20~A Mafia Obsession

1178 Kata
Fania menendang pintu di depan nya membuat pintu tersebut terbuka lebar dengan suara yang keras. Lagi - lagi diri nya melupakan sopan santun atau tata kramah nya sebagai seorang perempuan yang harus nya bersikap lembut dan sopan. "s****n KAU BREANCH !" teriak Fania dengan suara lantang membuat para pengawal yang mengejar nya dari belakang berusaha menarik nya menjauh dari pintu kerja pribadi Breanch. Fania dengan nafas terengah - engah berusaha lepas dari kungkungan pengawal yang sudah beberapa hari menjaga di depan pintu kamar yang di tempati nya. Sebuah langkah sepatu bergema terdengar di dalam mansion tersebut membuat Fania berhenti memberontak saat tauh siapa yang sudah di tunggu - tunggu nya akhir nya keluar dari ruang kerja nya. Breanch memberi perintah kepada dua orang pengawal yang masih menahan tubuh Fania agar melepaskan nya sebelum berlalu pergi meninggalkan diri nya dan Fania. "Seorang gadis seharus nya tidak menendang pintu seperti itu Fania, Kau mempunyai tangan buka dengan tangan mu. Kau harus memiliki sopan santun yang yang tinggi sebagai perempuan." Dengan tangan terkepal juga mata yang berkobar marah seolah siap berperang Fania menatap Breanch yang hanya tiga langkah dari nya. "Berani sekali kau berbicara sopan santun !. Justru aku yang bertanya - tanya di mana sopan santumu sebagai laki - laki.! Berani sekali kau melucuti pakaian seorang perempuan dan menggantung nya di taman belakang membiarkan tubuh nya menjadi tontonan !" Fania maju selangkah mendekati Breanch dengan mengepal kedua tangan nya kuat - kuat . "Apa maksudmu merendahkan kaum perempuan ?" Kali ini Breanch yang berjalan maju kembali mempersempit jarak nya antara Fania yang awal nya hanya tersisa sedikit kembali tertutupi. "Kurasa kau salah paham. Aku memiliki alasan sendiri jadi, jangan campuri urusan ku." "Apapun alasan itu. Kau tidak pantas memperlakukan nya dengan tindakan senonoh mu. Jadi, lepaskan perempuan itu." perintah Fania membuat lelaki di depan nya mengangkat sebelah alis nya seolah mengejek perintah yang di keluarkan Fania. Dengan kepala yang di miringkan Breanch tersenyum mengejek menatap Fania "Jadi kau ingin menggantikan nya ?" "Brengsek." Dan satu pukulan telak tepat mendarat di pipi Breanch. Itu bukan tamparan seorang perempuan kepada seorang lelaki seperti biasa nya melainkan sebuah pukulan telak dari seorang perempuan yang terlihat lemah. Terlihat Breanch yang sedikit kaget atas apa yang di lakukan Fania dengan cepat kembali menstabilkan wajah nya menjadi datar tanpa emosi apapun. Untuk sesaat Fania juga baru sadar bahwa diri nya bisa sekuat itu memukul lelaki di depan nya. Dan tanpa bisa di tahan diri nya merasakan ketakutan saat melihat raut wajah Breanch tanpa emosi. Keberanian yang sedetik lalu berada di dalam diri nya kini menguap entah kemana dan berusaha sebaik mungkin untuk terlihat berani. "Berani sekali kau."Desis Breanch sebelum menarik kasar Fania ke taman belakang.                            Fania baru tauh jika perempuan yang di lecehkan itu adalah perempuan yang malam itu datang ke kamar nya dan membantu nya mengganti pakaian. Menyentakan tangan nya agar terlepas dari cengkraman pria tersebut dengan cepat diri nya berjalan mendekat ke arah perempuan yang masih tergantung dengan tubuh polos berniat untuk membantu nya lepas. Sebelum diri nya di hentikan oleh pengawal yang berada di sana, membuat Fania memberontak habis - habisan. Saat diri nya tidak bisa melangkah mendekat ke arah perempuan tersebut berbeda dengan Breanch yang berjalan ke tiang tempat permpuan tersebut di gantung dengan tubuh terbalik. Mata Fania tidak lepas dari pergerakan lelaki yang kini sudah berdiri dengan raut wajah datar di samping tiang perempuan yang sudah terlihat tak sadarkan diri lagi dengan keadaan tubuh yang mengenaskan. Terlihat dari kulit tubuh nya yang sudah berwarna ungu dengan beberapa bagian tubuh yang sudah robek mengeluarkan banyak darah. Jujur bagi Fania diri nya benar - benar merasa malu dengan ini. Di mana tubuh seorang perempuan yang sejenis dengan nya di jadikan tontonan bagi para pria. Diri nya merasa di rendahkan bahkan rasa nya Fania kehilangan harga diri jika membiarkan perbuatan tersebut tetap menjadi tontonan tanpa melakukan apapun. Dan merasa kesal saat para maid berkaum hawa itu hanya berdiam diri tanpa memberontak melihat salah satu kaum dari mereka di perlakukan tidak senonoh. Fania tidak ingin perempuan di anggap lemah dan tidak bisa berbuat apa - apa sehingga dapat di perlakukan dengan bebas. "Kau. Menjauh dari sana." Sentak Fania dengan tubuh yang masih berusaha lepas dari tubuh besar para pengawal. "Kenapa ? Bukan nya kau ingin perempuan ini di lepaskan ?" tanya Breanch dengan alis terangkat meraih sebuah pisau yang di letakan di sebelah kiri meja. Dengan perlahan - lahan Breanch meraih betis perempuan tersebut yang tergantung lalu mencengkram nya dengan keras seolah akan mematahkan kaki nya, tetapi hal tersebut tidak mampu membuat perempuan tersebut sadarkan diri. "Jangan. Jangan coba - coba."tekan Fania saat Breanch mulai memainkan pisau tersebut di sekitar betis perempuan itu lalu mengkat pisau itu tinggi - tinggi sebelum menancapkan nya. Membuat perempuan yang awal nya tak sadatkan diri itu tertarik kembali ke dalam kesadaraan nya dan langsung berteriak dengan kencang membuat Fania membulatkkan mata nya tidak percaya dengan apa yang di lakukan Breanch. Bahkan lelaki tersebut membiarkan pisau tersebut masih menancap di betis mulus perempuan itu membuat darah merah yang segar mengalir ke luar. Kali ini tangan Breanch beralih mengambil sebuah tang lalu kembali menarik kaki perempuan itu dan menatap kuku kaki nya "Jangan." lirih Fania. Fania menutup kedua mata nya dengan napas yang menderu saat teriakan kesakitan itu kembali terdengar "Jangan." ulang Fania dengan suara kecil nya. Dan ucapan nya di susul dengan kembali teriakan kesakitan. "Bunuh. BUNUH AKU !" teriak perempuan itu tidak tahan lagi dengan siksaan yang akan di terima nya setelah di permalukan hingga harga diri nya habis. "Kau lihat perempuan di sana agen C10 ? Dia ingin aku untuk melepaskan mu. Tapi, kau sendiri meminta untuk di bunuh ?" Tangan Breanch yang masih memegang tang tersebut bermain - main di jari kelingking perempuan itu bersiap untuk kembali mencabut kuku nya seperti di jari lainnya yang sudah mengeluarkan darah dan memperlihatkan daging merah nya. "Tidak. Kmohon, bunuh aku. Kumohon." pinta nya dengan lesu bahkan nyaris tidak bersuara membuat Fania membuka mata nya menatap perempuan itu yang kini menatap nya dengan penuh permohonan. "Bagaimana ini Fania ? Apa kau masih ingin membebaskan nya sedangkan diri nya memohon untuk mati ?" Fania bimbang. Diri nya hanya diam dan menatap perempuan itu dengan mata yang gematar takut dan air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata nya. Kali ini Breanch dengan kasar dan tanpa belas kasih kembali mencabut kuku perempuan tersebut membuat perempuan itu kembali berteriak nyaris dengan suara yang tidak terdengar lagi. Kali ini tubuh Fania gemetar dan air mata yang sedari tadi di tahan nya keluar dari pelupuk mata nya yang tertutup.Breanch berjalan ke arah Fania tanpa bisa di tahan Fania merosot jatuh saat pengawal tidak lagi memegang nya dan menjauh melihat Breanch yang mendekat. Tangan nya yang di lumuri oleh darah menarik dagu Fania agar mendongak menatap mata nya membuat Fania meringis mencium bau amis yang merasuk ke dalam indera penciuman nya. "Lain kali akan ku pastikan seluruh keluarga perempuan mu yang akan berada di sana dengan tubuh polos nya jika kau kembali berulah." Dan s**l nya ancaman lelaki bermata amber di depan nya itu berhasil mempengaruhi nya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN