"Apa yang kau lakukan ? Menjauh dari nya Devison."
Sebuah tarikan kasar di lengan nya membuat Fania berdiri dari duduk nya dan dengan gerakan cepat pria yang tadi nya membungkuk di depan nya kembali berdiri tegak.
Cengkraman Breanch di lengan nya membuat Fania berusaha melepaskan cekalan tangan Breanch. Dan berhenti saat Breanch menatap nya dengan sorot marah bahkan cengkraman tangan nya semakin kuat membuat Fania menahan lenguhan sakit nya dalam - dalam.
"Hey, Calm Down brother." Pria yangan di panggil dengan nama Devison tersebut hanya tersenyum lalu menepuk - nepuk bahu Breanch seolah mereka dekat. Membuat Breanch berdesis tidak suka.
"Jauhkan tangan kotormu dari ku. Sebelum aku mematahkan nya."
Dengan senyuman yang masih belum hilang dari wajah nya dengan perlahan Devison menjauhkan tangan nya lalu mengangkat nya tinggi seolah - olah mengakui kekalahan nya. "Woow. Kau masih sensitif seperti dulu, Breanch."
"Ini terakhir kali nya aku mendapatimu mendekati nya. Jika kau berani mendekati nya lagi aku akan membunuhmu."
Breanch berbalik berjalan meninggalkan Devison yang hanya terus tersenyum menatap nya.
Hingga langkah kaki Breanch berhenti berjalan saat mata nya menatap sebuah jas yang berada di kedua bahu Fania. "Apa yang ada di bahumu itu."
Kali ini rintihan Fania tidak tertahan dan mengeluarkan suara lenguhan kecil saat tangan Breanch semakin erat mencengkram pergelang tangan nya. Dan dengan kasar Breanch menarik jas tersebut dari bahu Fania lalu membuang nya ke bawah lantai membuat Fania berjengit kaget.
"Apa yang kau lakukan !" sentak Fania marah saat melihat jas tersebut sudah berada di bawah kaki nya.
Saat Fania akan merunduk mengambil jas tersebut dengan kasar Breanch kembali menarik nya untuk berdirk tegak, membuat Fania menatap nya dengan marah "Jangan berani menyentuh nya. Atau aku akan mematahkan tangan mu."
Dan ucapan Breanch mendapat lenguhan sakit dari bibir Fania yang kini di rasa nya salah satu tangan nya sudah benar - benar akan patah.
"Sialan." Maki Fania sebelum Breanch kembali melinggarkan sedikit cengkraman nya dan kembali menarik nya verjalan dengan tergesa - gesa.
Dengan perlahan - lahan Fania mengoleskan sebuah salep di salah satu pergelangan tangan nya yang sudah berubah warna menjadi ungu dengan sebuah ringisan yang tidak terhenti - henti keluar dari mulut nya.
Sialan. Lelaki itu benar - benar akan mematahkan tangan ku.
Sebuah ketukan di pintu membuat Fania menoleh sekilas sebelum membuka suara nya dan kembali mengobati pergelangan tangan nya "Masuk."
"Nona Tuan Breanch memerintahkan saya untuk membantu anda berganti baju." ucap maid tersebut yang masih menundukan kepala nya.
"Kemana lelaki itu ?"
"Tuan Breanch sedang keluar baru - baru ini."
"Lagi ?" Dan maid tersebut hanya diam menunduk sebelum berjalan mendekati lemari pakaian dan mengeluarkan jubah tidur yang akan di gunakan Fania.
"Apa kau tauh pria yang bernama Devison ?" Dan kali ini sebuah hembusan nafas keluar dari mulut Fania saat maid muda tersebut menggelengkan kepala nya.
"Kemarilah dan bantu aku melepaskan gaun ini."
Keributan di pagi - pagi buta membuat Fania terbangun dari tidur nya dan berjalan untuk keluar dari pintu kamar. Sebelum sebuah badan besar kembali menghalangi jalan nya.
Dua orang pengawal yang sama masih berdiri di depan pintu menjaga nya dan tidak mengizinkan nya untuk keluar.
"Sebaik nya anda kembali masuk ke dalam nona."
Dengan kasar Fania menepis tangan pengawal yang merentang di depan nya dan menatap nya dengan marah.
"Minggir." ucap Fania tetapi hanya di abaikan oleh kedua pengawal tersebut. "Sampai kapan kau akan berdiri di sini dan menghalangi jalan ." Sambung Fania dengan kesal sebelum kembali berbalik masuk ke dalam kamar.
Kini Fania benar - benar merasa sebagai seorang tahanan di dalam mansion. Diri nya sudah tidaj dapat menjelajah dengan bebas di dalam mansion bahkan saat akan makan diri nya tidak bisa lagi menikmati nya di meja makan melainkan di kamar. Membuat Fania benar - benar bosan dan kini pintu balkon di mana diri nya di lempar sudah terkunci dan hanya di buka jika diri nyal sedang mandil untuk menukar udara segar dengan alami lalu kembali di tutup, tidak mengizinkan Fania menghirup udara segar di balkon kamar tersebut.
Fania masuk ke dalam kamar mandi dan mencuci wajah nya di depan wastafel yang di susul dengan menyikat gigi nya.
Sekilas Fania merasa sedikit bingung saat beberapa menit belum ada seorang maid yang datang untuk membantu nya pagi ini. Biasa nya seorang maid sudah akan berada di depan pintu kamar dan menyiapkan segala kebutuhan nya bahkan menyisir kan nya rambut.
Suara keributan kembali terdengar membuat Fania semakin cepat menggosok gigi nya lalu mengikat rambut nya. Kali ini diri nya memutuskan untuk harus mengecek seseuatu yang terjadi saat suara keributan semakin terdengar dan membuat nya penasaran.
Dan kembali menggeram kesal saat keadaan masih sama di mana diri nya tidak bisa melangkah keluar lebih jauh. "Apa yang terjadi di bawah sana. Itu mengganggu ku ! Jadi, jika aku tidak bisa ke bawah dan mengecek nya setidak nya salah satu dari kalian yang mengecek nya ! Apa itu tidak bisa !" Bentak Fania dengan suara nya yang serak pagi ini membuat salah satu pengawal tersebut membentuk sebuah kontak mata dan mengangguk.
"Saya akan mengecek nya. Jadi, nona silahkan kembali ke dalam kamar anda." Dan dengan kesal Fania menyentakan kaki nya berbalik masuk.
"Ini bukan kamar ku !" Teriak Fania di susul dengan suara pintu yang tertutup kencang.
Beberap menit menunggu diri nya belum mendapat ketukan di pintu dari pengawal yang menjaga pintu kamar tersebut. Bahkan suara keributan semakin keras dan suara teriakan semakin terdengar.
Dan untuk yang ketiga kali nya diri nya kembali membuka pintu kamar dan mendapati hanya terdapat satu pengawal yang menjaga nya. Dengan alis yang terangkat Fania menatap pengawal tersebut "Apa dia belum kembali ?" tanya Fania dan pengawal tersebut hanya menggeleng.
"Ck. Sebenar nya apa yang terjadi di bawah sana." Gumam Fania membuat pengawal tersebut hanya melirik nya sebentar lalu kembali menunduk.
Breanch tengah duduk di taman belakang dengan tenang di temani secangkir kopi panas yang menggepul di samping nya. Ketenangan itu terganggu saat suara teriakan sakit merasuk ke dalam indera pendengaran nya. Membuka mata nya menampilkan bola mata Amber yang terlihat tenang.
Seorang perempuan berpakaian maid dengan rambut pendek nya tengah menahan sakit saat lagi - lagi cambukan terasa di belakang punggung nya tanpa henti.
Sreet... Bunyi sobekan baju perempuan tersebut terdengar membuat nya menampilkan kulit punggung nya yang kini di penuhi luka memnjang cambukan dengan darah yang merembas keluar.
"Apa dia belum mau membuka suara nya ?" tanya Breanch dengan mata nya yang terus menatap ke depan perempuan tersebut.
"Dia masih sama."
Menarik nafas nya dalam - dalam Breanch bangkit dari duduk nya dengan kedua tangan yang di masukan ke dalam saku celana nya.
"Sepertinya kita terlalu lunak. Kali ini gantung dia dan terus cambuki diri nya tanpa henti." Untuk sesaat Breanch melirik sedikit perempuan tersebut sebelum mata nya beralih menatap sekumpulan maid yang berkerumun menonton pertunjukan tersebut. "Jika dia masih belum mau membuka suara nya, lucuti pakaian nya di depan semua pengawal dan para maid."