bc

CUEK KARENA MISKIN

book_age16+
0
IKUTI
1K
BACA
blue collar
drama
tragedy
office/work place
like
intro-logo
Uraian

"Cuek Karena Miskin" menceritakan kisah seorang laki-laki muda yang bernama Arman, yang jatuh cinta dengan seorang wanita cantik dan baik hati bernama Sarah. Namun, Arman merasa tertahan untuk mengungkapkan perasaannya karena kurang percaya diri. Arman sangat miskin dan merasa bahwa status ekonominya tidak sebanding dengan Sarah yang berasal dari keluarga yang lebih mapan.Karena takut orang-orang di sekitarnya mengetahui perasaannya dan mengolok-oloknya karena kemiskinannya, Arman memilih untuk bersikap cuek dan tidak peduli di depan Sarah. Padahal, Sarah sebenarnya juga mencintai Arman dan sangat baik padanya. Sarah selalu perhatian dan mendukung Arman, namun Arman mengira bahwa Sarah hanya kasihan padanya karena pekerjaannya yang rendah dan ekonominya yang buruk.Apakah Arman akan mampu mengatasi rasa tidak percaya dirinya dan mengungkapkan perasaannya kepada Sarah? Atau akankah kesalahpahaman dan keraguan membuat mereka terpisah selamanya ? "Cuek Karena Miskin" adalah novel romantis yang menyentuh hati dan menginspirasi tentang kekuatan cinta dan kepercayaan diri.

chap-preview
Pratinjau gratis
Cuek Biar Nggak Terluka
Pagi masih malu-malu ketika Arman berdiri di depan gedung megah tempatnya bekerja. Gedung itu tinggi, dingin, dan terlalu putih untuk ukuran tempat orang-orang berambisi. Buat Arman, bangunan itu seperti kotak es besar yang kadang-kadang menghangat sedikit… kalau ada Sarah . Seragam biru tuanya sedikit longgar, kancing atasnya copot sejak dua minggu lalu dan belum sempat dijahit lagi. Tapi dia tetap menyetrikanya dengan sepenuh hati. Dia mungkin gak bisa beli parfum mahal, tapi dia tahu cara membuat sabun colek wangi, asal diseduh pakai air panas. katanya efeknya mirip-mirip. Arman menarik napas dalam-dalam. Dingin , Kosong , sama kayak dompetnya. “Yah, semoga hari ini gak ada yang tumpah,” bisiknya sendiri sambil menarik troli alat pel. Arman seorang introvert, bukan karena pilihannya, tapi karena hidup membuatnya begitu. Kata-kata terlalu mahal untuk dihamburkan. Tapi kadang, tanpa sadar, dia bisa melontarkan satu dua kalimat kocak yang bikin orang terbahak. Sayangnya, banyak yang gak sadar dia sebenarnya sedang menyembunyikan rasa sakit di balik celetukan itu. “Masih hidup, Man?” celetuk Dani, OB senior, dari arah lift. “Masih. Tapi dompet saya sekarat,” jawab Arman cepat, dengan nada datar namun penuh sarkasme. Dani tertawa. “Gue suka tuh kalau lo lagi mode , ngelawak tipis . Sekali-sekali bikin stand-up, Man.” Arman hanya nyengir. “Berdiri aja susah, apalagi stand-up.” Mereka tertawa kecil. Tapi tawa Arman cepat hilang begitu lift berhenti di lantai lima. Lantai lima, divisi Pemasaran tempat Sarah bekerja. Sarah, perempuan yang sering membuat Arman menghapus kata “tidak mungkin” dari kamusnya… lalu menulisnya lagi, lebih besar, dengan spidol merah. Arman melihat Sarah dari kejauhan. Seperti biasa, rambutnya diikat rapi, senyumnya ramah, dan gayanya sederhana tapi manis. Dia sedang duduk membuka laptop, dengan kopi di tangan gelas putih bertuliskan Sarah L, yang terkenal di seantero lantai lima karena tak pernah pecah meski pernah jatuh tiga kali. “Pagi, Mas Arman!” sapa Sarah ceria. Arman panik sejenak. Tangan refleks mengepel lantai yang sudah bersih sejak kemarin. “Pagi, Mbak.” Suaranya pelan, datar , saking datarnya, bisa dikira notifikasi baterai lemah. “Udah sarapan?” tanya Sarah lagi, dengan senyum tulus yang entah kenapa selalu bikin Arman merasa seperti tokoh utama… yang lagi gagal total. “Belum,” jawab Arman. Mata tetap ke lantai, jari-jarinya mencengkeram gagang pel seperti pejuang menggenggam pedang terakhirnya. “Di pantry ada roti. Saya bawa lebih,” kata Sarah sambil menunjuk ke arah dapur kecil kantor. “Terima kasih, Mbak,” katanya akhirnya, dengan tergesa gesa dan hampir tak terdengar. Sarah hanya tersenyum dan kembali fokus ke laptopnya. Arman pun kembali ke perannya. jadi bayangan , diam , tak terlihat tapi mendengar segalanya. Di belakang, Dani mengendap-endap dan menyikutnya pelan. “Lo itu kenapa sih? Disapa cewek cakep malah pura-pura jadi tiang listrik.” Arman melirik Dani. “Tiang listrik masih berguna. Gue mah kayak… kabel sambungan yang nggak dicolok.” Dani tergelak. “Lo tuh bisa ngomong lucu, tapi giliran sama cewek langsung mati gaya.” Arman menghela napas. “Gue bukannya gak mau ngomong, Dan . Tapi tahu diri aja, dia cakep, pinter, anak orang mampu. Gue? OB. Gaji cuma cukup buat bayar kos, beli nasi, dan… ya udah, itu aja.” “Lo tahu nggak, kadang orang kaya justru capek dideketin karena hartanya. Bisa jadi dia tertarik sama lo karena lo gak pernah cari muka,” kata Dani bijak. “Cuma ya… kalau lo terus cuek gitu, nanti dia pikir lo gak suka.” Arman terdiam. Dia tahu Dani ada benarnya. Tapi rasa rendah diri bukan sekadar masalah logika. Itu luka lama , tertanam sejak kecil. Dan sekarang menjelma jadi benteng yang sulit dihancurkan, meski dari dalam. Sore menjelang. Gedung mulai sepi , Arman sedang mengecek keran toilet wanita . Ketika keluar, dia melihat Sarah masih di mejanya. Dan di hadapannya… ada seorang pria. berjas, rapi , wangi , gestur percaya diri. laki laki itu tertawa dan Sarah ikut tertawa. Lalu, pria itu meletakkan kotak kecil di atas meja. Arman diam, langkahnya tertahan. Kotak kecil itu… bentuknya tak asing , ia tahu betul. Entah kenapa, tangan Arman jadi dingin. Dia cepat-cepat berbalik. Tak ingin tahu kelanjutannya. Tak ingin lihat wajah Sarah saat membuka kotak itu. Takut, karena mungkin di dalam kotak itu bukan hanya cincin, tapi juga kesimpulan dari seluruh hidup Arman. Bahwa dia memang cuma pemeran figuran dalam kisah cinta orang lain. Di kamar kosnya yang cuma berisi kipas rusak, kasur tipis, dan gantungan baju dari kawat, Arman duduk diam sambil menatap langit-langit. Ia menggenggam sendok nasi dengan satu telur ceplok. Lapar, tapi lebih lapar hatinya. Dia membuka ponsel jadulnya. Layar buram, sinyal susah, tapi tetap dia nyalakan, hanya untuk melihat jam digital berkedip dan tulisan “Tidak Ada Pesan Masuk”. “Wajar sih,” gumamnya. “Siapa juga yang mau kirim pesan ke cowok yang kalau ngomong kayak kaset rusak.” Dia tertawa kecil sendiri. Lucu ,, karena ternyata celetukan paling lucunya hari ini adalah untuk dirinya sendiri. Tengah malam, Arman menulis di buku kecil yang biasa dia sembunyikan di bawah bantal. "Hari ini dia masih senyum ke gue. Tapi gue masih takut buat percaya. Cuek bukan karena gak suka. Tapi karena gak mau luka. Cinta, bagi orang kayak gue, kayak roti mahal di etalase , bisa dilihat, tapi gak untuk dimakan." Dan dia menutup buku itu. Matanya bera , tapi mimpinya… entah akan ke mana. Besok dia akan tetap datang , tetap mengepel , tetap menyapa seadanya. Tetap pura-pura gak peduli. Tapi di dalam hatinya, satu hal yang terus berdenyut. Dia mencintai Sarah. Dan dia benci dirinya sendiri… karena terlalu takut untuk jujur.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
52.9K
bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
8.2K
bc

After We Met

read
188.5K
bc

Menyala Istri Sah!

read
2.4K
bc

Godaan Hasrat Keponakan Istri

read
15.5K
bc

Lagi! Jangan Berhenti, Om!

read
14.4K
bc

Unchosen Wife

read
6.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook