6. Spam Chat

1697 Kata
Zara menghapus air matanya yang tiba-tiba mengalir. Ia tidak mau Ares melihatnya. Zara mengecup kepala Ares, lalu bergegas keluar dari sana. Zara menuruni anak tangga, menghampiri Iqbal dan Antariksa yang sudah makan terlebih dahulu. "Makan, Ra. Jangan ngurusin Ares terus, dia udah gede, bisa urus dirinya sendiri," ucap Iqbal yang tengah menyantap makanannya. "Bener tuh, kata Papa. Kenapa, sih Mama ngurusin Kak Ares terus, orang dia udah gede juga," timpal Antariksa menambahi. Zara menarik bangkunya, lalu duduk di hadapan Iqbal. "Mama cuma mau ngingetin Ares, buat makan Anta," jawab Zara melirik anak keduanya. "Makan aja pake di ingetin dulu." Antariksa mengambil segelas air di hadapannya dan meneguknya. Zara hanya diam saja, ia kemudian menyantap makanannya. Sekarang, ia sangat malas untuk berdebat. "Oh iya, Pa. Kapan mau beliin Anta mobil?" tanya Antariksa lagi. Iqbal langsung menghentikan menyantap makanannya. Ia meraih segelas air dan meneguknya, lalu kepalanya menoleh pada Antariksa. "Kamu kenapa sih, pengen pake mobil? Lagian kan, kamu masih kelas sepuluh Anta." "Tapi Anta pengen pake mobil, Pa. Si Reno, temen Anta aja, udah dibeliin mobil sama ayahnya. Masa Anta enggak sih?" ujar Antariksa. Ia cuma tak mau ke-famous-sannya terkalahkan oleh cowok itu. "Kamu masih kecil, Anta. Mama gak akan ngizinin kamu buat bawa mobil," ucap Zara ikut campur. Antariksa langsung menolehkan kepalanya ke arah Zara. Ia menatap ibunya dengan sangat murka. "Bilang aja, kalo Mama tuh gak pernah sayang sama Anta. Cuma Kak Ares yang Mama sayang!" "Anta, bukan gitu. Mana mungkin Mama gak sayang sama kamu, Mama--" "Anta udah kenyang!!" sela Antariksa memotong omongan Zara. Cowok itu langsung pergi dari sana. Zara menatap kepergian Antariksa. Ia menghela napas berat dan menghembuskannya. Kenapa, anak itu tidak mengerti juga? "Gak seharusnya kamu ngomong kayak gitu," ucap Iqbal membuat Zara menoleh padanya. "Kenapa? Aku cuma gak mau, Anta terus menghambur-hamburkan uang, Iqbal," ucap Zara merasa benar akan ucapannya. "Dia gak ngehambur-hamburin uang, Ra. Tapi, Anta cuma mau kayak temennya. Apa salah?" ujar Iqbal terus membela anaknya. Zara bangkit berdiri. "Antariksa selalu benar di mata kamu! Sedangkan Ares, selalu salah di mata kamu!" ujar Zara dengan nada tinggi. Ia sangat muak, karena Iqbal yang terus membela Antariksa. Iqbal bangkit berdiri sambil menggebrak meja makan, membuat Zara terperanjat kaget. "Maksud kamu, apa?!" "Kamu gak pernah sayang sama Ares! Selalu Anta yang kamu pikirkan, seakan Ares itu bukan anak kamu! Kenapa, kamu bersikap kayak gini, Bal?!" bentak Zara dengan emosi yang menggebu-gebu. Iqbal menatap Zara, ia tidak suka jika Zara berani melawannya seperti ini. Iqbal menendang kursi dengan keras, lalu pergi meninggalkan Zara begitu saja. Zara terperanjat kaget, air matanya sudah turun membasahi pipi. Zara kembali duduk di bangkunya. Ia meremas kepalanya, seraya menangis terisak. Kenapa rumah tangganya menjadi rumit seperti ini? ••••π•••• Ares mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. Ia beranjak dari tidurnya dengan perlahan-lahan. Ares mengerutkan keningnya, melihat sepatunya yang sudah terlepas. Ares tersenyum tipis, pasti ibunya yang sudah melepaskannya. Ia sangat senang, karena ibunya yang begitu sangat perhatian. Tiba-tiba saja perutnya terasa lapar dan berbunyi keroncongan. Ares mengangkat tangan kirinya. Ia melihat sudah pukul delapan malam. Bahkan, ia sampai lupa untuk mengganti pakaiannya yang basah, hingga sudah kering seperti ini. Ares meraih cermin, ia melihat pantulan wajahnya di cermin. "Gak mungkin juga, gue keluar dengan muka kayak gini," gumam Ares melihat luka lebam di wajahnya. Ares memegangi perutnya. "Tapi gue laper. Papa udah tidur belum, ya?" Ares beranjak dari kasurnya. Ia membuka pintu kamarnya, lalu melihat ruangan bawah, memastikan jika ayahnya sudah tidur. Ares tersenyum kecil, sepertinya Ayahnya memang sudah tidur. Dengan langkah yang sangat pelan, Ares menuruni anak tangga. Ia tidak mau langkah kakinya terdengar. Sesampainya di ruang makan, Ares melihat masih ada makanan yang tersisa. Ia kemudian meraih piring dan mengambil nasi, lalu beberapa lauk pauk. Ares menyantap makanannya dengan khidmat. Perutnya benar-benar terasa lapar. Namun, beberapa detik kemudian, ia langsung membulatkan kedua matanya, saat mendengar langkah kaki seseorang menuju ruang makan. Dengan cepat, Ares langsung masuk ke kolong meja dan bersembunyi di sana. Ia melihat Ayahnya yang sedang mengambil minum. Iqbal mengerutkan keningnya. Ia melihat sepiring nasi di meja makan. Bukannya tadi, Zara sudah mencuci semuanya? Terus, siapa yang makan malam-malam seperti ini? Iqbal menggelengkan kepalanya, mungkin saja Antariksa. Setelah meminum segelas air, Iqbal langsung pergi dari sana dan kembali ke kamarnya. Ares mengintip dari bawah, melihat langkah Iqbal yang semakin menjauh. Ares kemudian keluar dari kolong meja, ia menghembuskan napas lega. Untung saja, ayahnya tidak lihat. Bisa habis, jika melihat wajahnya yang babak belur seperti ini. Ares kembali melanjutkan menyentap makannya, sambil membuka ponselnya. Ia melihat beberapa pesan dari Jihan. Jihan Res, makasih ya, udah arterin gue pulang. Gue sampe lupa bilang makasih sama lo tadi. Oh iya, maafin atas perkataan gue tadi ya. Gue gak bermaksud untuk ikut campur urusan keluarga lo. Sekali lagi sorry:) Ares tersenyum kecil, ia kemudian membalas pesan dari Jihan. Anda Oke Tidak menunggu lama, Jihan langsung mengetikkan balasan untuk Ares. Jihan Ya Allah, pesan gue dari zaman purba, baru di bales. Abis dari mana lo? Anda Gak usah kepo Ares menatap layar ponselnya, memandangi pesannya yang belum di balas. Ia menjadi kesal sendiri, karena Jihan tak kunjung membalas pesannya. Padahal Jihan masih online. Anda Jihan? Ares menatap layar ponselnya, ia masih melihat pesannya yang terus centang dua abu-abu. Anda Gak usah sok sibuk lo! P P P P P P P Ares menyepam chat kepada Jihan. Dia merasa sangat kesal, karena Jihan tak kunjung membalas pesannya. Jihan Ares s****n, notif gue jadi berisik! Gak ada kerajaan lo?! Anda Kenapa gak bales chat gue? Jihan Gue lagi teleponan sama Ronald, kenapa? Ares membaca pesan itu, ia kemudian langsung menaruh ponselnya tanpa membalas pesan dari Jihan. Ares menjadi bingung sendiri dengan tingkahnya. Apa yang barusan di lakukannya? Kenapa harus banget, pesannya di balas Jihan? Ares mengacak-acak rambutnya, dia bangkit dari duduknya dan bergegas menuju kamarnya. Ares benar-benar sudah gila! Kenapa ia jadi seperti ini? Lagian Jihan itu bukan siapa-siapa, jadi tidak punya hak, untuk memaksa gadis itu agar membalas pesannya! ••••π•••• Zara sedang menyiapkan sarapan pagi di meja makan. Dari kemarin, ia tidak melihat Ares keluar kamar. Kenapa Ares belum keluar juga? Apa dia tidak sekolah? "Dari kemarin, aku gak liat Ares? Ke mana dia?" tanya Iqbal pada Zara yang tengah menyimpan makanan di meja makan. Zara langsung menoleh ke arah Iqbal, lalu menjawab. "Ada kok di kamarnya." "Kamu gak bohongin aku, kan? Awas aja, kalo sampe dia gak pulang!" Iqbal mengepalkan tangan kanannya. "Ada Iqbal, orang kemarin Ares pulang," jawab Zara. "Bentar, aku panggilin dulu," lanjut Zara sambil melangkah menuju kamar Ares. Sesampainya di kamar Ares, Zara mengetuk-ngetuk pintu kamar Ares yang tertutup. "Ares bangun. Kamu gak mau sekolah? Udah siang loh." Zara terus mengetuk pintunya. Ia kemudian membuka pintunya, ternyata Ares tidak menguncinya. Zara melihat Ares yang masih terbaring di tempat tidurnya dengan selimut tebal yang menutupi seluruh tubuhnya. Zara tersenyum sambil geleng-geleng kepala, melihat Ares yang belum bangun. "Ares ka---" Zara langsung menghentikan ucapannya, saat tangannya menyentuh dahi Ares yang terasa sangat panas. "Ares, kamu sakit?" Zara menjadi panik karena suhu tubuh Ares yang sangat panas. Zara mengambil duduk di samping Ares, ia kemudian membangunkan Ares. "Sayang bangun." Perlahan kedua mata Ares terbuka, ia melihat wajah ibunya yang sangat dekat. "Mama?" "Kamu sakit?" tanya Zara. Ares menganggukkan kepalanya pelan. "Ares gak enak badan, Ma. Boleh gak, untuk kali ini, Ares gak sekolah dulu?" Zara menganggukkan kepalanya cepat. "Iya sayang, kamu jangan sekolah dulu hari ini." "Makasih Ma." Zara menarik selimut yang menutupi tubuh Ares. Kedua matanya terbuka sempurna, melihat Ares yang masih menggunakan seragam sekolah. "Kamu gak salin Ares?" "Lupa," jawab Ares. Zara menarik napas berat dan menghembuskannya. "Kamu pasti sakit, gara-gara lupa ganti baju." Zara bangkit berdiri. "Kamu tunggu dulu di sini. Mama mau bawain kamu makanan sama obat," ucap Zara dan Ares hanya mengangguk. Zara kemudian pergi dari sana, meninggalkan Ares. Sedangkan Ares kembali menyelimuti tubuhnya yang terasa dingin. Kepalanya pun terasa pusing. ••••π•••• "Katanya manggilin Kak Ares, mana Kak Aresnya?" tanya Antariksa menatap ibunya yang sudah kembali tanpa Ares. "Ares sakit," jawab Zara seraya meraih piring dan menaruh nasi goreng untuk Ares, serta segelas s**u putih. "Buat siapa?" tanya Iqbal. "Ares," jawab Zara tanpa menoleh pada Iqbal. Tangannya sedang sibuk menyiapkan makanan untuk Ares. "Dia punya tangan, bisa ngambil sendiri," ujar Iqbal. Zara melirik Iqbal dengan tajam. Bahkan, dia sama sekali tidak khawatir pada Ares. "Ares sakit Iqbal!" "Tapi, kaki dan tangannya masih berfungsi kan?" Ucapan Iqbal benar-benar membuat Zara emosi. Namun, ia menahannya. Ia tidak mau, jika pagi-pagi sudah ribut dengan Iqbal. Zara langsung pergi dari sana, dengan membawakan makanan untuk Ares. Tak lupa juga, obat penurun demam. "Pa, Anta berangkat sekolah dulu," pamit Antariksa bangkit berdiri dan langsung berlari dari sana, tanpa menyalimi tangan Iqbal terlebih dahulu. Iqbal bangkit berdiri, ia berjalan menaiki anak tangga, menuju kamar Ares, memastikan apa dia benar sakit atau cuma alasan? Zara masuk ke dalam kamar Ares, ia menaruh nampan yang dibawanya di atas nakas. Kemudian, membantu Ares untuk menyandar ke sandaran kasur. "Makan dulu, Res," ucap Zara seraya mengambil duduk di samping Ares. "Makasih ya, Ma," ucap Ares dan Zara hanya menganggukkan kepalanya. Ares meraih segelas s**u putih dan meneguknya. Selang beberapa detik kemudian, kedua matanya melotot saat melihat sepasang sepatu dari bawah pintunya. "Kenapa?" tanya Zara melihat Ares yang memelotot seperti itu. "Ada Papa," jawab Ares, dengan cepat ia langsung meraih topi dan memakainya, tak lupa juga menggunakan masker untuk menutupi luka lebamnya. Iqbal membuka pintu kamar Ares dan berjalan menghampiri Ares. Ia menatap wajah Ares yang di tutupi masker seperti itu. "Kenapa pake masker?" Ares hanya diam saja dan menunduk. Ia tidak berani menatap wajah ayahnya. "Ares lagi flu, makanya pake masker," jawab Zara mencoba melindungi Ares. Iqbal pun hanya diam saja. "Besok kamu harus sekolah! Kamu tuh, udah b**o! Kalo gak sekolah, tambah b**o! Mau jadi apa, kamu kalo udah gede? Pemulung?" Zara memelotot mendengar ucapan Iqbal. Dengan teganya, dia berbicara seperti itu pada Ares. "Bisa gak sih, kamu gak usah ngomong kayak gitu sama Ares?!" "Emang kenyataannya kan, kalo Ares bodoh?" Zara ingin bangkit berdiri, namun Ares langsung menahan tangannya. Ares tidak mau ayah dan ibunya berantem lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN