Fania mulai bergerak gelisah di tempat duduk nya saat untuk ke sekian kali nya waitres datang menghampiri nya dan bertanya apa yang ingin di pesan nya lagi. Hidangan utama juga hidangan penutup telah di sajikan dan Fania juga telah menghabiskan nya.
Otak Fania berteriak untuk mencari jalan keluar dari restoran ini tetapi, melihat dua orang pengawal yang terus mengawasi nya membuat Fania membatalkan nya saat ke dua pasang mata itu tidak berhenti menatap nya bahkan sedikit pun gerak - gerik nya tidak luput dari penglihatan mereka berdua.
Fania mulai bosan dan merasa harus ke toilet untuk membuang air kecil setelah beberapa menit berlalu. Saat Fania mulai berdiri dari kursi yang di duduki nya dengan gerakan cepat ke dua pengawal yang di tugaskan Breanch berjalan mendekat ke arah nya, membuat Fania menghembuskan nafas nya sebelum mengangkat sebelah tangan nya menunjuk ke arah tulisan toilet di ujung lorong restoran, membuat pengawal tersebut mengangguk mengerti dan kembali mundur beberapa jarak.
Dengan pelan Fania berjalan ke ujung lorong dan mulai menghilang dari penglihatan kedua pengawal tersebut.
Breanch dengan sigap kembali berlindung di balik tembok setelah berhasil menembakan satu peluru nya tepat ke arah kepala salah satu pengawal dan meninggalkan 3 orang lain nya.
"Berikan aku peluru." Ucap Breanch dengan satu tangan mengadah ke arah Erthan yang juga sedang berdiri di samping nya.
Dengan sigap Erthan memasukan tangan nya kedalam jas nya mengambil enam butir peluru sebelum memberikan nya ke arah Breanch.
Tanpa membuang - membuang waktu Breanch memasukan peluru tersebut dengan gesit lalu menarik pelocok s*****a sehingga peluru masuk ke ruang peluru dan siap di tembakkan.
"Kita harus mengakhiri ini." Ucap Breanch lalu menarik lengan jas nya untuk melihat jam yang kini menunjukan 09.45 p.m
"Saya akan mengurus 3 penjaga di depan ini. Jadi, anda bisa naik ke atas."
Ucapan Erthan tertutup bersaamaan dengan Breanch yang mulai berjalan ke arah ujung lorong gelap tersebut.
Fania yang sedang membasuh tangan nya di wastafel mengkerutkan kening nya saat suara letusan keras terdengar. Mengakhiri sesi membasuh tangan nya dengan cepat Fania menarik dua lembar tissue lalu melap tangan nya sebelum membuang nya ke tempat sampah.
Dengan langkah pelan juga penuh penasaran Fania terus berjalan dan suara teriakan membuat Fania berhenti. Tepat di depan nya tiga orang pria sedang menodongkan s*****a nya ke seluruh pengunjung restoran membuat mereka berjongkok melindungi diri.
"HEI ! KAU DISANA ! ANGKAT TANGAN MU !" teriakan itu membuat arah pandang Fania beralih menatap seorang pria yang kini menodongkan s*****a nya ke arah diri nya.
Fania yang ketakutan secara refleks mengangkat tangan nya dengan gemetar. "MENUNDUK!" lagi teriakan itu membuat Fania terduduk dengan ketakutan.
Saat pria tersebut telah memastikan Fania telah berjongkok mengikuti perintah nya dengan perlahan - lahan diri nya kembali menatap seluruh isi restoran.
Dengan tubuh yang gemetar ketakutan, Fania mengangkat sedikit kepala nya mencoba mencari - cari keberadaan dua pengawal yang di tugaskan oleh Breanch untuk melindungi nya.
Dan s**l nya, kedua pengawal tersebut tidak menampakkan keberadaan nya di dalam ruangan.
"KAU DISANA, APA YANG KAU LIHAT !"
Dan kali ini bukan hanya tubuh Fania yang bergemetar hebat tetapi nafas nya juga yang kini mulai tersendat - sendat ketakutan, saat langkah kaki pria tersebut membawa nya berjalan ke arah nya dengan pistol di tangan nya.
Breanch yang sedang berdiri di belakang tembok mulai mengangkat pistol nya saat langkah kaki bergema mulai mendekat ke arah nya.
Dan saat dirasa nya langkah kaki yang berjalan mendekat ke arah nya kini semakin nyaring terdengar, dengan cepat Breanch bergerak ke depan dan mulai menembak satu persatu di saat ketiga pria berpakaian hitam itu sedang tidak mengangkat s*****a nya.
Satu tembakan pertama berhasil Breanch tembakan tepat ke arah d**a pria yang berdiri paling dekat dengan tembok, sebelum dengan cepat Breanch kembali menembakan peluru nya ke arah dua penjaga tepat ke arah kepala.
Melihat tiga orang penjaga yang menjaga di lorong depan telah di tumbangkan nya, dengan setengah berlari Breanch kembali menyusuri lorong di depan nya.
Dari jauh diri nya dapat melihat dua orang pengawal yang tengah memegang s*****a laras panjang sedang berjalan mondar - mandir, bersiaga jika ada yang datang menyerang.
Sial. s*****a nya berbeda.
Sebelum kedua pengawal tersebut melihat nya dengan cepat Breanch kembali bersembunyi.
Getaran ponsel di kantung celana nya membuat nya mengumpat. Bukan waktu yang tepat untuk menerima panggilan dalam keadaan seperti ini.
Dan Panggilan tersebut dari Erthan membuat Breanch mengangkat sebelah alis nya. Baru saja diri nya akan mengangkat panggilan tersebut suara seseorang kembali terdengar membuat Breanch dengan cepat kembali menyimpan ponsel nya.
Dengan tenang Breanch melengokan kepala nya dan tepat. Seseorang yang di tunggu - tunggu nya sedang berdiri di depan sana dengan pistol dan dua orang pengawal yang masih berjaga.
Memutar akal nya. Breanch kembali menembakkan peluru nya ke samping secara acak, mencoba memancing kedua pengawal tersebut ke arah nya. Dan berhasil.
Breanch mulai bersiap - siap untuk kembali menembakkan peluru nya tepat saat salah satu kaki mulai berbelok menuju nya.
DOR...
Dan suara tembakan tersebut terdengar hingga kedua kali nya.
Fania tersentak kaget saat lengan nya di tarik dengan kasar membuat diri nya berdiri dari posisi jongkok nya.
Senjata yang di pegang oleh pria tersebut kini di todongkan nya tepat ke arah kepala Fania. Hinggal mulut dari pistol tersebut melekat di pelipis nya.
"Apa ada seseorang yang masih belum tertahan di dalam ruangan ini ?" tanya pria tersebut dengan tatapan memicing.
Dengan takut Fania menggelengkan kepala nya "Ti-Tidak. Ak-Aku hanya mencari teman ku."
Rasa takut kini kembali merambati nya dua kali lipat lebih banyak saat pria di depan nya dengan kasarmenekan pistol tersebut. Mengancam nya.
"Kau yakin ?" Dan Fania menganggukan kepala nya sebagai jawaban.
Saat pria tersebut mulai menjauhkan s*****a nya dari kepala Fania, dengan perlahan - lahan diri nya menarik nafas nya. Mencoba kembali menenangkan diri.
Breanch, di mana kau ? Tolong aku !