"Sayang, mana es-nya?" Tepukan di bahu membuatku mengusap kelopak mata agar cairan yang tergenang di sana tak jatuh. Aku tak mau Mas Dayat curiga padaku.
Aku berbalik dan mengulas senyum, meski s@kit dan rasa muak padu di dalam d**a aku harus menahan diri. Aku tak ingin Mas Dayat menaruh syak wasangka yang membuatnya berhati-hati. Mulai hari ini aku harus bisa berpura-pura menjadi istri penurut agar dia merasa bisa membodo-hiku.
"Rame, Mas, aku malas antri." Tatapanku jauh ke belakang pundak Mas Dayat. Fina, pelakor itu berdiri di belakang lelaki itu. "Dia ngapain ngekorin kamu terus? Abis ngerayu kamu, ya? Atau kalian lagi merencanakan sesuatu?"
"Sayang!" Mas Dayat berdeham, dia melirik Fina. Aku bisa melihat dia memberi isyarat agar wanita itu pergi. "Kamu kenapa suka nuduh aku yang tidak-tidak? Selama ini apa pernah aku aneh-aneh di belakang kamu?"
Aku berdecih melihat lihainya Mas Dayat bersilat lidah. Entah berapa lama dia mencurangiku, yang pasti bukan sebulan-dua bulan ini.
"Memang tidak pernah. Aku harap kamu tetap seperti itu, karena aku tidak akan pernah mentolerir perselingkuhan." Aku sengaja menekan kata perselingkuhan. Aku yakin Mas Dayat menangkap ultimatum tadi. "Ya udah, aku pulang dulu. Di mana Gio?"
"Tadi aku suruh Eko ambilan camilan untuk Gio. Mungkin di sana." Mas Dayat menunjuk ke bagian rak khusus camilan. Bagus sekali, dia sengaja menjauhkan Gio agar bebas bicara dengan pelakor mura-han tadi.
"Ck, aku nitip ke kamu malah dikasih ke orang. Aku pulang dulu." Tanpa menunggu jawaban Mas Dayat, aku berjalan ke arah yang ditunjuk Mas Dayat tadi. Kebetulan, ada yang harus kubicarakan dengan Eko.
Pucuk dicinta ulam pun tiba, aku gegas mendekati Eko yang sedang memilih camilan untuk Gio di rak.
"Eko, aku mau bicara sama kamu!" Aku memegang lengan pemuda itu. "Kamu jangan menghindar lagi."
"Eh, Mbak, aku ...."
"Udah, kamu jangan alasan apa-apa. Aku tahu kamu butuh uang untuk bayar uang semesteran adikmu. Kamu bantu aku, aku janji bayar uang kuliah adikmu dua semester." Aku pura-pura membantu Eko memasukkan camilan Gio ke kantong kresek dan merendahkan nada suara agar Mas Dayat tidak curiga.
"Mbak serius?"
Aku mengangguk. Tentu saja Eko tak akan menolak tawaranku, uang semester jumlahnya tidak sedikit, aku tak keberatan merogoh kocekku dalam-dalam asal bisa mendapatkan bukti kecurangan Mas Dayat.
"Caranya Mbak?"
Aku melihat ke arah Mas Dayat, beruntung lelaki itu sedang bicara dengan seorang pelanggan hingga dia tak memperhatikanku dan Eko.
"Kamu cari dan serahkan laporan keuangan toko ini satu tahun terakhir padaku. Selain itu, kamu awasi gerak-gerik Mas Dayat dan pelakor itu."
Kelopak mata Eko membulat. "Jadi Mbak udah tahu kalau ...."
"Aku baru tahu tadi," selaku. Aku tak ingin berlama-lama bicara dengan Eko agar Mas Dayat tidak curiga. "Kamu ambil bukti sebanyak-banyaknya, entah foto atau video lalu kirim ke w******p-ku."
Setelah melihat anggukan Eko, aku membimbing Gio keluar toko. Aku masih sempat melihat Fina duduk di meja kasir. Cara dia melayani pembeli sudah seperti bos saja. Lihat saja nanti, akan kuberi pelajaran yang tak akan bisa dia lupakan.
"Sayang, kalau pulang hati-hati, ya. Nanti pulang tolong mampir ke rumah Ibu. Dia kangen martabak manis katanya."
Aku menghela napas pelan. Mas Dayat mengejarku ke parkiran hanya untuk menyuruhku membelikan pesanan Ibunya. "Mana uangnya?" Aku menadahkan tangan, mulai sekarang apa pun yang dia suruh beli harus dari uangnya.
"Pakai uangmu dulu, cuma dua puluh ribu."
"Aku tidak punya uang. Kamu lupa ngasih aku cuma lima ratus ribu? Semingggu juga sudah habis. Pokoknya kamu harus tambah uang belanja. Toh, toko ramai, tidak sepi seperti yang kamu bilang."
Aku tersenyum dalam hati melihat Mas Dayat mengeluarkan lembaran merah seratusan enam lembar. Aku mengambil semuanya, tak peduli protesnya. Aku yakin dia berbohong soal pendapatan toko. Entah ke mana semua uang penjualan dia berikan. Aku menstarter sepeda motor meninggalkan Mas Dayat yang cemberut. Masa bod0h, siapa suruh sok-sok bohong bilang toko sepi, sekali aku inspeksi ketahuan.
Aku mampir ke tukang martabak langgananku untuk membeli dua martabak manis. Kebetulan aku punya alasan ke rumah Ibu mertua, sekalian menuntaskan rasa penasaran apa yang kulihat di kamar Mas Dayat beberapa hari yang lalu. Sesampai di depan rumah Mas Dayat, dahiku berkerut melihat sepeda motor masih baru terparkir di pekarangan. Apakah Ibu mertua sedang menerima tamu? Aku menurunkan Gio dari boncengan lalu menenteng satu kotak martabak, sedangkan sisanya kutinggal di keranjang untukku makan dengan Gio nanti di rumah.
"Ibu tahu, teman-temanku memuji sepeda motorku. Aku senang sekali, syukur Dayat cepat membelikan sepeda motor itu, kalau tidak bisa malu aku sama teman-teman di reunian tadi."
Aku yang hendak masuk ke dalam rumah mengurungkan niat ketika mendengar suara Mbak Anis. Sekarang terjawab tulisan di kuitansi yang kutemukan tadi pagi, pasti untuk membeli sepeda motor untuk Mbak Anis. Keterlaluan kamu, Mas! Menyunat uang belanja dan memakai pendapatan toko untuk kepentingan Kakakmu yang tidak tahu diri itu.
"Iya, Ibu juga senang, tapi jangan sampai di Halimah tahu, bahaya."
"Bahaya apa sih, Buk. Dia cuma parasit, kerjanya cuma nampung ke Dayat."
Dar-ahku mendidih mendengar percakapan Ibu dan anak itu. Keduanya benar-benar tidak tahu diri. Baiklah, kubiarkan kalian berdua memperlakukanku seperti ini sampai waktunya nanti. Aku berdeham keras untuk memberitahu keberadaanku.
"Ibu, aku bawa pesananmu." Aku masuk setelah mengucap salam lalu meletakkan kantong kresek berisi martabak manis yang kubeli tadi.
"Eh, Halimah, sejak kapan kamu datang?" Ibu Mas Dayat tampak salah tingkah, berbeda dengan Mbak Anis yang acuh tak acuh. Benar-benar keturuan Dajj-al! Sudahlah memakai uang dari toko, sombongnya nauzubillah.
"Baru aja, Buk. Aku sekalian ambil pakaian kotor Gio kemarin. Aku lupa, takutnya nanti jamuran."
Tanpa menunggu jawaban Ibu Mas Dayat, aku nyelonong masuk ke kamar lelaki itu. Dengan cepat kubuka laci meja lalu mengambil map yang kulihat kemarin. Jantungku berdegup kencang melihat map tersebut. Bagaimana tidak, isinya adalah sertifikat rumah dan toko. Rupanya Mas Dayat tidak main-main mengambil alih warisan mendiang Ayah.
"Halimah, ngapain kamu? Bantuin cuci piring sana, tidak ada lagi piring bersih."
Aku menghela napaa panjang mendengar suara Ibu Mas Dayat. Bagian mana yang tidak dimengerti dari kata, aku tak mau mengerjakan apa pun di rumah ini. Setelah memasukkan map tadi ke dalam tas, aku keluar kamar.
"Heh, mau ke mana kamu?" Ibu Mas Dayat berseru melihat aku membimbing Gio keluar.
"Pulang, Bu, ke mana lagi?"
"Kamu tidak dengar aku nyuruh cuci piring?"
Langkahku seketika mati. Aku menatap Ibu Mas Dayat dan Mbak Anis bergantian. "Maaf, aku tidak pernah makan di sini, jadi bukan tugasku membersihkan. Kalau Ibu mau rumah bersih, piring bersih, dan semua rapi, suruh Mbak Anis. Jangan bisanya suruh ini-itu, dia bukan Ratu!"
Aku segera menaikan Gio ke jok lalu menstarter sepeda motorku. Omelan Ibu Mertua dan Mbak Anis kuanggap angin lalu. Terserah disebut menantu durhaka, toh aku tak pernah dianggap. Jadi, untuk apa menghormati mereka.