Zhaira selesai mandi dengan handuk yang masih melilit tubuhnya. Tangan kanannya sibuk menggosok rambut yang masih basah setelah keramas dengan handuk lain. Zhaira melangkah menghampiri Fairel yang masih terlelap dalam tidurnya. Zhaira duduk di sisi ranjang, mengusap lembut tangan suaminya. "Kang, bangun. Sebentar lagi adzan subuh," ucap Zhaira. Terdengar erangan dari Fairel. Namun laki-laki itu tampak masih berat untuk membuka mata. Zhaira tersenyum geli. Dalam kondisi apapun, Fairel selalu menarik di matanya. Apalagi saat laki-laki dua puluh empat tahun itu tidur, wajah polosnya terlihat menggemaskan. Zhaira mendekatkan wajah pada telinga Fairel, lalu berbisik hingga membuat Fairel sontak membuka kelopak matanya. "Jangan gitu dong, Sayang. Mainnya ngancem nih sekarang," keluh F

