"Kami sudah bercerai sejak satu tahun yang lalu ...." "Iyakah?" Aku tak bisa menutupi rasa kaget mengetahui Sarah dan suaminya tidak bersama lagi. Kabar itu semakin membuat jantungku berdegup sangat kencang. "Sayang, sekali .... ehm, maksudku kalian sudah punya anak. Apa nggak bisa dijadikan alasan untuk bertahan?" Ekspresi Arman berubah, rahangnya mengeras seperti ada sesuatu yang membuatnya kesal. Tentu saja aku menjadi salah tingkah. Dasar mulut! Harusnya mendengarkan saja, tak perlu memberi komentar. "Ehm, maaf, saya nggak bermaksud ...." "It's oke. Saya sudah tidak terganggu lagi dengan perceraian itu. Justru merasa lega, sebab tahu cinta sebesar apa pun tak akan membuat orang yang belum selesai dengan masa lalunya balik mencintai kita." "Maksudnya?" Arman menggeleng. Dia terse

