Meletakkan satu lututnya di lantai, di samping Aliza, Ethan membuka borgol yang melingkar di pergelangan tangan wanita itu. Melihat adanya luka kemerahan yang disebabkan dari borgol, entah mengapa hati Ethan merasa tercubit. Ia tahu wanita itu bukan Sania, tetapi Aliza. Bahkan saat pertama tatapannya bertemu tadi, ia tahu wanita itu adalah Aliza. Itu sebabnya ia meminta kedua security untuk tidak menyakitinya. “Aliza?” Ethan mengangkat bahu Aliza agar wanita itu tak bersimpuh di lantai. Aliza mengusap wajahnya yang basah, lalu menatap Ethan penuh kebencian. “Bukan! Saya Sania, perempuan yang kamu cari. Sekarang apa? Mau bunuh saya? Silakan, bunuh saya sekarang juga!” teriaknya kesal. Namun, Ethan tetaplah Ethan, ia tetap tenang. Wajahnya yang persis patung museum, tak memiliki ekpresi

