Ruang tengah apartemen itu terasa begitu sepi malam itu. Hanya terdengar suara jam dinding yang berdetak pelan. Lampu ruang makan masih menyala temaram, menambah nuansa sendu yang menyelimuti keluarga kecil itu. Reno duduk di kursi, kedua tangannya bertaut erat di atas meja seolah sedang menahan sesuatu yang berat di dadanya. Rani duduk di samping Kania, sementara putri mereka itu bersandar lemah, menatap kosong ke lantai. Reno menarik napas panjang, lalu melepaskannya perlahan. Suaranya berat saat akhirnya ia membuka percakapan. “Kania, bagaimana kalau kita kembali ke kampung?” tanyanya hati-hati. Kania mendongak perlahan, wajahnya pucat, sorot matanya penuh luka. Kalimat ayahnya barusan seperti menambah beban yang sudah menumpuk di pundaknya. “Kania mau di sini aja, Yah,” jawabnya pe

