Jihan sudah menunggu di kafe dekat persimpangan jalan. Ia sangat khawatir mendengar suara Ares di sebrang sana. Cowok itu seperti sedang menangis. Apa yang telah terjadi pada Ares? Jihan mengangkat jam tangan di tangan kirinya. Sudah hampir dua puluh menit ia menunggu di sini. "Jihan." Jihan langsung mendongakkan kepalanya, saat seseorang memanggilnya. Ia beranjak berdiri, saat melihat Ares yang baru saja sampai. "Ares." Jihan meraba-raba wajah Ares. Ia bisa melihat bekas memerah di mata Ares. "Lo kenapa?" tanya Jihan sedikit panik. Ares tak menjawabnya. Ia menarik tangan Jihan, agar keluar dari dalam kafe. "Ikut gue." Jihan pun menurut saja ke mana Ares akan membawanya. Ia melihat wajah Ares yang sepertinya habis menangis. Mata cowok itu terlihat merah dengan rambutnya yang acak

