Ares berdiri di depan cermin dengan memakai seragam abu-abunya. Hari ini, ia harus ke sekolah, ya walaupun kepalanya masih sangat pusing.
Ares memakai balutan jaket hitam, topi serta masker untuk pergi ke sekolah. Setelah itu, Ares langsung bergegas keluar menemui ayah dan ibunya.
Ares berjalan menuruni anak tangga dengan langkah yang sangat pelan, karena badannya yang masih terasa lemas. Sesekali ia memejamkan matanya, menahan rasa sakit di kepalanya.
"Ma, Pa," ucap Ares menghampiri kedua orangtuanya serta Antariksa yang tengah sarapan pagi di ruang makan.
Zara menoleh ke arah Ares. Ia beranjak dari duduknya dan berdiri di hadapan Ares. "Kamu masuk sekolah?"
Ares hanya menganggukkan kepalanya.
Zara menatap Ares sedikit khawatir, ia yakin jika Ares masih sakit dan belum pulih.
Zara melirik Iqbal yang tengah menyantap makanannya. "Iqbal, boleh ya Ares gak sekolah? Kasihan Iqbal, dia masih sakit," pinta Zara.
Iqbal hanya diam saja, seolah tidak mendengar ucapan Zara. Dia hanya sibuk menyantap makanannya.
"Sakit dari mana sih, Ma! Orang sehat kaya gitu!" ujar Antariksa menatap Ares.
Zara menatap Antariksa, lalu kembali menatap Iqbal, karena suaminya malah diam saja seperti itu. "Iqbal," panggilnya.
"Udah Ma, nggak apa-apa. Ares pamit ke sekolah dulu," ucap Ares mengulurkan tangannya di hadapan Zara.
Dengan ragu Zara pun mengulurkan tangannya untuk Ares. Semoga saja, tidak terjadi apa-apa nanti dengan Ares.
Setelah menyalimi tangan Zara, Ares pun mengulurkan tangannya di hadapan Iqbal.
Iqbal hanya mengulurkan tangannya saja, tanpa menoleh sedikit pun pada Ares.
"Assalamualaikum," ucap Ares dan langsung pergi dari sana.
"Waalaikumsalam," jawab Zara. Perasaanya sangat cemas, karena ia bisa melihat jika Ares masih lemas dan mata cowok itu yang masih terlihat sedikit sayup.
••••π••••
Ares berjalan menyusuri koridor dengan tangannya yang memegangi kepala. Sesekali ia memejamkan matanya agar bisa menghilangkan rasa sakitnya.
Sedangkan disisi lain, Jihan melihat Ares yang berjalan duluan di hadapannya. Perlahan senyumannya mengembang, saat melihat kehadiran cowok itu. Entah kenapa, Jihan sangat senang, karena Ares sudah masuk sekolah.
Kedua mata Jihan langsung melotot, saat melihat Ares yang akan jatuh. Dengan cepat, Jihan langsung berlari dan menahan tubuh Ares yang hampir jatuh ke lantai.
"Res, lo nggak apa-apa? Kalo lo, masih sakit mending nggak usah sekolah, Res," ucap Jihan menatap wajah Ares yang tampak pucat.
Tadi Ares memang melepas maskernya. Ia hanya akan menggunakannya jika di rumah saja.
Ares melepaskan tangan Jihan yang memegangi punggungnya. "Gue nggak apa-apa," ucapnya seraya menyingkirkan tangan Jihan, dan Ares pun kembali melanjutkan langkahnya.
Jihan berjalan bersisian dengan Ares. Ia menatap Ares sedikit kesal. "Tapi lo, masih sakit. Pasti bokap lo, maksa lo buat sekolah ya? Iya kan, Res?!"
Ares hanya diam saja tanpa peduli dengan ucapan Jihan. Kepalanya sudah sangat pusing, mendengar Jihan yang terus mengoceh, membuat rasa sakit yang menyerang kepalanya semakin bertambah.
"Bokap lo udah kelewatan banget sih! Dia gak liat, kalo lo masih sakit kayak gini?! Harusnya di---" Jihan langsung menghentikan ucapannya, saat Ares menolehkan wajahnya. Ia meneguk ludahnya susah payah, melihat tatapan cowok itu yang sangat menyeramkan.
"Bisa diem?" tanya Ares menatap Jihan, dengan sorot matanya yang sangat tajam.
"Gimana gue bisa diem?! Harusnya lo lawan aja bokap lo! Kenapa lo harus takut?!" ujar Jihan sangat emosi, dan tanpa rasa takut sedikit pun. Walau pada kenyataannya tubuhnya sedikit bergetar.
"Jangan berisik, kepala gue lagi pusing."
"Tap---" Omongan Jihan langsung terhenti karena Ares yang langsung membekap mulutnya.
Ares membekap mulut Jihan sambil melangkahkan kakinya, membuat Jihan terus berontak. Namun, ia tetap mengeratkan tangannya.
Ares s****n!!! kesal Jihan dalam hatinya sambil berusaha melepaskan tangan Ares dari mulutnya.
Sedangkan tanpa disadari, Ronald sedari tadi berdiri di belakang mereka. Tangan kanannya sudah mengepal, melihat Ares yang berani menyentuh Jihan seperti itu.
Jadi cowok itu tidak di keluarkan dari sekolah? Kenapa dia bisa dapat kesempatan lagi?
"Lo tunggu, balesan gue!" gumam Ronald dengan tatapan penuh dendam dan emosi yang menggebu-gebu.
••••π••••
Ares langsung melepaskan tangannya yang tengah membekap Jihan, saat sudah sampai di depan kelas XII IPS 3.
Jihan menatap Ares sangat kesal, ia sampai kesulitan bernapas gara-gara cowok itu! Jihan memasok oksigen sebanyak-banyaknya dan menormalkan napasnya yang terengah.
"Lo ngeselin banget sih! Gue sampe susah napas tau?! Kalo gue mati gimana hah?!" Jihan menatap Ares sangat marah.
Ares tidak mempedulikannya dan malah langsung masuk ke dalam kelas, meninggalkan Jihan yang sedang marah-marah di sana.
Jihan mengepalkan kedua tangannya, jika saja ia tidak takut pada Ares, mungkin ia akan meninju wajah Ares sekarang juga.
Ares menaruh tasnya di atas meja, lalu menjatuhkan wajahnya di sana. Bahkan perutnya saja masih kosong dan belum terisi.
Ares memegangi perutnya yang terasa perih. Saking takutnya dengan Iqbal, ia sampai lupa untuk mengisi perutnya.
Tempat duduk Jihan tidak jauh dari Ares, hanya terhalang satu bangku di sampingnya. Jihan menyipitkan matanya, ia melihat Ares yang sedang memegangi perutnya seperti itu.
Jihan membuka tas ranselnya, ia mengambil dua roti yang dibawanya. Untung saja, hari ini Jihan membawa double. Niatnya ingin dimakan sendiri, tapi ya sudahlah, lebih baik ia berikan saja pada Ares.
Jihan bangkit dari duduknya. Ia berjalan menghampiri Ares. "Buat lo." Jihan menyodorkan satu rotinya di hadapan Ares.
Ares mendongakkan kepalanya menatap Jihan. Ia kemudian menatap roti yang gadis itu sodorkan, lalu menggelengkan kepalanya. "Gak usah."
Jihan menghembuskan napas berat. "Gak perlu gengsi juga kali. Ya kalo lo laper, terima aja."
Ares menatap Jihan sedikit kesal. Dengan cepat, ia pun langsung meraih roti itu dari tangan Jihan.
Lebih baik ia terima saja daripada harus menahan lapar seperti ini. Mau jalan ke kantin pun, sangat lemas.
Jihan tertawa pelan, melihat Ares yang akhirnya menerimanya. Ia kemudian mengambil duduk di hadapan Ares.
Jihan membuka bungkus rotinya, ia menatap Ares yang sedang menikmati rotinya. "Emang ayah lo, sejahat itu ya?"
"Kenapa?" tanya Ares balik, seraya menikmati rotinya.
"Ya harusnya, dia gak maksa lo buat sekolah. Lo aja masih sakit kayak gini," ucap Jihan merasa kasihan dengan kehidupan Ares.
"Maksud Ayah gue baik, dia cuma gak mau gue jadi orang bego."
"Tapi ya----"
"Jaket gue, mana?" tanya Ares mengalihkan topik pembicaraan. Ia tidak mau Jihan terus membahas ayahnya.
"Jaket?" Jihan mengerutkan keningnya.
"Yang kemarin lo pinjem."
Jihan terdiam sejenak, ia kemudian langsung ingat. "Oh itu! Ada kok, gue lupa bawa."
"Besok, lo bawa," ucap Ares menunjuk wajah Jihan.
Jihan hanya menganggukkan kepalanya. Ia memakan rotinya dengan sangat kesal, ia kira Ares memberikan jaket itu untuknya.
Beberapa jam sudah berlalu, hingga kini jam istirahat tiba. Semua murid berlarian menuju kantin, untuk mengisi perut mereka yang sudah kelaparan.
Jihan membereskan semua buku-bukunya dan memasukannya ke dalam tas. Baru saja, ia ingin menghampiri Ares, namun sebuah tangan kekar menariknya dari belakang.
Jihan membalikkan badan dan mendapati Ronald yang berdiri di belakangnya. "Ke kantin bareng."
Jihan terdiam beberapa detik, ia kemudian melirik Ares, lalu kembali menatap Ronald. Lebih baik, ia kali ini menurut saja, daripada Ronald akan marah.
Jihan mengangguk, lalu mereka berdua pun pergi ke kantin bersama.
Ares menatap kepergian Jihan. Baru saja, ia ingin mengajak Jihan untuk menemaninya ke kantin, namun ia juga tidak bisa memaksanya, karena Ronald kan adalah pacarnya.
Saat Ares ingin pergi ke kantin, ia kembali mengurungkan niatnya saat ponselnya berdering tanda ada pesan masuk.
Ares melihat ibunya yang mengirimnya pesan.
Mama
Res, kamu gak papa kan? Mama khawatir sama kamu. Tadi juga, kamu lupa makan.
Ares tersenyum tipis, melihat ibunya yang sangat perhatian seperti ini. Kemudian, Ares pun membalasnya.
Anda
Ares gak papa, Ma. Mama gak usah khawatir.
Mama
Syukur deh, kalo gitu. Kalo kamu masih sakit, kamu izin aja sama kepala sekolah ya, terus kamu pulang. Papa gak akan tau kok.
Ares terdiam beberapa detik, ia tidak mau membohongi ayahnya. Walaupun memang rasa sakit masih menyerangnya, namun ia tidak mau jika harus membohongi ayahnya sendiri.
Anda
Ares gak papa, Ma. Ya udah kalo gitu, Ares mau ke kantin dulu ya.
Mama
Ya udah, sana kamu makan biar kenyang.
(Read)
Ares hanya membacanya, ia kemudian memasukkan ponselnya ke dalam saku dan bergegas menuju kantin.
••••π••••
Ronald menatap Jihan, ia melihat gadis itu yang daritadi mengacuhkannya. Semenjak Jihan dekat dengan Ares, dia jadi berubah seperti ini.
Ronald mengambil selembar tisu dan ingin membersihkan sisa makanan di sisi mulut Jihan, namun dengan cepat Jihan langsung menepisnya.
"Gue bisa sendiri!" Jihan merebut tisunya dari tangan Ronald, lalu membersihkan sisi mulutnya.
"Lo kenapa jadi kayak gini sih? Dulu lo, gak pernah nolak dengan apapun yang gue buat! Tapi, kenapa sekarang lo kayak gini?!" tanya Ronald dengan nada tinggi, sudah cukup Jihan selalu membangkangnya.
Jihan menatap Ronald. Sorot matanya langsung berubah, menjadi tajam. "Lo yang buat gue berubah!" ujar Jihan sangat emosi, dengan wajahnya yang sudah merah padam, menahan amarah.
"Gue? Salah gue apa?" tanya Ronald merasa bahwa dirinya tidak melakukan kesalahan.
Jihan bangkit berdiri. Ia menunjuk Ronald, dengan tatapan nyalangnya. "Lo pikir gue gak tau, dengan apa yang udah lo buat hah?!"
Ronald yang merasa di tunjuk seperti itu pun, langsung beranjak berdiri. "Maksud lo, apa Han?!" tanyanya sedikit emosi, seraya menepis tangan Jihan dari hadapannya.
"Lo selingkuhin gue Ronald! Dan gue liat lo cium Falen waktu di bar! Gue ada di sana! Tapi gue gak mau ngelabrak lo, karena pasti lo bakal ngelak iya kan?!" ujar Jihan memberitahu semua yang sudah dilihatnya.
Keributan itu, membuat seluruh murid yang ada di kantin langsung melihatnya dan memperhatikannya.
Ronald langsung terdiam dan memaku di tempat. Kenapa Jihan bisa tahu semuanya?
"Han, gue bisa jelasin, Han. Itu gak seperti apa yang lo liat," ucap Ronald ingin meraih tangan Jihan, namun Jihan menepisnya.
"Lo mau jelasin apalagi Nald?! Semuanya udah jelas! Dan sekarang gue udah capek ngejalanin hubungan ini sama lo!"
"Ma--maksud lo, a--apa Han?"
Jihan menghela napas panjang dan menghembuskannya. "Gue mau, kita putus!"
Ronald memelotot mendengarnya. Ia menggelengkan kepalanya. "Enggak Han, gue gak mau putus dari lo."
Jihan langsung pergi dari sana dengan air matanya yang sudah turun membasahi pipi. Ia tak mau semakin malu, karena diperhatikan oleh seluruh siswa di kantin.
"HAN!! JIHANNN!!!" teriak Ronald dengan sangat keras, namun Jihan tetap tak menghentikan langkahnya.
Ronald mengacak-acak rambutnya kesal. Ia tidak rela jika harus kehilangan Jihan!
"ARGHHHH, b*****t!!" Ronald langsung menendang bangku yang ada di sana, hingga membuat seluruh siswa yang ada di sana terkejut bukan main.
Jihan berlari secepat mungkin untuk menjauh dari sana. Sudah hampir tiga tahun ia menjalin hubungannya dengan Ronald, namun sekarang harus hancur seperti ini.
Bruk!
Jihan menabrak seseorang. Ia menatap wajah cowok itu sekilas, lalu melengos dan pergi dari sana.
"Jihan kenapa?" Ares menatap kepergian Jihan. Ia melihat Jihan yang menangis seperti itu.