio duduk di sofa depan televisi menunggu sereal dan susunya datang, "Mama hari ini libur?"
Mentari yang berada di dapur mendengar suara Gio, "Kenapa Sayang?"
"Hari ini libur, tidak ke toko?" ulangnya.
"Tidak. Hari ini Tante Sera yang pergi ke toko," sahut Mentari dari dapur.
"Tadi Tante Sera datang ke sini Ma?"
Mentari berjalan sambil membawa mangkuk berisi sereal milik Gio dan juga segelas s**u coklat, "Iya. Tadi pagi-pagi Tante Sera ke sini waktu Gio masih tidur." Ia melirik luka di lutut Gio, "Masih sakit?"
Gio menggeleng sambil memasukkan sendok sereal ke dalam mulutnya, "Mama ...."
Mentari menoleh menatap sang anak yang sedang mengunyah, "Habiskan dulu baru bicara Sayang." tegurnya.
Gio terkekeh sembari melanjutkan kunyahannya.
"Kemarin tante yang bersama papa siapa Ma?"
"Kenapa papa tidak pernah menjenguk Gio di sini Ma?"
"Apa Gio nakal ya Ma?" cicitnya sangat lirih.
Seketika Mentari diam, pertanyaan Gio seakan menampar dirinya. Sebagai seorang ibu ia merasa gagal. Ternyata serindu itu Gio kepada Ardan, sesayang itu anaknya kepada sang papa hingga setiap hari yang ada di kepalanya hanya Ardan dan Ardan.
Mungkin banyak pertanyaan yang ingin Gio tanyakan kepada Mentari, tetapi bocah itu memilih tidak melakukannya karena takut jikalau Mentari marah. Pernah waktu itu Mentari memergoki Gio yang sedang menatap sendu sepasang suami istri beserta anaknya yang Mentari kisar seumuran dengan Gio datang ke toko, Gio menatap tanpa jeda keluarga bahagia itu. Mentari yakin sejujurnya Gio ingin merasakan kehangatan sebuah keluarga.
Apa yang bisa Mentari jawab, jika Gio memberondongnya dengan banyak pertanyaan yang ia sendiri tidak bisa menjawab.
***
Siangnya Mentari mengajak Gio berbelanja di supermarket sambil berjalan-jalan sebentar. Sambil mencari-cari sekolah TK di sekitar apartemennya untuk Gio. Karena anak laki-lakinya itu sudah tidak sabar, setiap malam Gio selalu menanyakan kapan dirinya akam segera di daftarkan di sekolah Taman Kanak-Kanak kepada Mentari.
Mentari menggandeng tangan Gio sembari memilah dan mimilih buah sekaligus sayur untuk persediaan di apartemennya. Ia terkekeh saat melihat Gio yang berusaha menjinjit agar bisa ikut membantu Mentari, karena tingginya yang tidak bisa menggapai keranjang buah tersebut akhirnya ia menyerah.
"Gio mau apa?" tanya Mentari.
Ia merentangkan tangannyal untuk Mentari gendong, "Mau lihat-lihat dulu Ma."
Mentari mengangguk lalu menggendongnya. Mata Gio tertuju ke buah pisang, ia langsung menunjukkan.
"Mau pisang?"
"Iya,"
Saat Mentari sibuk menimbang sayur dan juga buah-buahannya, ia tak menyadari keberadaan Gio yang sudah tidak ada di sampingnya. Mengetahui Gio tak ada buru-buru Mentari mencarinya.
"Dasar anak nakal!"
Suara bentakan yang tak asing di telinganya itu membuat Mentari menoleh mencari di mana sumbernya. Saat ia menoleh ke arah sebelah kanan, Mentari melihat Gio berhadapan dengan seseorang yang ia kenal. Tampaknya memang benar, Ardan yang membentakknya.
Tergesa-gesa Mentari menyusul Gio yang ketakutan.
"Lihat karena kamu baju mahal kekasih saya kotor!" Ardan memarahi Gio di depan banyak orang. Bahkan ia tak peduli dengan gunjingan beberapa orang yang menyayangkan sikap kasarnya kepada Gio. Ardan tak suka melihat Gio yang tiba-tiba lari memanggilnya papa lalu memeluknya dan membuat Gio menyenggol minuman yang ada di tangan Bella hingga mengotori baju kekasihnya itu.
Pasalnya Ardan muak mendengar kata papa yang terucap dari mulut Gio anak dari mantan istrinya itu. Sudah berapa kali Ardan menyebutkan bahwa ia bukan papanya tapi masih saja bocah tersebut menyebutnya papa, sampai-sampai membuat Ardan geram ingin menamparnya.
"Maaf Pak, maafkan anak saya," Mentari datang memeluk Gio dengan tubuh yang bergetar hebat.
Ardan semakin murka saat melihat Mentari datang, "Apa kau ibu dari anak nakal itu?" Lucu sekali, sekarang di hadapan banyak orang ia berpura-pura tak mengenal Gio. Jika Ardan berpura-pura tak mengenalinya, tak apa tetapi lagi-lagi ia melakukan kesalahan yang dapat melukai Gio.
Mentari menunduk, "Maafkan anak saya Pak. Saya yakin anak saya ini tidak sengaja."
"Kalau kau tidak bisa becus mengurus anak lebih baik kau taruh saja dia di panti asuhan!" bentak Ardan sarkas.