Hari itu ruang rawat terasa sedikit lebih hangat dari biasanya. Matahari siang menerobos lewat jendela, tirai putih yang setengah terbuka bergoyang perlahan karena hembusan angin dari pendingin ruangan. Kania duduk di ranjang, tangannya sibuk memainkan ujung selimut, sesekali menatap kosong ke luar jendela. Hatinya masih rapuh, pikirannya berkecamuk antara rasa bersalah, takut, dan resah akan masa depan yang belum jelas. Di sudut ruangan, Rani tampak sibuk. Ia tengah melipat pakaian Kania, memasukkannya satu per satu ke dalam tas yang sudah terbuka di atas meja. Sesekali ia menoleh pada putrinya, memastikan Kania baik-baik saja. Suasana begitu tenang hingga tiba-tiba terdengar ketukan pelan di pintu. Tok... tok... Suara itu membuat Kania menoleh cepat. Wajahnya sedikit tegang. Pintu kem

