Saat memasuki rumah Mahardika, Aliza melihat Abinaya sudah pulang. Padahal, hari masih siang dan biasanya ayahnya itu akan pulang saat sore hari. Tidak merasa ada yang aneh, Aliza segera menghampiri ayahnya yang sedang duduk di ruang keluarga. “Assalamu'alaikum,” sapa Aliza sambil mengulurkan tangannya, mengisyaratkan ayahnya agar memberikan tangannya untuk ia cium. Bukannya membalas salam apalagi mengulurkan tangannya, Abinaya tetap diam, tak bergerak sedikit pun selain mulutnya yang berkata, “Kemasi barang-barang kamu.” “Maksud Papa?” Aliza bingung, kembali menegakkan tubuhnya. “Papa udah tahu.” Abinaya mengangguk lemah tanpa berniat untuk menatap putrinya. Wajahnya terlihat seperti biasanya, wajah lelah. Namun, tidak terdapat amarah ataupun kekecewaan di wajahnya. Apa pun itu, uc

