"Nanti pulang jam berapa?" Aku melirik Kahfi yang baru keluar dari kamar mandi sambil menggosok rambut basahnya dengan handuk kecil. "Belum tahu, belakangan ini pasienku membludak. Bukan hanya di rumah sakit, tapi juga di klinik." Aku menghela napas panjang. Enam tahun sudah umur pernikahannya dengan Kahfi, tidak ada yang berubah kecuali lelaki itu semakin sibuk bekerja. "Akhir-akhir ini kamu jarang di rumah, kalau pun pulang selalu tengah malam. Aku ... aku kesepian," lir1hku sembari menunduk. Aku merem4s jilbab agar nyeri yang perlahan merayap di d**a tak sampai memanaskan mata. Terdengar helaan napas dari Kahfi. Meski begitu dia tak berusaha mendekat. Tangannya sigap mengenakan pakaian yang aku siapkan di atas bufet. "Mas, kamu dengar nggak aku ngomong apa?" Lagi, aku bertanya, ka

