Jihan sudah panik, melihat tubuh Ares yang masih tak bergerak sedikit pun. Ia sangat khawatir karena Ares yang tak kunjung membuka matanya. "Ares bangun Ares, Ares!" Jihan menepuk-nepuk pipi Ares lumayan keras, agar cowok itu bangun. Bulir bening sudah terjun dengan bebas membasahi pipi Jihan. "Ares, gue mohon bangun." Jihan meraih kepala Ares dan memeluknya. Jihan menangis di tengkuk leher Ares, menumpahkan semua air matanya. Seketika Jihan langsung menghentikan tangisannya, saat jari jemari Ares mengusap rambutnya dengan perlahan. Jihan menjauhkan kepalanya dari Ares. Sudut bibirnya melengkung senyuman manis, saat melihat Ares yang sudah membuka mata dengan senyuman manis di bibirnya. "Gue gak apa-apa. Gak usah nangis." Ares menghapus jejak air mata Jihan menggunakan punggung t

