Biar Gak Dilihat, Biar Gak Diinjak

751 Kata
Arman tak suka bicara banyak, bukan karena ia tak punya cerita. Justru karena ceritanya terlalu panjang untuk didengar orang yang cuma peduli pada permukaan. Maka sejak kecil, ia belajar menyingkat semua rasa menjadi satu kalimat sederhana, "Gak apa-apa". Padahal… banyak yang sebenarnya “apa-apa”. Ia tumbuh di pinggir kota, di rumah kecil berdinding triplek dengan atap seng yang bernyanyi tiap kali hujan turun. Ibunya menghidupi mereka berdua dengan membuka warung kecil. Ayahnya? Hilang sejak Arman usia lima tahun . Hanya menyisakan foto kabur dan utang yang tak sempat dibayar. Sejak kecil, Arman sudah tahu rasanya lapar yang bukan karena diet. Dan dingin yang bukan karena musim. Ia juga tahu cara tersenyum sambil menahan malu karena sendalnya putus di depan sekolah. “Kalau orang ketawa, ikut ketawa aja ya, Man,” kata ibunya suatu malam. “Daripada mereka ngetawain kamu, mending kamu ikut ketawa duluan, biar gak sakit.” Dan sejak saat itu, Arman belajar tertawa. Bahkan ketika dia dihina. Bahkan saat dicibir karena cuma bawa nasi bungkus dan kerupuk keras ke sekolah. “Eh, Arman, kamu beneran mau daftar lomba baca puisi? Emang kamu bisa ngomong ?” tanya seorang teman SD-nya dulu, tertawa. Arman hanya mengangkat bahu. “Bisa, Cuma saya biasanya bicara pas orang lain tidur.” Tawa meledak , tapi dia tetap tenang. Dia tahu, kalau marah, orang akan bilang dia lebay. Tapi kalau cuek, orang akan berhenti memperhatikan. Dan itu yang dia pilih, tdak dilihat = tidak dijatuhkan. Dia belajar jadi bayangan sejak usia 12 tahun. Saat SMA, Arman sudah terbiasa dipanggil “bocah sepi”. Ia tak punya geng, tak ikut ekskul. Tapi semua guru tahu dia anak baik. Suatu hari, ia sempat menaruh hati pada seorang teman sekelas bernama Ratih. Cantik , ceria, pinter, dan tentu saja… terlalu jauh dari jangkauannya. Ia menulis puisi untuk Ratih. Tidak untuk diberikan. Hanya untuk ditaruh dalam buku catatan. Sampai suatu hari, buku itu tertinggal di perpustakaan. Dan entah bagaimana, sampai ke tangan teman-temannya. “Woy! Arman bikin puisi buat Ratih, cuy! Gokil! OB masa depan naksir calon dosen!” Tawa, siulan, dan lelucon murahan. Arman hanya diam , lalu tertawa kecil. “Gue kan cuma latihan buat jadi penyair miskin,” celetuknya sambil memasukkan buku ke tas. “Biar nanti pas lapar, bisa makan kata-kata.” Semua tertawa lagi. Tapi kali ini, tak ada yang mengejek. Mereka pikir Arman memang tidak serius. Padahal, hati Arman masih gemetar saat menatap lantai. Malam itu, ia membakar buku puisinya. Usai lulus SMA, Arman tak punya pilihan selain bekerja. Ibunya jatuh sakit, warung tutup, dan hidup mulai terasa seperti pertandingan tanpa garis finish, ia jadi cleaning service. Ibunya meninggal setahun setelah ia bekerja. Uang pemakamannya didapat dari hasil pinjaman dan upah lembur seminggu penuh. Arman menatap wajah ibunya yang tenang di kain kafan. Lalu berbisik, “Sekarang gak usah khawatir lagi Bu. Arman sudah cukup pintar pura-pura bahagia.” Ia menangis diam-diam di bawah pohon mangga, jauh dari para pelayat. Di tahun-tahun berikutnya, Arman makin terbiasa hidup dalam sunyi. Tapi sesekali, celetukannya muncul, entah karena lelah, atau karena dia tahu, orang-orang lebih mudah menerima tawa daripada tangisan. “Man, lo kenapa diem aja dari tadi?” tanya Dani suatu malam saat lembur. “Gue lagi main catur sama nasib,” jawab Arman. “Sayangnya dia gak pernah ngasih gue giliran jalan.” Tertawa dan tertawa. Tapi malam itu, Dani tahu Arman sedang tidak bercanda. Dan kini, ada Sarah. Perempuan yang lembut, hangat, dan... entah kenapa bisa membuat Arman merasa seperti manusia sungguhan. Bukan cuma OB, bukan cuma nama di daftar staf , Tapi seseorang. Namun, rasa takutnya lebih besar dari harapan. Karena Arman tahu, sekali dia berharap, dan gagal, dia mungkin tidak akan punya energi untuk berdiri lagi. Malam itu, di kamar kosnya yang sunyi, Arman membuka buku kecil baru, ia menulis pesan. "Dulu aku pernah suka seseorang, lalu diketawain satu sekolah. Sekarang, aku suka seseorang lagi. Tapi kalau sekarang aku gagal, yang ketawa mungkin cuma aku sendiri. Tapi sakitnya tetap sama." "Kalau cinta memang buta, kenapa aku selalu merasa terlalu terlihat?" "Mungkin aku bukan takut ditolak. Aku cuma takut kehilangan sisa-sisa harga diriku yang udah tinggal tulang." Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Arman memejamkan mata sambil menggenggam kertas itu. Di mimpinya, ia melihat ibunya duduk di bangku bambu. “Ikhlas itu bukan berarti pasrah, Man,” kata ibunya. Arman menatap langit. Dan untuk pertama kalinya sejak lama, ia berpikir: Mungkin aku perlu belajar percaya… bahwa seseorang bisa mencintaiku bukan karena kasihan, tapi karena benar-benar melihat aku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN