21~A Mafia Obsession

1337 Kata
Fania tersentak kaget dan terlonjak bangun dari tidur nya, dengan nafas yang terengah - engah juga keringat yang memenuhi dahi nya. Dengan cepat tangan nya merayap ke nakas di samping tempat tidur lalu menyalakan lampu yang berada di atas nakas tersebut. "Itu hanya mimpi." Gumam Fania berulang kali dengan memegang jantung nya yang kini berdegup kencang. Tidak pernah diri nya bermimpi semenakutkan itu. Kembali mengingat nya membuat Fania tanpa sadar melihat - lihat ke sekeliling kamar yang di tempati nya, memastikan lelaki yang menjadi mimpi buruk nya itu tidak ada. Baru saja diri nya bermimpi bahwa lelaki bermata amber itu membunuh ayah nya sebelum melemparkan tubuh ayah nya kehadapan Fania untuk diri nya makan. Tidak sampai di situ saja Fania juga bermimpi bahwa lelaki tersebut mempunyai kuku panjang yang menyeramkan yang di gunakan untuk mencabut jantung nya dengan mudah seolah diri nya menyimpan iblis di dalam lelaki tersebut. Setelah merasa cukup tenang diri nya kembali perlahan - lahan membaringkan tubuh nya di atas kasur dengan menarik selimut hingga sebatas leher nya dengan pencahayaan minim yang menemani nya hingga pagi menjelang. "Apa anda tidak tidur nyenyak semalam nona ?" tanya maid yang sedang menyisir rambut nya dengan menatap mata nya dari pantulan cermin. Menghela nafas nya Fania menganggukan kepala nya dengan tersenyum tipis "Ya. Aku bermimpi buruk." Mendengar jawaban Fania membuat maid tersebut hanya menganggukan kepala nya sebelum kembali menyisir rambut sepunggung milik Fania. "Terimakasih"Ucap Fania dengan kembali tersenyum tipis saat maid tersebut telah selesai menyisir rambut nya. Fania menatap pantulan cermin diri nya di depan yang menampilkan sebuah lingkaran melengkung di bawah kantung mata nya yang berwarna kecoklatan, membuat semua orang tauh bahwa diri nya tidak dapat tidur nyenyak semalam. "Nona." Fania membalikan tubuh nya menatap maid tersebut yang sedang menggigit bibir nya gelisah. "Ya ?" "Ibu saya selalu membuatkan saya sebuah teh herbal yang terbuat dari aroma melati setiap kali saya bermimpi buruk dan itu berhasil membuat saya kembali tertidur nyenyak karena aroma nya yang mampu menenangkan saraf." Ucap maid tersebut dengan tangan yang saling bertautan dan mata yang bergerak gelisah. "Saya rasa jika nona tidak masalah saya dapat membuatkan nya untuk nona minum malam nanti." sambung maid tersebut dengan suara yang semakin mengecil. Membuat Fania yang mendengar nya tersenyum mendengar ucapan maid muda tersebut "Aku akan sangat berterimakasih jika kau mau membuatkan nya untukku dan tidak membebani mu ? Apa tidak masalah ?" Terlihat binaran bahagia saat Fania menyetujui nya dan dengan bersemangat menganggukan kepala nya bersemangat. Selang beberapa menit maid tersebut keluar kembali bunyi derit pintu terdengar terbuka membuat Fania kembali menoleh. Dan orang yang tidak ingin di temui nya masuk ke dalam kamar dengan langkah tegas. "Aku baru melihat seorang maid keluar dari kamarmu ini dengan wajah berbinar bahagia. Apa yang kau lakukan pada nya ?" "Bukan urusanmu." Mengangguk acuh Breanch berjalan duduk di salah satu sofa dengan menyilangkan kedua kaki nya dengan nyaman "Aku hanya ingin memberi tauhmu bahwa kau tidak harus sangat mempercayai seseorang." "Aku akan mengurus nya sendiri, dengan siapa yang harus ku percaya dan dengan siapa yang harus tidak ku percaya." Ucap Fania melirik Breanch di akhir kalimat. Mengabaikan tatapan Fania, Breanch mengambil sebatang rokok lalu menghidupkan nya dan menghisap nya dalam - dalam membuat Fania menutup hidung nya dari asap dan mengambil posisi jauh. Beberapa menit terjadi keheningan. Fania dengan pikiran nya sendiri dan Breanch yang sedang menimbang - nimbang dengan apa yang akan di katakan nya. Suara deheman membuat kesadaran Fania kembali dari pemikiran nya yang sudah melayang jauh. "Tentang pekan lalu" Kalimat itu mampu membuat ingatan Fania kembali tertarik kepada kejadian di mana seorang perempuan yang berniat di tolong nya semakin celaka karena nya. "Aku tidak bermaksud merendahkan mu." Fania mengamati wajah yang kini terlihat datar dan bibir yang tidak berhenti menghisap sebatang rokok dari mulut nya. "Kau bukan hanya merendahkan ku. Kau merendahkan semua perempuan." "Ya. Kita anggap saja begitu." Breanch kembali menghisap puntung rokok tersebut sebelum membuang nya ke bawah lantai dan menginjak nya. "Tapi, aku tidak bermain - main dengan perkataan ku bahwa seluruh keluarga perempuan mu yang akan berada di sana jika kau kembali berani berulah." Fania diam membisu mendengar nya. Tidak dapat membalas ucapan dari lelaki di depan nya. "Malam ini aku akan mengajakmu untuk makan malam di luar." Breanch berdiri dari duduk nya lalu berjalan mendekati Fania yang membuang pandangan nya, enggan memandang diri nya. Dengan lembuat Breanch menarik dagu Fania menghadap nya, menatap diri nya "Jadi, berdandanlah yang cantik." Ucapan itu di tutup dengan sebuah ciuman lembut di bibir Fania. Kaget dengan tindakan yang di lakukan lelaki di depan nya, Fania dengan spontan mendorong d**a bidang di depan nya sebelum kedua tangan nya tertahan oleh tangan Breanch. Semakin Fania memberontak semakin ganas lelaki di depan nya mencium bibir nya. Saat Breanch mencoba membuka bibir Fania tanpa berpikir dua kali Fania menyambut nya sebelum menggigit bibir atas lelaki tersebut dengan kasar. Membuat Breanch sedikit mendorong Fania dengan kasar dan melepas pangutan bibir nya. Dengan kasar juga bermaksud merendahkan Fania melap sudut - sudut bibir nya yang meninggalkan jejeak ciuman panas mereka. "Kau sedikit liar." Kalimat singkat itu mampu membuat Fania melayangkan tatapan jijik nya kepada Breanch. "Brengsek." Tertawa Breanch menggelengkan kepala nya dengan tangan yang sudah masuk ke dalam saku celana nya. "Itu bukan kata yang pantas untuk pria yang kau nikmati ciuman nya." Ucap Breanch lalu berlalu pergi keluar dari kamar milik Fania. Meninggalkan Fania dengan wajah yang memerah padam dan kedua tangan yang mengepal. Sial. Dia mengetahuinya. Sebuah ketukan di pintu kamar di susul dengan bunyi derit pintu terbuka membuat Fania yamg baru saja menyelesaikan bacaan nya mendongak dan langsung mengkerutkan kening nya saat seorang pria dengan pakaian yang gemulai masuk ke dalam kamar dengan 3 orang maid yang juga mengekor di belakang nya membawa berbagai macam benda di tangan nya. Membaca kerutan di dahi Fania membuat pria di depan nya tersenyum dan dengan gemulai menunduk hormat "Maaf mengganggu nona. Saya bernama Sintha. Yang bertugas untuk mendandani anda malam ini." Nyaris saja Fania menjatuhkan buku yang di pegang nya saat mendengar pria di depan nya memperkenalkan diri sebagai Sintha dengan suara yang di buat - buat gemulai. "Oh, Benarkah ? Kalau begitu salam kenal" Pria di depan nya mendongak kan kepala nya saat mendengar Fania membuka suara nya "Sintha." Fania menatap diri nya di pantulan cermin saat Sintha atau lebih tepat nya pria yang terlihat manis itu sudah memperbolehkan nya membuka kedua mata nya. Sedikit tidak percaya dengan apa yang di lihat nya membuat Fania mengangkat salah satu tangan nya dan menyentuh cermin di depan nya "Itu aku ?" "Tentu saja itu kau, Kau pikir itu aku ? Aku merasa baru saja mendandani sebuah boneka porselen." Mata Fania bertabrakan dengan mata cokelat Sintha yang sedang sibuk menata rambut hitam legam nya. "Terimakasih." Ucap Fania dengan tersenyum tersipu malu mendengar pujian tersebut meskipun bukan dari benar - benar seorang pria. "Kau tauh, aku sangat bersemangat saat mengetahui bahwa aku di beri kesempatan untuk mendandani wanita nya Breanch." Tanpa disadari oleh Sintha sebuah kerutan muncul di dahi milik Fania yang masih diam mendengarkan nya bercerita . Wanita nya ? "Seharus nya dari jauh - jauh hari dia memanggil ku untuk mendandanimu. Tapi, kurasa tidak ada beda nya kau tetap terlihat cantik bahkan tanpa polesan." Sintha mengatur kedua sisi rambut Fania yang kini terlihat lebih lebat dan berhelombang menjadi dua sisi lalu kembali memberi nya haispray untuk mempertahan kan bentuk nya. "Selesai." Fania kembali memberikan senyuman dan sebuah ucapan Terimahkasih saat Sintha menatap pantulan diri nya melalui cermin dan berdecak kagum. "Aku rasa kau perempuan yang beruntung. Aku bahkan tidak percaya bahwa aku dapat memasuki mansion milik nya tapi kau, kau bahkan tinggal bersama nya." Sintha kembali berdiri tegak dari bungkuk nya sebelum berjalan ke arah kasur dan mulai memilih - milih gaun dan high heels yang cocok di pakai oleh Fania. Dan kembali berdecak kagum setelah merasa telah menemukan pasangan yang cocok. "Bagaimana dengan ini ? Ini terlihat sangat indah dan berkelas. Aku sangat menyukai nya.Cobalah" Ucap Sintha sambil mengangkat dress berwarna biru gelap dengan sepasang high heels yang senada.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN