Mobil Indra berhenti perlahan di pelataran apartemen keluarga Kania. Suasana sore itu terasa sedikit lengang, hanya ada suara angin yang membawa aroma aspal panas bercampur dengan debu jalanan. Begitu mesin mobil dimatikan, semua orang di dalam mobil terdiam. Reno lebih dulu buka suara, dingin dan singkat. “Terima kasih, dan nggak usah mampir ya!” ucapnya sambil menatap Indra dengan sorot mata tajam. Indra mengerjapkan mata sebentar, tersenyum kecut, jelas merasa tidak enak hati. “Iya Om, saya juga mau langsung aja. Karena ada kerjaan,” balasnya sopan. “Bagus kalau gitu,” kata Reno datar, seakan ingin cepat menyudahi percakapan. Sementara Kania yang duduk di kursi belakang menoleh sekilas ke arah Indra. Ada rasa bersalah, tapi juga terima kasih. Dengan suara yang pelan dan bergetar i

