Perhatian yang Tak Diakui

743 Kata
Banyak orang bilang Sarah bisa punya siapa saja. Pekerjaannya stabil , wajahnya menarik, kepribadiannya hangat. Dan keluarganya cukup berada untuk membuat hidupnya terasa aman. Tapi, seperti yang sering ia bisikkan dalam hati , hidup bukan cuma soal stabil atau tidak . Tapi soal merasa dihargai atau tidak. Dan anehnya, dari sekian banyak pria yang mencoba mendekatinya, justru Arman , OB pendiam dan nyaris tak pernah tersenyum lebar , yang diam-diam membuat hatinya sulit tenang. Bukan karena Arman pernah melontarkan pujian, atau memberi bunga. Atau mengantar kopi ke mejanya seperti para staf laki-laki lain yang berharap sekilas perhatian darinya. Tapi karena Arman... tidak pernah mencoba apa pun. Cuek, jelas , tapi bukan jenis cuek yang angkuh. Melainkan cuek yang penuh kehati-hatian. Seperti seseorang yang takut menyentuh gelas kaca karena merasa tangannya kotor. Dan Sarah, entah mengapa, justru ingin tahu lebih dalam. Pagi itu, ia kembali menyapanya. “Pagi, Mas Arman!” Arman, seperti biasa, hanya mengangguk. Suaranya pelan, nyaris kabur tertiup suara AC. “Udah sarapan belum?” “Belum.” Jawaban pendek, kaku. Tapi mata itu tidak pernah berbohong. Sarah cukup sensitif membaca bahasa tubuh. Mungkin karena ia dulu pernah disakiti oleh seseorang yang terlalu pandai berkata manis tapi menyimpan niat busuk. Sejak saat itu, ia belajar menilai orang dari hal-hal kecil. Dan Arman? Sarah pernah lihat pria itu diam-diam memperbaiki lampu pojokan yang rusak tanpa diminta. Pernah memergokinya menyisihkan potongan roti yang jatuh agar tak diinjak staf lain. Bahkan pernah melihat Arman memungut kancing baju seseorang yang tak sengaja terjatuh, lalu meletakkannya di atas meja dengan catatan kecil. “Punya siapa, ya? Sayang kalau hilang.” Tangan yang terbiasa memegang pel, tapi hatinya memegang etika lebih kuat dari manajer SDM. Sarah menyukai itu. Tapi setiap kali ia mencoba mendekat, Arman mundur. Diam, kaku , Bahkan kadang nyaris tidak menoleh. Apa aku terlalu agresif? pikir Sarah. Atau dia memang tidak suka? Atau… jangan-jangan, dia mengira aku merendahkannya? Saat itu, sore hari, seorang teman kantor memperkenalkannya pada Aditya , seorang konsultan muda dari cabang luar kota yang sedang mengurus proyek. Rapi, sopan , ramah Dan jelas-jelas tertarik padanya. Mereka mengobrol cukup lama. Sarah menahan senyum. Ia sadar ada sosok yang melintas di belakang mereka, Arman. Langkahnya cepat, seolah ingin menghindar. Tapi ada sesuatu di punggung pria itu. Tegang, Patah , Sarah mengenali bahasa tubuh itu. Sama seperti dirinya dulu saat melihat orang yang ia sukai tertawa dengan orang lain. Dan saat itulah, ia mulai benar-benar yakin. Arman menyukainya. Tapi terlalu takut untuk mengakuinya. Keesokan paginya, Sarah membawa dua bungkus nasi uduk dari warung dekat rumahnya. Isinya sederhana , telur balado, sambal kacang, dan tempe goreng. Tapi aromanya nikmat, dia tahu Arman sering belum sarapan pagi-pagi. Dia menunggu Arman di pantry. Ketika pria itu masuk, Sarah menyapanya sambil tersenyum. “Mas Arman, saya bawain nasi uduk. Beneran enak , Mau kan?” Arman sempat terlihat panik. Matanya ke kanan-kiri seperti cari jalan keluar. “Wah… makasih, Mbak. Tapi saya udah makan tadi,” katanya pelan. Sarah tidak percaya , tapi dia juga tidak ingin memaksa. “Gak apa-apa. Kalau nanti lapar lagi, ambil aja ya. Saya taruh di kulkas pantry. Jangan sungkan.” Arman mengangguk, lalu seperti biasa, menghilang. Sarah duduk sebentar , lalu tersenyum pahit. Dia tahu Arman menolak bukan karena tak suka. Tapi karena merasa tidak pantas. Dan itu… menyakitkan juga. Siangnya, Sarah duduk di meja kerja, mencoba fokus pada laporan yang menumpuk. Tapi pikirannya kembali ke Arman. Ia membayangkan bagaimana hidup pria itu di luar kantor. Apakah kosannya nyaman? Apakah ia makan dengan cukup? Apakah dia punya teman dekat? Keluarga? Lalu entah kenapa, air matanya mengalir sedikit. “Kenapa sih aku malah begini?” Ia menghapus air matanya cepat-cepat. “Sarah,” bisiknya pada diri sendiri, “kamu jatuh cinta sama cowok yang bahkan gak berani lihat matamu.” Tapi itu bukan masalah buatnya. Yang jadi masalah adalah. bagaimana membuat Arman percaya bahwa dia pantas dicintai? Sarah tak butuh kemewahan. Dia sudah sering dikelilingi pria-pria kaya dan pintar bicara. Tapi mereka semua kosong. Dan Arman… meskipun diam, ada sesuatu dalam dirinya yang terasa penuh , Dalam dan tulus. Hanya saja, terkunci rapat oleh kemiskinan dan trauma harga diri. Malamnya, Sarah menulis di buku jurnal kecilnya. “Hari ini aku yakin satu hal , dia takut mencintaiku karena merasa tidak pantas. Padahal, yang aku butuhkan bukan dompetnya, tapi hatinya. Tapi mungkin, bahkan itu pun dia sembunyikan dari dirinya sendiri.” “Tuhan… bisakah Engkau bantu aku mengetuk hatinya yang tertutup rapat itu?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN