22~A Mafia Obsession

841 Kata
Breanch tidak berniat mengalihkan tatapan nya dari Fania yang kini benar - benar berhasil menyihir nya malam ini, bahkan saat Fania menangkap basah diri nya tengah menatap seluruh lekukan tubuh milik nya. Merasa perempuan yang duduk bersama nya di belakang kini semakin pekat mengeluarkan aura permusuhan membuat Breanch mengalihkan sebentar tatapan nya ke luar jendela. Membuat Fania yang melihat Breanch telah berhenti menatap seluruh lekukan tubuh nya kembali membuang arah pandang nya keluar jendela. "Kau tidak senang keluar setelah seminggu ini terkurung dalam kamar ?" "Tidak." Dan jawaban singkat namun jelas itu mampu membuat Breanch bergumam jengkel. "Benar - benar sulit membuatmu senang." Dengan satu kali putaran Fania kini berbalik menghadap Breanch yang masih menatap keluar jalanan. "Kalau kau mau membuat aku senang sebaik nya lepaskan aku." "Kau tauh aku tidak akan melepaskanmu." suara itu kembali terdengar dingin dan menajam. "Kenapa ?" "Kau tahu kenapa!. Jadi, berhenti menanyakan nya !" Ucap Breanch dengan jengkel lalu berbalik menatap Fania yang kini juga menatap nya. "Aku tidak tahu jadi beri aku penjelasan !" tegas Fania dengan satu oktaf nada yang naik. "Jangan naikan suaramu." geram Breanch yang membuat Fania berbalik mengabaikan nya. Melihat Fania yang mengabaikan nya membuat Breanch mencengkram dagu Fania dengan jemarinya, lembut tetapi mengancam. "Saat aku dengan baik hati berbicara denganmu jangan sekali - kali naikkan nada bicaramu." Cengkraman yang di rasakan Fania kini berubah menjadi helusan halus seringan bulu di pipi nya "Dan saat aku sedang berbicara denganmu jangan coba - coba mengabaikan ku." Helusan itu berhenti saat mobil yang di kendarai mereka berhenti di ikuti dengan pintu di samping Breanch yang di terbuka. "Jangan mempermalukan dirimu sendiri." bisikan halus bernada tajam itu membuat Fania melontarkan arah pandang nya ke seluruh restoran yang di dalam nya terdapat banyak pasang mata tengah menatap pemberontakan yang di lakukan nya saat berusaha melepas gandengan Breanch. Tanpa bisa di tahan Fania bersemu merah saat hampir seluruh pasang mata menatap nya dan hanya menunduk saat Breanch menarik nya berjalan ke arah salah satu meja yang  telah di reservasi. Dan lebih mudah bagi Breanch untuk mendudukan Fania di kursi setelah menggeser kan nya. "Seharus nya kau berprilaku seperti ini. Itu akan lebih mudah." Gumam Breanch lalu berjalan ke arah kursi nya tepat di depan Fania. Breanch menyodorkan buku menu ke arah Fania berniat menyuruh Fania untuk memesan sendiri makanan nya tetapi, saat melihat Fania membuang arah pandang nya dengan berdecak jengkel Breanch sendiri yang memesan makanan untuk mereka berdua. Setelah mencatat semua pesanan yang di berikan nya, waitres tersebut pergi kembali meninggalkan Breanch dan Fania yang hanya diam. Tidak ada yang mencoba membuka percakapan di antara mereka berdua. Beberapa menit berlalu dan Fania mulai mengkerutkan kening nya saat melihat Breanch terus menerus melihat ke arah sekeliling restoran dan terkadang menatap ke arah Erthan dan pengawal lain nya yang berdiri tidak jauh dari mereka. "Ada apa denganmu ?" tanpa sadar pertanyaan itu terlontar keluar dari mulut Fania bersamaan dengan waitres yang datang membawa hidangan pembuka. Saat Breanch menatap nya dengan alis yang naik sebelah seolah menanyakan perilaku Fania yang tiba - tiba memperhatikan nya, membuat Fania dengan cepat menatap ke arah hidangan yang terlihat cantik tersebut. Terpesona dengan hidangan yang di sajikan oleh restoran tersebut membuat Fania mengkulum kedua bibir nya tergoda. Dan tidak di tahan nya salah satu tangan nyapun mulai merayap menyentuh garpu dan mulai memotong sedikit makanan berbentuk bulat kecil itu. Saat satu suapan kecil itu telah masuk ke dalam mulut nya dan membuat Fania kembali menyita perhatian Breanch saat dirinya mendesah merasakan makanan kecil itu melumer ke dalam mulut nya menciptakan rasa yang luar bisa. Tatapan Breanch melembut saat menatap ke arah Fania "Kau menyukai nya ?" "Lumayan. Ini enak." Dan jawaban yang di dapatkan Breanch berbeda dengan yang di lihat nya melalui gerak gerik gadis di depan nya. Breanch tauh perempuan di depan nya ini menyukai hidangan pembuka yang di pesankan nya sama dengan diri nya. Tetapi diri nya hanya terlalu gengsi untuk mengatakan 'Ya'. Tatapan Breanch teralih saat mata nya menatap Erthan di ujung restoran tengah menatap nya seolah memberikan kode yang sudah di tunggu - tunggu nya. "Aku akan kembali. Nikmati makananmu, hidangan utama nya akan segera datang." Ucap Breanch lalu dengan cepat beranjak dari duduk nya meninggalkan Fania yang menatap nya dengan bingung. "Kau tidak akan meninggalkan ku karena tidak ingin membayar makanan ini bukan ?" Ucapan Fania mampu membuat Breanch berbalik ke arah nya dan berjalan mendekat. Dengan pelan Breanch menunduk dan menyampirkan jas yang di pakai nya di kedua bahu Fania "Tidak. Aku akan kembali, jadi nikmati makananmu." Fania tidak berkedip saat dari jarak dekat diri nya melihat kedua bola mata amber itu menatap nya dengan lembut dan sesuatu yang tidak di mengerti nya memancar dari dalam kedua bola mata amber itu "Akan ada dua orang pengawal yang menjagamu di sini. Jangan kemana - mana dan tunggu aku kembali." Bahkan setelah Breanch mulai berjalan menjauh dari meja, diri nya tidak dapat melepaskan tatapan nya dari sosok pria yang membuat jantung nya berdebar dengan kencang sebelum dengan cepat Fania kembali menormalkan detak jantung nya. Shit. Dia tampan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN