9. Bantuan dan Imbalan

1436 Kata
Ares menatap kepergian Jihan yang semakin menjauh. Ada apa sebenarnya? Kenapa gadis itu menangis? Bukannya tadi, Jihan pergi dengan Ronald? Apa Ronald, yang membuat gadis itu menangis? Ares mengedikan bahunya, seraya menggelengkan kepalanya. Ia tidak tau apa yang sudah terjadi pada Jihan. Daripada terus menebaknya seperti ini, lebih baik ia tanyakan langsung pada Jihan. ••••π•••• Jihan menjatuhkan tubuhnya di atas rerumputan. Dia meremas kepalanya dengan sangat kuat dan air mata yang terus keluar, membasahi pipi. Jihan kira Ronald adalah cowok baik, walau terkadang dia kasar. Ia sengaja tidak ingin langsung melabrak Ronald pada waktu itu, agar dia bisa mengakui kesalahannya dan meminta maaf. Tapi, apa? Dia malah seolah-olah tidak merasa bersalah sedikit pun. Sekian lama menjalin hubungan, namun harus hancur seperti ini. Jihan menghentikan tangisannya, perlahan kepalanya terangkat, saat bayangan seseorang berdiri di hadapannya, menghalangi sinar matahari yang menyorot wajahnya. Cowok itu menjongkokkan tubuhnya di hadapan Jihan. "Lo kenapa?" Jihan menatap Ares, ia hanya diam saja seraya mengigit bibir bawahnya, menahan isakan yang akan keluar. Ares memajukan tubuhnya dan duduk di samping Jihan, ia meraih kepala Jihan dan menaruh di bahunya. Jihan menangis di bahu Ares, menumpahkan semua rasa kesal, sedih yang sudah tercampur menjadi satu. Ares pun membiarkan Jihan menangis, ia mengelus rambut Jihan. Sekarang bukan waktunya untuk bertanya, jika Jihan sudah merasa lebih baik, maka ia baru bertanya, apa yang sudah terjadi? Setelah lumayan lama, Jihan menangis. Ares rasa sekarang waktu yang tepat untuk meminta gadis itu, agar menjelaskan semuanya. "Kenapa nangis?" tanya Ares, mulai membuka suara, dengan nada suaranya yang terdengar sangat lembut. Jihan langsung mengangkat kepalanya. Ia menghapus air matanya, lalu menolehkan wajahnya menatap Ares. "Gue putus sama Ronald." Ares terkejut mendengarnya. Kedua matanya mengerjapkan bersamaan. "Putus?!" kagetnya. Jihan hanya mengangguk pelan. Ares menjadi terdiam, kenapa mereka bisa putus? Bukankah, tadi baik-baik saja? Apa mungkin karena dirinya? Ares menatap wajah Jihan. Melihat wajah gadis itu yang sudah sembab. "Lo jauhin gue, Han. Lo gak usah berteman lagi sama gue." Jihan mengerutkan keningnya. Ia menatap Ares, dengan bingung. "Kenapa? Kenapa gue, harus jauhin lo?" "Gue gak mau, lo putus cuma gara-gara gue. Ronald kan, ngelarang lo buat berteman sama gue. Lebih baik, lo nurut aja dan jauhin gue." Jihan terdiam beberapa detik. Ia menatap wajah Ares dengan tatapan yang sulit diartikan. Jihan menggelengkan kepalanya pelan. "Bukan salah lo. Nggak ada hubungannya sama sekali sama lo. Jadi, lo jangan merasa bersalah, Res." Ares terdiam. Terus, jika bukan karena dirinya, apa yang membuat mereka berdua putus? Jihan memegang kedua bahu Ares. Ia menatap Ares dengan senyuman manisnya. "Lo gak usah, merasa bersalah sedikit pun. Gue akan tetap menjadi temen lo." ••••π•••• Ronald langsung beranjak berdiri saat melihat Jihan dan Ares yang masuk ke dalam kelas, berengan seperti itu. Cowok itu berjalan menghampiri Ares dengan kedua matanya yang memancarkan kemarahan. "Lo berani, ngerebut Jihan dari gue?!" Ronald mencengkram kerah baju Ares dengan sangat kasar. Jihan yang melihat itu pun, langsung melepaskan tangan Ronald yang mencengkram Ares. "Lo apa-apaan sih, Ronald?!" ujarnya sangat emosi. "Gue gak suka, dia terus ngedeketin lo, Han!" ujar Ronald mendorong tubuh Ares sangat kasar. "Lo gak ada hak, buat ngelarang gue! Sekarang kita ini udah putus, jadi lo jangan pernah ikut campur dalam hidup gue!" peringat Jihan penuh penekanan. Jihan menarik tangan Ares, lalu menabrak tubuh Ronald begitu saja. Ronald sedikit terhuyung ke belakang, karena Jihan yang menabraknya. Perlahan, kedua tangannya mulai mengepal, hingga menampakkan urat-urat lengannya yang tercetak jelas. Cowok itu, menatap Ares dengan penuh dendam. Ronald langsung pergi keluar kelas, dan menendang pintu dengan sangat keras, membuat seisi kelas terperanjat kaget. Ares melepaskan tangan Jihan yang menggenggam tangannya. Ia tidak mau, mereka mikir bahwa dirinya yang menjadi alasan Jihan dan Ronald putus. Bagaimana pun, Ares tak mau ikut campur dalam urusan kisah percintaan mereka berdua. Apalagi dirinya yang dituduh macam-macam. Ares mengambil duduk di tempatnya. Begitupun Jihan yang duduk di samping Ares. "Maafin atas sikap Ronald ya, Res," ucap Jihan merasa tidak enak, karena Ares jadi sasarannya. Ares hanya menganggukkan kepalanya. Ia kemudian menenggelamkan wajahnya di atas lipatan tangan. Mereka berdua menjadi saling diam dan membisu, tidak ada percakapan yang memulai. "Lo sama adik lo, kenapa beda sekolah?" tanya Jihan memecah keheningan. "Dia yang gak mau satu sekolah sama gue," jawab Ares tanpa menoleh pada Jihan. "Kenapa?" Ares mengedikkan bahunya, menandakan bahwa dirinya pun tidak tau. "Apa adik lo, nakal kayak lo?" Ares mengangkat kepalanya. Ia menatap Jihan, lalu menghela napas. "Sedikit, tapi dia pinter, makanya bokap gue, selalu banggain dia. Nggak kayak gue, yang selalu di hina, karena gue bego." Jihan terdiam dengan ucapan Ares. Ia menatap Ares dengan tatapan yang sulit diartikan. "Lo mau buktiin, sama bokap lo?" Ares mengerutkan keningnya. Ia menatap Jihan tak mengerti. "Maksud lo?" Jihan tersenyum simpul. Ia mendekatkan wajahnya dengan Ares. "Lo harus buktiin ke bokap lo, kalo lo juga bisa kayak adik lo. Dengan begitu, mungkin lo bisa di perlakukan dengan adil sama bokap lo." "Caranya?" tanya Ares dengan wajah yang sangat penasaran. "Gue bakalan ngajarin lo, sampe pinter dan bisa dapet peringkat kelas." Ares terdiam beberapa saat. Ia berdecih, lalu berkata, "Lo bercanda?" "Kok bercanda sih? Ya serius lah!" balas Jihan merasa kesal. Ia cuma ingin membuat hidup Ares sedikit berwarna. Ares menatap Jihan. Ia masih tidak percaya, jika Jihan ingin mengejarinya. "Beneran?" tanyanya memastikan. Jihan mengangguk cepat. Ares tersenyum merekah. Ia meraih kedua tangan Jihan. "Makasih ya, Han." "Sama-sama. Tapi, ada syaratnya," ucap Jihan membuat Ares langsung melepaskan tangannya. "Apa? Jangan yang aneh-aneh." Ares menatap Jihan sebal, ia kira gadis itu tulus menolongnya. "Sebagai imbalannya, lo harus teraktir gue tiap hari, gimana?" tanya Jihan mengajukan syaratnya. Ares sangat kesal, dengan permintaan Jihan. Namun, demi bisa membuktikan kepada ayahnya, jadi tak apalah. Dengan terpaksa Ares pun kemudian mengangguk. "Oke." Jihan tersenyum puas, ia mengulurkan tangannya di hadapan Ares. "Deal?" Ares menjabat tangan Jihan. "Deal." ••••π•••• Zara melirik jam dinding, yang sudah menunjukkan pukul lima sore. Kenapa Ares belum pulang juga? Padahal pulang sekolah jam setengah tiga sore. Apa terjadi sesuatu dengan Ares? Mendadak, perasaannya jadi tak tenang seperti ini. Ia takut Ares pingsan di jalan, atau jatuh dari motor, karena badan cowok itu yang masih lemas. Antariksa yang sedang bermain ponsel di ruang tamu jadi merasa jengah, melihat ibunya yang terus mundar-mandir seperti setrikaan. "Mama bisa diem gak sih? Anta pusing, tau liatnya!" ujar Antariksa, membuat Zara menoleh padanya. Zara berjalan menghampiri Antariksa. "Anta, kok Kakak kamu, belum pulang ya?" "Yaelah Ma, jadi cuma gara-gara Kak Ares?" Antariksa memasukkan ponselnya. Ia bangkit berdiri. "Udah gede juga, ngapain sih pake di khawatirin?" "Masalahnya, Kakak kamu lagi sakit. Mama cuma takut, dia kenapa-kenapa." Antariksa membuang napas berat. Baru saja ia ingin pergi dari sana, namun Zara langsung menghadangnya. "Anta, kamu cariin Kakak kamu di sekolah ya? Mama mohon," pinta Zara pada anaknya. "Apaan sih, Ma! Gak mau!" Antariksa ingin pergi, namun lagi dan lagi Zara menghadangnya. "Mama mohon, Anta." "Anta bilang gak mau, ya gak mau! Mama denger gak sih?!" Antariksa langsung menabrak Zara begitu saja. Zara menatap kepergian Antariksa. Ia jadi cemas sendiri. Berkali-kali ia menelpon Ares. Namun, nomor Ares selalu tidak aktif. ••••π•••• "Biar makin semangat belajarnya," ucap Elin, ibu Jihan yang tengah menyimpan beberapa cemilan di hadapan Jihan dan Ares yang tengah belajar. "Nggak usah ngerepotin Tante," ucap Ares merasa tidak enak. "Nggak ngerepotin kok. Ya udah, kalian lanjutin lagi belajarnya." Elin lalu pergi meninggalkan mereka berdua. "Jadi yang ini gimana?" tanya Ares melanjutkan belajarnya. Kali ini, ia awali dengan memahami pelajaran matematika. "Bentar, gue minum dulu." Jihan meraih segelas minuman lalu meneguknya. Setelah itu, ia kembali mengajari Ares tentang Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel (SVLTV). "Jadi ini kan contoh soalnya, x-3y+2z=8.... (I), jadi hal pertama untuk mencari jawabannya adalah dengan...." Jihan terus menjelaskan semuanya pada Ares sampai detail. Ares pun fokus mendengarkannya. Ia memahami soal yang tengah dibahasnya, namun atensinya tercekat saat melihat sesuatu di wajah Jihan. "Nah, udah selesai. Ngerti gak?" ucap Jihan saat sudah menjelaskan semuanya pada Ares. Jihan menjadi terdiam, karena Ares menatap wajahnya seperti itu. "Lo ngedengerin, gue gak sih?" tanya Jihan, berhasil membuat Ares tersadar. "Hah?" Sontak Ares langsung sadar. Ia melirik bukunya, lalu mengangguk. "Ngerti kok." "Lo kenapa, ngeliatin gue terus?" tanya Jihan. "Gue cantik ya?" ucapnya sangat narsis dengan kedua alisnya yang naik-turun. Ares menatap Jihan cengo, lalu berkata. "Pipi lo." Ares menunjuk pipi Jihan. "Pipi gue, kenapa?" tanya Jihan memegangi pipinya. Ares mengambil cermin kecil yang ada di hadapannya, lalu mengarahkannya pada Jihan. Jihan melotot bukan main, melihat pipinya yang terkena cokelat. Bahkan wajahnya sudah malu, karena Ares mentertawakannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN