7. Kebohongan Antariksa

1498 Kata
"Udah Ma." Ares memegangi tangan Zara, menahannya agar tidak melawan ayahnya. Ares kemudian menatap wajah ayahnya. "Ares emang b**o kok, Pa, tapi Ares akan berusaha buat jadi anak pinter kayak Anta." Iqbal berdecih. "Kalo b**o ya tetep b**o. Gak akan bisa jadi pinter." Zara bangkit berdiri. Ia melepaskan tangan Ares, lalu melayangkan tamparan keras di pipi Iqbal, membuat kedua mata Ares memelotot. Wajah Iqbal jadi menoleh ke samping dengan bekas memerah. "Kamu apaan sih, Ra?!" Iqbal menatap Zara dengan nyalang. "Gak seharusnya kamu, bilang kayak gitu Iqbal!" ujar Zara merasa sangat emosi, dengan ucapan Iqbal yang semakin menjadi-jadi. "YA EMANG ITU, KENYATAANNYA!!" balas Iqbal tak kalah tajam. Ares bangkit berdiri, lalu berdiri di samping Zara. "Udah Ma, nggak apa-apa." Ares kemudian melirik Iqbal. "Ares janji, besok bakalan sekolah, Pa," lanjutnya, tak mau masalah ini semakin menjang. "Bagus kalo gitu." Setelah mengucapkan itu, Iqbal langsung keluar dari kamar Ares. Zara membalikkan badan, menatap Ares. Ia menatap anaknya sedikit kesal. "Kamu apaan sih, Res? Kamu aja masih sakit kayak gini, masa mau sekolah?" Ares mengembangkan senyumannya. "Nggak apa-apa, Ma. Ares besok bakalan sekolah, besok juga sembuh kok." Zara menarik napas berat dan menghembuskannya. Ia kemudian menyuruh Ares duduk dan menyodorkan sepiring nasi goreng yang sudah ia bawakan. "Kamu makan sampe habis ya," ucap Zara dan Ares hanya mengangguk. "Mama, mau ambil P3K dulu, buat obatin luka kamu," ucap Zara lalu bergegas keluar untuk mengambilkan P3K. Ares mengangguk, ia kemudian membuka masker serta topinya. Ares memegangi sudut bibirnya yang masih terasa perih. Mungkin karena ini juga, ia jadi sakit. •••π••• "Cupu, gue cariin ternyata lo di sini, hah?!" Antariksa menatap seorang cowok berkacamata, serta penampilannya yang culun, tengah menyantap makanannya di kantin. Cowok cupu bernama Malik itu, langsung mendongakkan kepalanya menatap Antariksa, serta kedua temannya yang berdiri di hadapannya. "I--iya, ke--kenapa?" Antariksa menarik kerah baju cowok itu dengan kasar. "Pake nanya lagi lo, lo mau ngehindar dari gue hah?!" Malik menggelengkan kepalanya. Antariksa melepaskan tangannya yang mencengkram kerah baju Malik. Lalu melempar beberapa buku ke hadapan cowok itu. "Kerjain tugas gue!" "A--aku gak mau. Ka--kamu kerjain sendiri aja." Malik menolaknya dengan sangat gugup. "Berani lo ngelawan gue?!" Antariksa memukul kepala Malik dengan sangat keras. Malik memegangi kepalanya yang terasa sakit. Dengan pasrah, ia harus menurut saja, daripada Antariksa semakin kasar padanya. Malik meraih buku Antariksa, lalu menjawab, "I--iya na--nanti, aku kerjain." Antariksa menggebrak meja dengan keras. "Sekarang! Bukan nanti!" "Ta--tapi, a--aku mau makan dulu," ucap Malik melirik makananya yang masih utuh. "Ya udah, gue kasih waktu lo lima menit. Setelah itu, anterin tugas itu sama gue. Gue tunggu di kelas," ucap Antariksa dan Malik hanya mengangguk. "Cabut!" titah Antariksa pada kedua temannya. Lalu mereka bertiga pun langsung pergi dari sana. Malik memang selalu di perbudak oleh Antariksa, sejak masih duduk di bangku SD. Antariksa, selalu menyuruh Malik, untuk mengerjakan semua tugas-tugasnya. Dan pada waktu itu, Malik pun mempunyai niat untuk kabur dan pindah sekolah, namun Antariksa selalu mengancamnya, membuat cowok itu tak berani menolak. "Gila lo, An! Bisa banget lo, buat tuh si cupu selalu nurut sama lo," ucap Tio, sambil memukul bahu Antariksa, menatap cowok itu sangat kagum, seraya geleng-geleng kepala. "Iya dong, tanpa dia nilai gue gak mungkin bagus!" Antariksa langsung melempar tas ransel ke mejanya. "Dan, kalo nilai gue jelek, gue gak akan di bangga-banggain lagi sama bokap gue," ucap Antariksa melirik kedua temannya bergantian. "Bokap lo gak tau, kalo nilai lo bagus, bukan karena hasil jerih payah lo sendiri?" tanya Mada menaikkan sebelah alisnya. "Nggak lah! Sampe kapan pun, gak bakalan tau!" jawab Antariksa. "Yang bokap gue liat, cuma nilai doang, gak pernah nanya macem-macem sama gue!" Tio dan Mada pun hanya manggut-manggut mengerti. ••••π•••• "Kamu kenapa bisa babak belur, kayak gini?" tanya Zara yang sedang mengobati luka Ares dengan kapas yang sudah ditetesi obat merah. Ares yang tengah menyantap nasi goreng pun, langsung menghentikannya. "Berantem," jawab Ares jujur. "Kamu kan udah janji sama Mama, gak akan buat masalah lagi. Tapi kenapa, kamu masih kayak gini?" tanya Zara sedikit dengan nada kecewa. "Ares cuma nolongin temen kok, Ma." "Benaran?" "Iya." Zara kemudian menaruh kapas bekas itu, di atas nakas. Ia menatap wajah Ares yang sangat pucat seperti itu. "Habis makan, kamu minum obat ya, Res?" Ares mengangguk. "Iya, Ma." "Biar Mama yang simpen," ucap Zara mengambil piring bekas Ares, lalu menyimpannya di atas nakas. Ares kemudian meminum obat yang Zara berikan dengan segelas air putih. "Ya udah, kamu istirahat, Mama mau keluar dulu," ucap Zara dan Ares hanya hanya menganggukkan kepalanya. Setelah itu, Zara pun pergi dari sana dengan membawa piring serta gelas bekas Ares. Ares langsung membaringkan tubuhnya dan menutupinya dengan selimut tebal. Apa mungkin ia besok harus pergi ke sekolah? Tubuhnya saja, terasa sakit dan lemas seperti ini. Ares mulai memejamkan matanya, lebih baik ia tidur saja, agar besok badannya kembali pulih. ••••π•••• Jihan menatap bangku di mana Ares duduk. Ia melihat bangku kosong itu. Kenapa cowok itu belum datang? Jihan mengangkat tangan kirinya dan sudah menunjukkan pukul tujuh lewat tiga puluh menit. Ke mana ya tuh cowok? Apa sakit? Jihan terus bertanya-tanya dalam hatinya. Entah kenapa, perasaannya jadi sedikit khawatir seperti ini. Tak biasanya Ares tidak sekolah. Jihan terperanjat kaget, saat punggungnya di tepuk. Ia kemudian membalikkan badan dan menadapati Ronald yang ternyata pelakunya. "Lo ngagetin tau gak," ujar Jihan lalu melangkah kan kakinya, dan duduk di bangkunya. Ronald tertawa pelan. Ia kemudian melingkarkan kedua tangannya di leher Jihan. "Han," panggilnya dengan sangat manja. "Apa?" sahut Jihan, sambil mengeluarkan buku tulis dari dalam tasnya. "Lo inget kan, kalo kita pacaran?" "Terus?" "Gue gak suka, lo temenan sama si b******k itu!" Jihan terdiam beberapa saat. Ia kemudian langsung melepaskan tangan Ronald yang melingkar di lehernya. Jihan menolehkan kepalanya, menatap Ronald. "Lo gak bisa ngelarang gue buat berteman sama Ares. Itu kan urusan, lo. Jadi jangan bawa-bawa gue dong?" "Ya tapi, gue gak suka lo temenan sama dia!" "Sorry Nald, gue gak bisa," ucap Jihan menolak. Ia saja, tidak pernah melarang Ronald untuk berteman dengan siapa pun. Ronald menatap Jihan sangat kesal. Sorot matanya memanas, dengan raut wajahnya yang terlihat sangat murka. "Pokoknya lo----" "Selamat pagi anak-anak." Suara seorang wanita dari arah pintu, membuat Ronald langsung menghentikan ucapannya. "PAGI BUU.... " sahut semua murid. "Sana duduk, di tempat lo," ucap Jihan mengusir Ronald agar segera pergi dari hadapannya. Ia sangat muak, jika harus berdebat dengan cowok itu. Ronald menggeram kesal, ia kemudian langsung duduk di tempatnya. Jihan sudah capek dengan hubungannya. Ia juga tau, jika Ronald selingkuh, namun pada saat itu Jihan tidak memfotonya, sehingga tidak mempunyai bukti untuk meminta putus dengan Ronald. Namun, Jihan akan mencari buktinya lalu memutuskan hubungannya dengan Ronald. Bahkan cowok itu, terlihat seperti tidak merasa bersalah sedikit pun. "Ibu akan absen terlebih dahulu," ucap wanita paruh baya, yang diketahui bernama Bu Ratna. Dia kemudian membuka buku absensi dan mulai mengabsennya. "Abel." "Hadir Bu!" "Angga." "Hadir Bu!" "Ronald." "Hadir!" "Arsan." "Hadir Bu!" "Jihan." "Hadir Bu." "Alvares." Mendadak semuanya langsung melirik bangku Ares yang kosong. "Alvares," ucap Bu Ratna lagi, karena tidak ada sahutan. Ronald melirik bangku Ares, ia menampilkan senyuman puasnya. Ia yakin, jika Ares sudah di keluarkan dari sekolah. "Sakit Bu!" jawab Jihan, membuat semua murid melirik ke arahnya. Bu Ratna menatap Jihan. "Kamu tau dari mana, Jihan?" tanya Bu Ratna. "Semalem, Ares ngasih tau saya, kalo dia sakit," ucap Jihan berbohong. Ia tidak ingin Ares mendapatkan teguran lagi. Bu Ratna kemudian mengangguk. "Ohh, baiklah." Ronald mengepalkan tangannya. Jadi, Jihan mempunyai nomor Ares? Sejak kapan mereka berdua saling tukar nomor seperti ini? ••••π•••• Sepulang sekolah, Jihan langsung menjatuhkan tubuhnya di kasur. Ia ingin menghubungi Ares. Jika masih di sekolah, ia tidak berani untuk menghubungi Ares, takut jika Ronald akan berbuat sesuatu pada Ares. Jihan menelpon Ares, panggilannya pun tersambung. Namun, Ares tak kunjung menjawabnya. "Jawab dong, Res!" kesal Jihan. Dan setelah menelponnya berkali-kali, akhirnya Ares pun menjawab panggilannya. "Hallo?" ucap Ares di sebrang sana. "Akhirnya lo angkat juga. Lo kenapa, gak sekolah?" "Bukan urusan lo." "Gue cuma mau nanya doang!" "Gue gak mau jawab." Jihan sangat kesal karena Ares malah menjawabnya seperti ini. "Lo harus berterima kasih gue!" "Buat apa?" "Ya karena gue, lo gak di bolosin!" "Oh." Jihan membulatkan kedua matanya, saat Ares hanya menjawabnya seperti itu. Ia menarik napas sambil mengelus dadanya. "Lo----" Jihan langsung menghentikan ucapannya, saat Ares terbatuk-batuk. Jihan langsung beranjak duduk. Raut wajahnya langsung berubah menjadi panik. "Res, lo sakit?!" "Mungkin." "Kok mungkin sih? Lo beneran, sakit?!" "Iya." "Karena apa? Apa gara-gara lo kemarin nolongin gue?" "Hm." "Masa gue yang tenggelem, lo yang sakit sih?!" "Menurut lo, gue gak ikut nyebur?" Jihan terdiam sejenak, lalu tertawa pelan. "Maaf. Cepet sembuh ya." "Hm." "Ya udah gue tutup." Setelah itu, Jihan pun langsung memutus panggilannya. Jihan kembali menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Ia menatap langit-langit kamarnya. Jadi Ares, beneran sakit? Terus, kalo dia sakit, apa ada yang ngurus? Ayahnya aja, gak peduli. batinnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN