"Harusnya aku yang bertanya, siapa wanita ini?"
Raut Mas Dayat seketika memucat, dia melirik wanita yang menatapku dengan alis berkerut.
"Mas, dia ...."
"Eh, sayang, kok, gak bilang mau ke toko?" Mas Dayat menyela perkataan wanita tadi, dia menghampiriku sambil mengulas senyum. Aku sedikit risih ketika dia merangkul pundakku. Entah mengapa aku merasa dia menyembunyikan sesuatu. Apalagi dari sudut mata aku bisa melihat wanita tadi cemberut melihat sikap Mas Dayat.
"Kenapa harus bilang-bilang datang ke toko sendiri? Atau ada sesuatu yang aku tidak boleh tahu?" Aku menatap Mas Dayat intens untuk memastikan apakah lelaki itu berbohong atau tidak.
"Tidak ada, memangnya apa yang aku sembunyikan?" Tatapan Mas Dayat beralih ke Gio, "Anak Ayah sudah sehat?"
Aku muak melihat sikap Mas Dayat, lima tahun kami menikah aku hapal gerak-geriknya. Lelaki itu terlihat gugup meski mencoba disamarkan dengan mencolek pipi Gio.
"Mana aku tahu, kalau ma-ling ngaku pasti penjara penuh."
"Dek, kamu kenapa, sih? Kalau cuma mau bertengkar ke sini lebih baik tidak usah datang." Raut Mas Dayat memerah, aku tahu nada suaranya yang keras hanya untuk membuatku merasa tidak enakkan dilihat oleh para pekerja, tapi dia lupa kalau mereka semua adalah pekerjaku.
"Siapa yang mau bertengkar?" Aku mengangkat tas rotan lalu menyorongkan ke da-da Mas Dayat agar dia memegang tas itu. "Nih, aku datang mau nganterin makan siangku, tidak kukira ada perempuan tidak kukenal sikapnya seolah-olah dia pemilik toko ini." Aku melirik wanita yang menghinaku tadi. Lihat, sekarang dia menunduk tidak berani menantang mataku seperti tadi. "Aku mau dia dipecat!"
"Dek!" Mas Dayat menyela perkataanku dengan cepat, serentak dengan si wanita yang menatapku dengan sorot kesal.
"Apa?" Aku tersenyum sinis, "kamu tidak lupa, kan, kalau toko ini milikku? Jadi, aku punya hak untuk menerima atau memecat siapa saja yang tidak aku suka."
Mas dayat terlihat gugup, dia melirik wanita tadi sekilas. "Dek, Fina kerja di sini aku yang terima. Kasian dia harus biayai Ayahnya yang sedang sakit, jangan dipecat, ya."
Oo, jadi nama wanita itu Fina. Kalau tadi dia yang menilaiku dari kaki ke kepala, kini giliranku. Aku mendekat sembari memindai penampilannya. "Pertanyaanku tadi belum kamu jawab, kamu mau kerja apa dengan penampilan seperti ini?"
Fina tampak salah tingkah, dia sibuk menarik gaunnya yang panjangnya satu jengkal di atas lutut. Aku menarik atasannya yang sangat ketat dan di bagian leher memiliki potongan sangat rendah hingga dua buah gunung kembarnya yang membusung seperti hendak jatuh.
"Aku penasaran, apa posisimu di sini? Dengan pakaian seperti ini aku tidak mau tokoku dianggap prost-itusi terselubung. Atau kamu punya niat menggoda suamiku?"
"Dek, astaga! Kamu kenapa, sih?!" Mas Dayat mendekat. Dia mencoba mengalihkan perhatianku agar tidak terus-menerus menginti-midasi Fina.
"Aku cuma bertanya, kenapa kamu panik?"
"Bu, bukan begitu." Mas Dayat mengusap wajahnya dengan kasar, dia sadar toko semakin ramai pembeli hingga pembicaraan kami menarik perhatian. "Kita bicara di dalam saja, yuk. Segan diperhatikan orang-orang."
Aku mendengkus pelan. "Kamu duluan sama Gio, aku mau beli minuman dingin, kepalaku panas!"
Aku berlalu tanpa menunggu tanpa mendengar jawaban Mas Dayat. Sikap Fina tadi masih membekas di benakku, ditambah raut Eko yang mencurigakan. Kenapa pekerja lama seperti dia harus tunduk pada Fina? Memangnya siapa wanita itu?
Aku menghela napas pelan melihat antrian panjang di tempat penjual es favoritku. Aku mengurungkan niat dan kembali ke toko. Mas Dayat dan Gio tidak terlihat, aku terus masuk ke bagian belakang toko tempat yang biasa kami gunakan untuk beristirahat. Tanganku bergerak hendak membuka pintu yang sedikit terbuka, tetapi niat itu urung ketika mendengar percakapan dari dalam.
"Mas, kamu bilang Si Imah itu gak bakalan datang ke toko? Aku kesal dia hina aku tadi."
"Sayang, kamu jangan marah. Tenang, ya, kalau gak nanti dia curiga."
Sayang? Tanganku terkepal kuat mendengar Mas dayat memanggil Fina dengan sebutan, sayang. Instingku tidak salah, Mas Dayat sedang menyimpan bangkai di belakangku.
"Pokoknya aku tidak mau tahu, kamu harus secepatnya menceraikan dia. Kalau tidak, aku gak mau lagi kamu sen-tuh. Enak aja, masak ena-ena terus, tapi gak dikasih status."
"Iya, iya, kamu yang sabar, ya. Tunggu sebentar lagi sampai rumah dan toko ini berhasil aku alihkan atas namaku. Setelah itu urusan Halimah, gampang."
Aliran darahku seakan terhenti mendengar ucapan Mas Dayat. Benarkah dia lelaki yang aku cintai? Aku tidak mengira dia merencanakan siasat licik untuk menyingkirkanku. Aku mengusap air mata yang terlanjur jatuh di pipi dengan kasar lalu menjauh dari pintu. Beruntung aku mendengar percakapan keduanya hingga bisa melihat wajah asli Mas Dayat. Baiklah, kalau keduanya ingin bermain, aku akan ladeni permainan mereka, aku ingin lihat sampai di mana lelaki itu berusaha membo-dohiku