5. Mengantarkan Pulang

1705 Kata
Ares langsung menyelam ke dasar kolam. Ia melihat Jihan yang sudah tak sadarkan diri. Ares berenang menghampiri Jihan, lalu meraih tubuh gadis itu, dan mengangkatnya ke tepi kolam. Ares membaringkan tubuh Jihan di tepi kolam. Ia sangat panik, karena Jihan tak sadarkan diri seperti ini. "Han, bangun, Han. Jihan!!" Ares menepuk-nepuk pipi Jihan, lumayan keras, berusaha membangunkan gadis itu. Ia sudah gelagapan sendiri. Ares kemudian mendekap d**a Jihan dengan sangat kuat, berharap Jihan akan membuka kedua matanya. Sial! Semua usahanya masih nihil. Jihan tidak kunjung membuka matanya. Ares mengacak-acak rambutnya, frustasi. Ia tak tau sekarang harus apa! Jika tadi ia langsung menolongnya, mungkin Jihan tak akan seperti ini. Ares langsung teringat, dengan saran yang pernah diajarkan oleh ibunya, saat menyelamatkan orang tenggelam. Napas buatan! Ya, itu adalah jalan satu-satunya! Ares menatap wajah Jihan. Ia meneguk ludahnya susah payah, lalu Ares pun mendekatkan wajahnya dengan Jihan. Ia terpaksa harus melakukan ini, demi menyelamatkan nyawa Jihan. Ares memejamkan matanya, ia mulai mendekatkan mulutnya dengan mulut Jihan. Namun belum sempat ia memberi napas buatan, Jihan tiba-tiba membuka mata dengan menyemburkan air dari dalam mulutnya. Sontak, Ares langsung menjauhkan wajahnya yang terkena semburan dari mulut Jihan. Jihan tetbatuk-batuk mengeluarkan air. Kedua matanya memelotot, saat melihat wajah Ares yang berada di hadapannya. Jihan langsung mendorong tubuh Ares, dari hadapannya. Ia kemudian beranjak duduk. "Lo habis ngapain?!" Ares mengusap wajahnya yang basah. "Nolongin lo lah!" jawab Ares sangat kesal, karena Jihan yang berani menyembur wajahnya seperti ini. "L--lo ci-cium gu--gue?" tanya Jihan terbata-bata seraya menyentuh bibirnya. Apa Ares sudah....? "Gue---" "Lo pasti abis cium gue, kan? Ngaku gak lo? Ih dasar m***m!!!" Jihan bangkit berdiri sambil memukul-mukul kepala Ares dengan sangat keras. "Aduh! Jihan! Stop!!" Ares menyilangkan kedua tangannya di depan kepala. "DASAR m***m!! COWOK m***m! KENAPA LO AMBIL KISS GUE TERUS?!" Jihan terus memukuli Ares dengan perasaan yang sangat kesal. Ares merasa kesal dengan tingkah Jihan yang terus menuduhnya. Dengan cepat ia menarik kedua tangan Jihan. "Gue gak cium lo!!" Jihan langsung membeku dan mematung si tempat. Wajahnya kini dengan Ares sangat berdekatan. Kedua netranya tak lepas memandangi netra tajam milik Ares. Ares yang melihat Jihan memandanginya terus pun, langsung melepaskan tangannya dengan kasar, hingga membuat tubuh Jihan terjengkang ke belakang. Jihan meringis sakit, karena bokongnya yang terbentur lumayan keras. Ares beranjak dari duduknya. Ia berdiri di hadapan Jihan. "Gue gak cium lo. Jadi gak usah fitnah!" ujar Ares sambil menunjuk wajah Jihan dengan tajam. Setelah itu, Ares kemudian kembali melanjutkan hukumannya. Ia ingin menyelesaikannya dengan segera. Jihan terdiam di tempat. Ia menghembuskan napas lega, karena Ares tak merebut kesuciannya. Astaga, ia akan menghajar cowok itu, jika dia berani menciumnya! Jihan kemudian kembali duduk di bawah, seraya memperhatikan Ares yang sedang mengepel. Ia memeluk kedua lututnya. Jihan ingin pulang, namun sekarang ia harus bagaimana? Bajunya sudah basah kuyup dan tembus pandang. Jihan malu, jika harus pulang dengan seperti ini. Jihan mengedarkan pandangannya. Perlahan ia tersenyum, saat melihat jaket kulit coklat yang terlempar di sana. Jihan kemudian melirik Ares. "Ares!" panggil Jihan sedikit berteriak. "Apa?" sahut Ares tanpa menoleh pada Jihan. Pandangannya tetap fokus menatap lantai yang tengah di pel-nya. "Pinjem itu," tunjuk Jihan pada jaket Ares. Ares menghentikan aktivitasnya. Ia melirik ke arah yang Jihan tunjuk. "Enggak," jawab Ares, sambil kembali melanjutkan mengepel lantainya. Jihan mendengus kesal. Ia menatap Ares dengan tajam. "Pelit banget sih lo! Kita kan, temen. Harusnya saling berbagi dong!" "Gue bukan temen lo!" balas Ares, membuat Jihan menelan ludahnya susah payah. Beberapa menit kemudian, Ares sudah selesai menyelesaikan hukumannya. Ia berjalan menghampiri Jihan yang masih duduk di sana, dengan menekuk kedua lutut kakinya. Ares meraih jaketnya, lalu tanpa aba-aba ia memasangkan jaket itu di tubuh Jihan untuk menutupi baju gadis itu yang sudah tembus pandang. "Kenapa gak dari tadi?!" kesal Jihan sambil bangkit berdiri. Jika Ares meminjamkannya daritadi, mungkin ia sudah pulang ke rumah. "Biar lo temenin gue," jawab Ares sambil berjalan meninggalkan Jihan. Jihan memasang wajah sangat kesal. Ia mengepalkan tangannya dan ingin meninju kepala Ares dari belakang. Jihan mengurungkan niatnya. Ia tidak ingin berbuat macam-macam pada Ares. Bisa-bisa cowok itu akan mengamuk! Jihan menghela napas, lalu menghembuskannya. Ia kemudian mengejar kepergian Ares. Sumpah Ares benar-benar menyebalkan! Rasanya ia ingin membuang cowok itu ke kutub Selatan! ••••π•••• "Arah rumah lo ke mana?" tanya Ares yang tengah mengendarai motornya dan memboncengkan tubuh Jihan di belakang. "Di depan ada tikungan, lo belok ke arah kiri," ucap Jihan memberitahu arah rumahnya. Ares hanya diam saja dan melajukan motornya ke arah yang Jihan sebutkan. Sedangkan Jihan tak lepas memandangi wajah Ares dari spion. Ia melihat wajah Ares yang tampak datar tanpa eksperesi. Apa kehidupan Ares begitu menyedihkan? Sampai dia menjadi anak nakal di sekolah. Bahkan, Ayahnya pun tidak peduli sama sekali, dengan Ares. Jihan tersenyum tipis. Ia akan membuat kehidupan Ares sedikit berwarna dengan menjadikannya sebagai teman. Ya siapa tau saja kan, Ares bisa berubah dan ayahnya pun akan mulai sayang apada cowok itu. Ares melirik ke arah tangan kirinya. Ia melihat sudah pukul lima sore. Semoga ayahnya belum pulang dari rumah sakit. Ya memang sih, ayahnya akan pulang kerja jam tujuh. Namun, ia takut jika ayahnya akan tiba-tiba pulang, seperti kemarin. Jika Ares pulang dengan kondisi tubuh basah kuyup, sudah dipastikan ia akan dipukuli. Badan Ares sudah sangat sakit. Ia tidak mau ayahnya kembali memberikannya luka. Membuat rasa sakitnya, bertambah menjadi dua kali lipat! "Res," ucap Jihan mulai membuka suara, setelah sekian lama membisu. "Hm?" sahut Ares hanya berdehem pelan. "Adik lo masih kecil?" "Cuma beda dua tahun sama gue. Kenapa?" Jihan terdiam sejenak. Ia kira adik Ares masih kecil, karena ayah Ares yang membedakan kasih sayangnya. Namun ternyata, adiknya sudah kelas sepuluh? Itu tandanya sudah dewasa? "Jadi, udah kelas sepuluh?" tanya Jihan tidak percaya. "Iya." "Adik lo, cewek?" tanya Jihan lagi. "Cowok." Jihan menggaruk kepalanya yang tak gatal. Lagi-Lagi jawaban Ares, tak sesuai dengan tembakannya. "Kenapa ayah lo, gak sayang sama lo?" tanya Jihan heran. Ares menjadi terdiam dengan ucapan Jihan. Ia tidak suka jika sudah membahas ayahnya. Itu akan mengingatkan dimana sikap ayahnya yang memperlakukan dirinya. "Ini belok, ke mana lagi?" tanya Ares mengalihkan topik pembicaraan. "Hah?" Jihan pun langsung menengok ke arah jalanan. "Oh, lo lurus aja, terus berhenti di rumah nomor empat puluh dua," ucap Jihan memberitahu. "Oke." Ares dan Jihan pun jadi kembali diam dan membisu. Hanya suara angin yang menemani mereka. Kedua mata Jihan langsung memelotot saat melihat Ronald beserta teman-temannya yang tengah menongkrong di sebuah warung. Mampus! Mampus gue! Jihan langsung menyembunyikan wajahnya. Ia kemudian menarik jaketnya dan menutupi wajahnya. Jika Ronald melihat dirinya berboncengan dengan Ares, bisa-bisa dia akan mengamuk dan kembali berkelahi dengan Ares. Jihan tak mau, itu terjadi! Jihan langsung menjatuhkan wajahnya di punggung Ares dan menutupinya dengan jaket. Ares yang merasa Jihan menempel-nempel pun menjadi risih. "Lo apaan sih! Jangan deket-deket, munduran!" tegasnya dengan sangat kesal. "Diem dulu, Res. Diem. Please, gue bukan mau meluk lo, tapi ada Ronald," ucap Jihan. Ares terdiam beberapa saat. Ia kemudian menolehkan wajahnya pada kerumunan cowok yang tengah berkumpul di sebuah warung kecil. Ia melihat Ronald yang tengah tertawa dengan teman-temannya. ••••π•••• Setelah mengantarkan Jihan pulang, Ares pun langsung pulang ke rumahnya. Ia ingin cepat-cepat sampai, sebelum ayahnya tiba. Ares memasukkan motornya ke dalam garasi. Setelah itu, ia pun masuk ke dalam rumahnya. Tubuhnya sudah terasa dingin. Bahkan bajunya yang basah kuyup pun, sudah sedikit kering terkena angin. "Loh Ares, kamu kok basah kayak gitu? Kenapa? Terus, kamu juga pulang kesorean?" tanya Zara yang sedang menonton TV di ruang tamu, dan langsung bergegas menghampiri Ares. Ares menyalimi tangan Zara. Ia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Ares habis dihukum, Ma. Makanya, Ares pulang kesorean," ucap Ares jujur. "Terus tadi Ares nyemplung ke kolam, Ma," lanjutnya menjelaskan. "Ya ampun Ares." Zara meraba-raba tubuh Ares yang basah. "Ya udah, sana kamu mandi terus salin. Mama takut, kamu sakit," ucap Zara terlihat sangat khawatir. Ares mengangguk. "Iya Ma." Ares pun kemudian berjalan meninggalkan Zara. "Oh iya, abis itu kamu ke meja makan ya, Res!" teriak Zara dan Ares hanya mengangkat tangannya, sebagai jawaban. Ares membuka kamarnya. Ia langsung memelotot, melihat Antariksa yang sedang tidur di atas kasurnya. Ares melempar tas ranselnya ke sembarang arah. Ia kemudian menarik tangan Antariksa dengan kasar. "Bangun! Lo ngapain tidur di kamar gue?!" Antariksa mengerjap-ngerjapkan matanya yang terasa perih. Ia langsung melepaskan tangannya yang di cekal Ares. "Lo udah pulang?" "Balik ke kamar lo!" ujar Ares sangat emosi, sambil menunjuk ke arah pintu. "Kamar gue berantakan. Tolong beresin dong. Lo sapu kamar gue, terus lo pel, bersihin debunya sama lipetin selimutnya," ucap Anta dengan entengnya. Ares menatap Antariksa dengan sangat murka. Emosinya sudah menggebu, karena Antariksa yang berani menyuruhnya seperti itu. Ares kembali menarik tangan Antariksa dengan sangat kasar. "Gue bukan pembantu lo!" "Jangan dorong-dorong gue, lo sebagai kakak gak bisa bantuin adiknya apa?" ujar Antariksa. Ares langsung mendorongkan tubuh Antariksa ke luar, lalu memgunci pintunya. Ares menatap kamarnya yang sudah seperti kapal pecah. s****n! Baru saja, ia ingin istirahat dan sekarang harus membersihkan kamarnya. Ares menaruh semua barang-barang yang tergelatak ke tempatnya kembali. Bahkan, dia tidak salin terlebih dahulu, malah langsung membersihkan kamarnya. Beberapa menit kemudian, Ares sudah selesai membersihkan semuanya. Ia menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Ares mengangkat kedua tangannya dan meregangkan otot lengannya yang terasa keram. ••••π•••• "Bal, kamu gak mau tunggu Ares dulu?" tanya Zara, melihat Iqbal yang sudah menyantap makanannya. "Anak itu, gak keluar-luar," jawab Iqbal yang tengah menikmati makanannya dengan khidmat, tanpa memikirkan kondisi Ares. Zara bangkit dari duduknya. Ia kemudian bergegas menuju kamar Ares. Zara membuka pintu kamar Ares. Ia mendapati Ares yang tengah tertidur dengan seragam basah, yang belum dia ganti. Zara menyentuh seragam Ares yang sudah kering. Apa dia sangat kelelahan, sampe lupa untuk mengganti pakaian? Kayaknya, kamu capek banget ya? Zara tersenyum kecil. Ia kemudian melepaskan sepatu yang masih terpasang di kaki Ares. Ia menatap wajah Ares. Zara melihat beberapa luka lebam di wajah anaknya. Apa Ares berantem lagi? Kenapa Ares ingkar? Dia bilang akan berubah, lalu apa ini? Tadi Ares memakai topi, hingga ia tidak bisa melihat wajah Ares yang penuh dengan luka lebam seperti itu. "Maafin Mama ya, Res. Mama janji, akan buat Papa sadar dan bisa menyayangi kamu," gumam Zara seraya mengelus kepala Ares.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN